
WARTAEVENT.com – Jember. Menurut catatan Encyclopedia of American Indian Contributuions to the world (2009), akar kata Cigar berasal dari kebiasaan merokok bangsa Maya yang disebutnya sebagai Sikar.
Sejarah Cigar atau Cerutu kali pertama sampai ke Indonesia pun ternyata panjang. Bermula dari pelopor perkebunan tembakau di Deli, Sumatera Utara bernama Deli Maatschappij di tahun 1869 yang merajai pangsa pasar bahan pembungkus Cigar alias wraffer.
Baca Juga : Curhat Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rasa Piala Dunia
Bagai mengulang sejarah panjang tersebut, hadirnya bisnis Boss Image Nusantara (BIN) Cigar pun panjang. Meski mengaku jika bisnis BIN Cigar ini adalah ketidaksengajaan, karena pendiri pertama korporasi Cigar yang memiliki nilai ekspor sebesar Rp1,5 triliun ini, adalah ahli dalam penanaman tembakau, utamanya adal tembakau BNO (Besuki Na-Oogst) dan tembakau bawah naungan.
Hal ini disampaikan oleh Febri Ananta Kahar, Owner BIN Cigar saat menjamu 25 media yang tergabung dalam Himpunan Anak Media (HAM) di pabrik wraffer BIN Cigar di Jember (23/11/2022) lalu.
Febri, sapaan akrabnya menjelaskan, untuk memiliki kualitas Cigar atau Cerutu berkelas internasional setara dengan yang di Kuba, bukanlah perkara mudah. Dapat dibayangkan, proses untuk menjadi Cigar yang siap digunakan ke konsumennya harus menempuh waktu sampai tiga tahun.
Baca Juga : Bupati Jember Sebut, Himpunan Anak Media Adalah Jendela Dunia
“Proses pembuatan Cigar mulai dari tanam tembakau membutuhkan waktu 3 tahun. Dan proses paling lama adalah pada bagian fermentasi yang membutuhkan waktu mencapai dua tahun,” ujar Febri.
Ia menambahkan, pangsa pasar BIN Cigar tiap tahun terus bertumbuh. Beberapa faktor pertumbuhan tersebut dibantu akses jalur perdagangan ekspor oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Kementerian Perdagangan. “Dan satu hal lagi, hilangnya pangsa pasar Cerutu dari Havana Kuba yang kini 70 persen produksinya lari ke China,” katanya.
Baca Juga : Atasi Masalah Utama Pariwisata, Jember Gunakan Filosofi Makan Bubur Ayam
Pangsa pasar dalam negeri pun ternyata tak kalah manisnya. Meski penggemar Cigar tidak terlalu kelihatan, ternyata penikmatnya banyak, market sharenya mencapai 50-60 persen, sisanya impor.
“BIN Cigar saat ini telah memiliki 24 jenama dan beberapa tahun belakangn sudah ekspor ke 15 negara. Saat ini BIN Cigar menjadi pemain terbesar kedua setelah Djarum di pasar tembakau modern,” urai Febri.
Kesuksesan BIN Cigar menjadi pemasok Cigar terbesar ke dua di dunia setelah Kuba, tidak terlepas dari proses menjaga kualitas rasa dan inovatif dalam mengembangkan produknya.
Baca Juga : Penikmat Wine, Jangan Lewatkan Event “The GREAT Wine & Dine Festival”
Bahkan demi menjaga kualitas tersebut, tim BIN Cigar rela menampuh jarak sekitar 18.076 KM ke Kuba untuk belajar menyamai kualitas Cigarnya.
“Kami menggunakan metode atau teknik ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Tahun 2000 awal kami belajar ke Kuba untuk menyamai Cigar yang mereka produksi. Kami berhasil meniru rasa Cigar dari Kuba. Bahkan kita bisa custom,” lanjut Febri.
Febri pun melanjutkan, BIN Cigar dan produsen Cigar asal Kuba sudah mengadakan perjanjian dalam hal proses meniru rasa. Bukan meniru bentuk dan merek. “BIN Cigar anti fake dan perjanjian ini legal,” tegasnya.
Untuk diketahui, lanjut Febri, bahwa BIN Cigar inipun melibatkan pelaku bisnis UMKM dalam membuat tempat atau kemasan Cigar untuk kemasan pembungkus, dan mempekerjakan puluhan ribu karyawan yang mayoritas perempuan.
Baca Juga : Menu Lidah Goreng Sapi Ini Gunakan Resep Tradisi Keluarga Turun Temurun
Bagaimana, kalian tertarik untuk mencoba Cigar? Untuk belajar mencoba Cigar kalian boleh mencoba jenis yang light, harganya Rp9 ribu per batang. Bagi yang sudah level penikmat, coba rasakan dan temukan sensasi harga Cigar yang per batangnya dibanderol Rp400 ribu. [*]
- Editor : Fatkhurrohim