WARTAEVENT.com – Pangkep. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada hari Rabu (08/11/2021) di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Kolaborasi ketiga lembaga pada acara kali ini, tema yang diangkat adalah “Candu Medsos, Hati-hati Stres Gara-gara Media Sosial”. Dan diikuti oleh 791 peserta dari berbagai kalangan masyarakat.
Ada 4 narasumber pada sesi sesi webinar siang ini, di antaranya Fasilitator Gapura Digital by Google, Zulkarnaim Masyur; Penyiar Radio dan Duta Bahasa Provinsi Gorontalo, Elia Nusantari Damopolli; Pendiri Language Learning Center Tentena (English Course), Adisthia Nathalini Sigilipu; serta Dosen dan Peneliti Binus University, Sari Ramadanty.
Zulkarnaim sebagai pemateri pertama, membawakan materi kecakapan digital bertema “Informasi, Identitas dan Jejak Digital dalam Media Sosial”. Menurutnya, jejak digital penting untuk dikelola agar mencerminkan citra diri positif dan terhindar dari bahaya pencurian identitas, buruknya reputasi personal, pencemaran nama baik, maupun peretasan akses data pribadi.
“Jejak digital memang bias antara batas privasi dan pribadi. Namun yang pasti, jejak digital bisa jadi lebih representatif dari CV,” ujarnya.
Pemateri kedua Elia, mengurai bahasan “Bebas namun Terbatas: Berekspresi di Media Sosial”. Ia mengatakan, kebebasan berpendapat penting dipahami baik oleh penyampai maupun penerima pendapat agar tak merugikan orang lain atau terjerat hukum.
“Jaga etika di media sosial dengan mengikuti akun-akun yang positif, bijak mengunggah konten yang baik, menjauhi akun-akun negatif, serta berhenti menggali hal-hal yang tidak penting,” tegasnya.
Selanjutnya pemateri ketiga, Adisthia membawakan tema budaya digital tentang “Media Sosial: Sarana Meningkatkan Demokrasi dan Toleransi”. Menurut dia, kebebasan dan tanggung jawab dalam bermedia sosial harus seimbang. Karenanya, bagikanlah konten-konten positif yang inspiratif, edukatif, informatif, dan menghibur.
Bangun pula toleransi di media sosial sejak dari lingkup keluarga dan sekolah. “Media sosial bisa berperan dalam meningkatkan toleransi karena dapat dipenuhi oleh konten positif, teladan dari pemengaruh, dan narasi tandingan terhadap unggahan intoleran,” paparnya.
Adapun Sari, sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema keamanan digital mengenai “Fitur Keamanan pada Aplikasi Media Sosial”. Ia mengatakan, agar aman bermedia sosial, perhatikanlah manajemen kata sandi.
Perhatikan juga penyaringan pertemanan, hindari pilihan masuk aplikasi lewat media sosial, mewaspadai tautan mencurigakan, serta membaca syarat dan ketentuan saat mengunduh aplikasi. “Manfaatkan berbagai fitur keamanan media sosial untuk melindungi akun kita dari ancaman kejahatan siber,” pesannya
Salah satu pertanyaan menarik peserta di antaranya tentang bagaimana menanggapi warganet yang tak beretika di media sosial. Narasumber menjelaskan bahwa kecakapan digital penting untuk terus ditingkatkan agar dapat melawan konten negatif dengan terus mengunggah konten yang baik dunia maya.
Program Literasi Digital mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat Sulawesi.[*]