Categories: Event

72 Perupa Art for Refuge di Pameran “Berdiam/Bertandang”

Wartaevent, Jakarta- Berdasarkan laporan dari UNHCR pada Juni 2018, terdapat 68,5 juta jiwa di seluruh dunia yang terpaksa harus meninggalkan tanah tempat tinggalnya, di mana 25,4 juta orang di antara mereka berstatus sebagai refugee. Ironisnya, lebih dari separuhnya berada di bawah usia 18 tahun. Indonesia sendiri, kini menjadi negara ‘transit’ bagi para pengungsi dan hingga Desember 2017, tercatat jumlah refugee dan pencari suaka mencapai 13.480.

 

 

Setelah para refugee terdaftar secara resmi di kantor UNCHR setempat, butuh waktu yang cukup lama bagi mereka untuk dapat direlokasi ke negara tujuan. Selama di Indonesia, mereka tinggal dalam fase limbo, karena akses untuk bekerja dan mengemban pendidikan yang sangat terbatas.

Dalam menanggapi situasi ini, Art For Refuge, sebuah inisiatif sosial yang dipelopori oleh Katrina Wardhana, percaya bahwa seni dapat menjadi sebuah media untuk para refugee di Indonesia berbagi kisah dan cerita yang inspiratif.

Melalui seni mereka bisa memperoleh kenyamanan yang dimiliki oleh orang lain ketika berada di rumah dan dikelilingi oleh keluarga tercinta. Indonesia mungkin bukan negara asal atau rumah permanen mereka, tetapi mereka layak merasa aman dan diberi penyambutan yang hangat saat mereka hidup dan tinggal di sini.

Untuk mengapresiasi talenta-talenta yang dimiliki refugee, serta usaha untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap isu ini, Art for Refuge berkolaborasi dengan Alia Swastika sebagai kurator dalam menyelenggarakan Pameran “Berdiam/Bertandang” pada 20–27 September 2018 di Gedung B Galeri Nasional Indonesia.

Pameran yang didukung Galeri Nasional Indonesia–Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kawula Madani Foundation, UNHCR, dan Roshan Learning Center ini adalah sebuah presentasi dari aktivitas seni yang melibatkan beberapa seniman dan para siswa dari sekolah refugee, Roshan Learning Center, di Jakarta.

Katrina Wardhana, bersama dengan fotografer Chris Bunjamin aktif berbagi ilmu dan bakat yang mereka miliki dalam kelas seni lukis dan fotografi untuk para siswa Roshan. Pada narasi-narasi yang muncul, gambaran kehidupan para refugee dari berbagai negara yang kemudian bergulat di Jakarta, mencoba merealisasikannya dengan situasi ruang yang baru.

Bagaimana lanskap dan konteks sosial politik dalam tempat baru membangun cara pandang baru, dan pada tempat yang sama, ingatan-ingatan atas tempat-tempat pelarian sebelumnya, serta sebuah bayangan atas apa yang mereka kenang sebagai “rumah”. Citra-Citra visual yang mereka gambarkan menjauh dari klise tentang kehidupan refugee yang biasanya kita dapati di media massa, dan karenanya membawa kita pada gambaran kehidupan yang lain atas Jakarta.

Konsep penting dalam gagasan artistik pameran ini adalah displacement: sebuah diskontinuitas atas narasi dan ruang. Dalam proses diskusi dengan para seniman, pembacaan yang tak lazim atas ruang ini juga akan mendorong lahirnya imajinasi yang baru atas sebuah tempat dan waktu, yang bisa berpindah dan dipertukarkan. Narasi tentang keluarga-keluarga yang saling terpisah, persahabatan baru yang terbentuk dalam ruang baru, perasaan dekat atas sebuah kota seperti Jakarta, semua berbaur menjadi cerita yang puitik dalam ruangan kelas Roshan yang dihadirkan di sini.

Ruang belajar bukan sekedar tempat untuk duduk dan mendengarkan para guru, lebih dari itu adalah sebuah ruang tentang harapan baru yang dipupuk dan disemai ulang. Selain menampilkan karya-karya dari para siswa Roshan dan beberapa komunitas refugee, Berdiam/Bertandang juga memamerkan karya-karya dua seniman yang menjadi pengajar di Roshan, yaitu Katrina Wardhana dan Chris Bunjamin, serta beberapa seniman Indonesia dan seniman Afghanistan yang sudah cukup lama menghabiskan waktunya di Indonesia.

Para seniman tersebut adalah Mella Jaarsma, kelompok sambung hambar, Mes 56, Amin Taasha dan Mumtaz. Secara keseluruhan, sebanyak 72 karya lukisan dan fotografi hasil olah artistik 27 seniman akan mengantarkan pengunjung untuk memahami kehidupan refuge.

Teguh S Gembur

Leave a Comment

Recent Posts

Janévalla Bandung Tawarkan Pengalaman Menginap Lewat 24 Jam

BANDUNG, WARTAEVENT.com — Pengalaman menginap di hotel tidak selalu harus mengikuti ritme perjalanan yang serba cepat. Janévalla Bandung menawarkan pendekatan… Read More

13 hours ago

Hari Batik Nasional Dirayakan Lewat Workshop Kreatif di Cikini

JAKARTA, WARTAEVENT.com — Merayakan batik tidak selalu harus melalui busana. Di Novotel Jakarta Cikini, peringatan Hari Batik Nasional tahun ini… Read More

1 day ago

Immanence Hadirkan Refleksi Ekologi Yahya Rifandaru di Cibubur

CIBUBUR, WARTAEVENT.com — Seni kontemporer kembali hadir di ruang publik Cibubur melalui Immanence, pameran tunggal seniman Yahya Rifandaru di ARTOTEL… Read More

2 days ago

772 Buyer Bertemu 112 Seller Hadir di TTC Travel Mart Jakarta, Makassar Menggoda Pasar Luar Negeri

JAKARTA, WARTAEVENT.com — Bursa pariwisata internasional  TTC Travel Mart yang diselenggarakan oleh TTC Indonesia tahun ini kembali diselenggarakan. Kota Jakarta,… Read More

2 days ago

Batik On Court Padukan Budaya dan Tren Olahraga Padel

SENTUL, WARTAEVENT.com — Batik tidak lagi terbatas pada busana formal. Di Sentul City, warisan budaya Indonesia tersebut hadir dalam aktivitas… Read More

4 days ago

Kids Batik Fashion Show Kenalkan Batik Lewat Kreativitas Anak

SENTUL, WARTAEVENT.com — Pengenalan batik kepada generasi muda tidak selalu harus berlangsung dalam ruang belajar formal. The Alana Hotel Sentul… Read More

4 days ago