Categories: News

Sering Main Medsos Bisa Sebabkan Kecanduan

WARTAEVENT.COM, Kab. Blitar – Media sosial atau medsos mempermudah banyak kehidupan manusia. Mulai dari komunikasi dengan keluarga atau teman di berbagai belahan dunia, hingga mempermudah menjalankan bisnis. Namun, penggunaan media sosial secara berlebihan bisa menyebabkan kecanduan.

Hendri Prastiyono, Koordinator Guru Penggerak YPM, mengungkapkan, ada berbagai alasan kenapa banyak orang yang bermain media sosial. Mulai dari mempermudah silaturahim dengan orang yang dicintai, menonton video, melihat gambar, atau sekadar menghabiskan waktu untuk menggali informasi atau menekuni hobi.

“Meski memberikan banyak manfaat, penggunaan medsos setiap hari juga bisa memberikan dampak negatif, contohnya adalah kecanduan. Kecanduannya ini seperti jenis kecanduan obat-obatan terlarang, menggunakan berbagai aplikasi terkini dapat memengaruhi otak, sehingga menggunakannya secara kompulsif dan berlebihan. Kebiasaan ini bisa mengganggu aktivitas harian, karena Anda terus menyibukkan diri untuk bermain media sosial,” ujar Hendri, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Rabu (1/9/2021).

Lanjutnya, bermain media sosial favorit bisa merangsang produksi dopamin di otak meningkat. Dopamin sendiri adalah hormon yang berkaitan dengan rasa senang.

“Ketika tubuh merespons lebih banyak dopamin, otomatis otak Anda akan menganggap bahwa aktivitas bermain medsos adalah kegiatan yang bermanfaat dan perlu diulangi,” ujarnya.

Ia menambahkan, perasaan positif yang dialami dalam menggunakan media sosial hanya bersifat sementara. Jika terus mengulanginya, tentu bisa memicu ketagihan. Hal inilah yang bisa membuat seseorang jadi kecanduan dengan media sosial.

Berikut ini tanda-tanda telah kecanduan media social, seperti:

  • Bangun tidur, cek medsos

Hampir setiap pecandu media sosial akan memulai rutinitas sehari-hari mereka dengan mengecek ponsel untuk melihat apa saja yang terlewatkan di Facebook, Twitter, Instagram selama pulas tidur malam. Ponsel juga menjadi hal terakhir dimatikan sebelum tidur. Bahkan, membuat jam tidur terganggu karena terus ketagihan berselancar di media sosial.

  • Online di mana pun dan kapan pun

Tanda kecanduan media sosial lain yang perlu diperhatikan adalah selalu online di mana pun dan kapan pun. Bukan hanya sedang berlibur, saat menyebrang jalan atau berada di dalam toilet sekalipun, selalu terhubung ke media sosial.

  • Terdorong mengunggah selfie dan status demi mengundang likes

Tekanan besar untuk memastikan mendapatkan foto yang sempurna untuk diunggah di Instagram adalah sesuatu yang umumnya dialami oleh orang yang kecanduan sosial media. Pengidap kecanduan ini ingin membuat iri hati para followers-nya, sehingga harus mengunggah gambar yang sempurna tanpa cela. Prosesnya bisa merepotkan dan menjengkelkan.

  • Tidak ada internet, hidup jadi nelangsa

Sesekali hal buruk bisa terjadi, contohnya ketika berada di situasi yang tidak ada internet/WiFi. Perasaan cemas dan gelisah akan menggeluti karena merasa tidak mampu menelusuri timeline demi mencari tahu aktivitas dan status dari teman-teman dan keluarga.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Rabu (1/9/2021) juga menghadirkan pembicara, Andi Nurul Astrid Kaulika Yaiolang (Digital Creator), Zacky Badrudin (Founder Visquares Digital Event Platform), Ari B. Wibowo (Praktisi Digital Marketing Communication), dan Deya Oktarissa sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

redaksi wartaevent

Leave a Comment

Recent Posts

ArtScience Museum Eksplorasi Tubuh Lewat Seni dan Sains

SINGAPURA, WARTAEVENT.com — ArtScience Museum menghadirkan pameran Flesh and Bones: The Art of Anatomy, sebuah eksplorasi lintas disiplin yang mengulas… Read More

17 hours ago

Toast Box Ekspansi ke Batam Usung Konsep Kopitiam Modern

BATAM, WARTAEVENT.com — Restoran asal Singapura, Toast Box, memperluas kehadirannya di Indonesia dengan membuka gerai pertama di Batam, Kepulauan Riau.… Read More

20 hours ago

Maskapai Ini Hadirkan Siaran Langsung Piala Dunia di Pesawat

SINGAPURA, WARTAEVENT.com — Maskapai Singapore Airlines (SIA) menghadirkan pengalaman hiburan berbeda bagi penumpang dengan menayangkan pertandingan FIFA World Cup 2026… Read More

1 day ago

Aston Kemayoran Tawarkan Staycation Fleksibel dengan Konsep 24 Jam

JAKARTA, WARTAEVENT.com — Tren staycation di Jakarta kian mengarah pada kebutuhan fleksibilitas waktu dan kenyamanan. Menjawab perubahan ini, Aston Kemayoran… Read More

1 day ago

ARTOTEL Cibubur Hadirkan Dining Berkelanjutan Berbasis Plant-Based Lifestyle

CIBUBUR, WARTAEVENT.com – ARTOTEL Living World Kota Wisata – Cibubur mulai mengintegrasikan konsep dining berkelanjutan melalui inisiatif Rebellious Hunger yang… Read More

1 day ago

Kolaborasi Sponsor di Pestapora 2025: Catatan bagi Ekosistem Festival Musik

JAKARTA, WARTAEVENT.com – Festival musik identik dengan suasana meriah—ribuan penonton berkumpul, panggung megah berdiri, dan musisi tampil silih berganti. Namun… Read More

1 day ago