Menpar Arief Yahya: Pariwisata Indonesia Sumbang Suksesi Pembangunan Nasional Menpar Arief Yahya: Pariwisata Indonesia Sumbang Suksesi Pembangunan Nasional
Warta Event – Jakarta. Sejak Presiden Joko Widodo menetapkan pariwisata sebagai sektor unggulan pembangunan nasional, dunia pariwisata Indonesia menjadi salah satu sektor ekonomi yang... Menpar Arief Yahya: Pariwisata Indonesia Sumbang Suksesi Pembangunan Nasional

Warta Event – Jakarta. Sejak Presiden Joko Widodo menetapkan pariwisata sebagai sektor unggulan pembangunan nasional, dunia pariwisata Indonesia menjadi salah satu sektor ekonomi yang terbesar dan tercepat pertumbuhannya.

Bahkan pariwisata dijadikan core economy bagi negara ini ke depannya. Pasalnya, pariwisata merupakan komoditas yang paling berkelanjutan dan menyentuh hingga ke level bawah masyarakat.

Setiap tahunnya, performa pariwisata Indonesia menanjak saat beberapa komoditas lainnya, seperti minyak, gas, batu bara, serta kelapa sawit terus merosot. Dalam kurun waktu tiga tahun, Menteri Pariwisata Arief Yahya mampu menyulap pariwisata Indonesia menjadi lebih cantik dan menarik. From nothing to something. Walhasil, destinasi pariwisata Indonesia menjadi magnet bagi para wisatawan mancanegara.

Melalui branding Wonderful Indonesia, peringkat pariwisata Indonesia di dunia meningkat ke peringkat 50 pada 2015. Sebelumnya, di peringkat 70 dari 141 negara pada 2013. Bahkan, berdasarkan laporan resmi World Economic Forum, Indonesia berhasil melejit delapan peringkat hingga ke peringkat 42 pada 6 April 2017.

“Target saya, Indonesia akan mampu mencapai ranking 20 sebelum 2019 dan bertekad pariwisata akan menjadi penghasil devisa negara terbesar sekaligus menjadi destinasi pariwisata terbaik di tingkat regional serta global,” ungkap Arief Yahya optimis.

image

Sektor pariwisata diproyeksikan mampu menyumbang produk domestik bruto sebesar 15 persen, Rp 280 triliun untuk devisa negara, 20 juta kunjungan wisatwan mancanegara, 275 juta perjalanan wisatawan nusantara dan menyerap 13 juta tenaga kerja pada 2019.

Lebih jauh, sektor pariwisata diyakini mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih tersebar di seluruh negeri ini. Diharapkan pula mampu memutus rantai kemiskinan, pengangguran, juga kesenjangan dengan cepat dan tepat.

Penerima Indonesia Marketing Association (IMA) Excellence Award for Tourism Marketing, karena Arief Yahya dinilai telah memberikan sumbangsih besar dan bermanfaat di bidang marketing khususnya di dalam industri pariwisata.

Pada 2016 melalui branding Wonderfull Indonesia telah meraih 46 penghargaan dari 22 negara penyelenggara. Bahkan, Pavilion Wonderful Indonesia sukses mempertahankan gelar The Best Exhibition 2017. Tercatat pada semester satu 2017, parwisata Indonesia telah meraih 17 penghargaan.

“Penghargaan tersebut menandakan bahwa Indonesia memiliki potensi pariwisata yang sudah diakui banyak negara, sebagai tempat berlibur yang aman dan nyaman. Hal ini pun mempengaruhi pula pertumbuhan pariwisata di semester satu 2017 sebesar 22,4%. Saat ini pesaing bukan lagi Malaysia, Singapura, atau Thailand, yang pertumbuhannya masih di bawah 5 persen,” ungkap Menpar Arief Yahya.

image

Pesaing yang paling mendekati adalah Vietnam yang menjadi investor darling. Berdasarkan laporan Telegraph.co.uk, hanya Indonesia dan Vietnam yang mewakili ASEAN dengan pertumbuhan hingga 25 persen dan masuk kategori Top-20 Fastest Growing Travel Destinations in the World.

Pada kancah internasional, destinasi wisata tanah air telah meraih sejumlah penghargaan. Misalnya, Bali yang selama ini menjadi ikon pariwisisata dunia, terpilih sebagai destinasi pariwisata terbaik dunia versi Trip Advisor, mengalahkan London yang berada di peringkat kedua dan Paris di peringkat ketiga.

Dari sektor keamanan Indonesia sudah dinilai baik, tetapi mengapa pertumbuhan pariwisata di Indonesia masih kalah dengan negeri tetangga? Diketahui Indonesia di tahun 2015, performance dalam menarik wisman hanya 10 juta.

Sedangkan Singapura 15 juta, Malaysia 25 juta, dan Thailand 30 juta. Nah, bagaimana bangsa yang besar dengan kekayaan alam dan budaya ini, bisa kalah dengan negara lain. Rahasianya adalah persaingan sekarang itu bukannya yang besar makan yang kecil, tapi yang cepat makan yang lambat.

“Kita harus intropeksi, bahwa kita tidak cukup cepat didalam persaingan ini. Oleh karenanya, kita bertekad tahun 2019 pariwisata akan menjadi penghasil di visa yang terbesar, sekaligus menjadi yang terbaik di regional maupun yang global. Kecepatan menjadi faktor yang sangat penting untuk memenangkan persaingan saat ini,” pungkasnya. [*]

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *