Latif mengatakan, masyarakat jangan mudah tersulut dan bereaksi ketika ada sesuatu yang viral. Agar menjadi warga net yang sopan, masyarakat harus paham tipe media sosial, harus memiliki pelindung anti hoax dan beretika saat berinteraksi.
Jika dilihat dari faktor sosial Sosiolog Universitas Indonesia, Devie Rahmawati menjelaskan, ada budaya digital yang kini menjangkiti masyarakat sebuah budaya baru yang bertolak belakang dengan budaya yang selama ini ada di kehidupan sehari-hari.
Baca Juga : Transformasi Digital dan Culture Mengantarkan BRI Raih 7 Penghargaan dalam Sepekan
Karakteristik masyarakat di era digital, mereka muda namun bangkrut. Sebab, kita hidup di era di mana attention culture menjadi budaya masyarakat, semua orang mencari perhatian. Akibatnya banyak yang iri melihat ada orang liburan dan lainnya.
“Akibatnya, mereka menjadi tidak mampu mengelola keuangannya dengan baik, yang terjadi generasi muda tapi sudah banyak terlilit hutang dan sebagainya demi memenuhi gaya hidup,” jelasnya. [*]
TANGERANG, WARTAEVENT.com — Tren kerja fleksibel kembali menguat setelah pemerintah menetapkan kebijakan Work from Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Neegara… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — House of Tugu Jakarta menghadirkan pengalaman Paskah bertajuk Springtime Easter Feast, menggabungkan sajian kuliner, suasana intim, dan… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — DANA Indonesia bersama Ant International Foundation kembali menghadirkan program SisBerdaya dan DisBerdaya 2026, inisiatif pemberdayaan UMKM perempuan… Read More
BOGOR, WARTAEVENT.com – Pagi itu kami meninggalkan Jakarta tanpa rencana besar, hanya kompas kecil bernama "Petualangan Dekat Rumah". Satu jam… Read More
SINGAPURA, WARTAEVENT.com – Las Vegas Sands menunjuk Woh Hup (Private) Limited sebagai kontraktor utama proyek pengembangan ultra-mewah terbaru di Singapura,… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar menerima audiensi Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia bersama Acaraki dan pelaku industri… Read More
Leave a Comment