WARTAEVENT.com – Minahasa Tenggara. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada hari ini Selasan (02/11/2021) di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara.
Kolaborasi ketiga lembaga pada acara kali ini, tema yang diangkat adalah “Menjadi Pendidik yang Cerdas dan Cakap Digital” Dan diikuti oleh 917 peserta dari berbagai kalangan masyarakat.
Ada 4 narasumber pada sesi sesi webinar siang ini, di antaranya Guru SMPN 10 Mapanget dan Master Teacher Kota Manado, Fatmawati; Guru dan Konten Kreator Muslimin, Guru Sosiologi, Yenti Dwi Rositasari; dan Penjelajah Nusantara, Taufik Hippy. Sedangkan moderator yaitu Heri Susanto selaku Jurnalis.
Menurut Fatmawati, pemateri pertama yang menyampaikan tema “Kemampuan Literasi Digital yang Wajib Dimiliki Guru Generasi Alpha”, tantangan tenaga pendidik dalam mengajari generasi alpha, diantaranya harus akrab dengan teknologi, mampu membuat konten yang menarik, mempersiapkan desain belajar yang menantang, ajarkan tanggung jawab, mampu mendorong kreativitas, serta menggiatkan kegiatan kolaborasi.
Sedangkan kiat bagi orang tua dalam mengawasi proses pembelajaran anak, misalnya meningkatkan pengetahuan dan teknologi, mengajarkan anak bersosialisasi, mengajak anak berkegiatan fisik, serta membekali dengan pendidikan agama dan moral. “Orang tua harus memainkan peran sebagai teman diskusi, tempat bertanya dan tempat mencurahkan kasih sayang,” ujarnya.
Muslimin, pemateri kedua menyampaikan paparan berjudul “Internet yang Cocok dan Aman untuk Anak di Bawah Umur dan Remaja”. Ia mengatakan, salah satu dampak negatif internet, yakni perundungan siber.
Tanda-tanda anak mengalami tindakan tidak terpuji tersebut, antara lain mudah kesal atau marah, kurang bersosialisasi, menjadi lebih pendiam, menghindari kegiatan sekolah, prestasi menurun, perilaku berubah, serta gelisah ketika membuka pesan atau media sosial.
Langkah penanganan yang dapat dilakukan: pendekatan, mengumpulkan bukti, dan pulihkan trauma anak. “Ajarkan anak-anak kita untuk tidak membalasnya,” imbuhnya.
Pemateri selanjutnya Yenti Dwi Rositasari, memaparkan materi bertema “Peran Komunitas Akademik dalam Pendidikan di Era Digital”. Menurut dia, komunitas akademik berperan agar tenaga pendidik dapat membantu sesama dalam memperbanyak pengalaman dan pengetahuan di bidang digital.
Beberapa kiat yang dapat dilakukan guru agar kelasnya menarik: buat rencana belajar, rajin membuat kelas daring, mengumpulkan tugas tepat waktu, atau mencari ruangan yang sepi dan nyaman. “Salah satu tantangan pembelajaran daring adalah tenaga pendidik dan peserta didik sebagian besar belum menguasai teknologi dan perlu banyak belajar,” katanya.
Adapun Taufik Hippy, sebagai narasumber terakhir, menyampaikan paparan berjudul “Rekam Jejak Digital di Ranah Pendidikan”. Ia mengatakan, guru dapat menyampaikan kepada siswa sejumlah aturan yang bertujuan agar siswa tetap fokus dalam pembelajaran.
Misalnya, larangan membagikan data pribadi di internet, hanya mengakses konten edukatif, serta menaati norma kesopanan. “Guru dapat melibatkan orang tua untuk memastikan proses belajar di internet dalam kondisi aman dan terawasi,” tuturnya.
Salah seorang peserta, Mat Wijayakusuma, bertanya tentang aspek apa saja yang perlu diajarkan kepada anak agar mereka menyadari manfaat internet dan tidak sekadar hiburan.
Menanggapi hal tersebut, Muslimin bilang, anak-anak perlu diberikan pemahaman bahwa dunia maya sama saja dengan dunia nyata, sehingga akan terus merasa terawasi. Ajarkan juga kepada anak akan tentang rekam jejak digital, agar membuatnya berhati-hati bermedia sosial.
Program Literasi Digital mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat Sulawesi. [*]