“Board Of Peace” Usulan Trump Semakin Menjauhi Tujuan PBB
Hubungan Trump dengan Eropa menurut Dubes Wahid semakin menurun drastis. Hal ini terkait dengan rencana aneksasi Greenland oleh Trump walaupun pada akhirnya diurungkan. Inilah yang mengakibatkan Jerman, Prancis, Inggris, Spanyol, Swedia, Denmark dan Norwegia tidak mau bergabung.
Baca Juga : Pengurus ICWA Beranjangsana ke Menlu Sugiono
Yang membuat Eropa bingung adalah keputusan Trump yang secara sepihak menentukan iuran anggota BOP sebesar $1 miliar, Trump akan memiliki wewenang tunggal untuk menerima anggota dan memutuskan arah tindakan badan tersebut. Peran PBB bisa terkikis.
Pemilihan Parlemen Tengah Periode pada November 2026
Saat ini Partai Republik memegang keunggulan 218 banding 214 di DPR atas Partai Demokrat. Di Senat, Partai Republik memegang keunggulan 53 banding 47. Yang membuat Trump ketar-ketir adalah tipisnya selisih partai Republik dibandingkan dengan Demokrat.
Baca Juga : MUI Berhasil Memprakarsai Kesepakatan Asia–Pasifik untuk Bela Palestina
Menurut Wahid Supriyadi jika Partai Republik kalah dalam pemilihan parlemen tengah periode berikutnya dia dapat dimakzulkan. Yang dikhawatirkan Trump adalah jika Partai Demokrat memenangkan mayoritas di DPR dan mayoritas besar di Senat, pemakzulan dan pemberhentian sangat mungkin terjadi.
Diskusi
Dalam diskusi salah seorang peserta bernama Mohammad Tasiyuw(Nigeria) menyampaikan pertanyaan, yaitu kira-kira apa yang bisa di manfaatkan dari BOP ini. Pertanyaan dari para peserta lainnya adalah apakah ada pasukan perdamaian internasional non-PBB yang mengalami keberhasilan dalam menjalankan misinya.

Dubes Djumala, menyatakan bahwa salah satu hal yang bisa dimanfaatkan dari BOP adalah negara-negara dapat menyuarakan kepentingan Palestina. Berikutnya adalah akses ke proses pengambilan keputusan. Khusus mengenai Indonesia dapat menjadi jembatan (bridge builder) antara penentang dan pendukung BOP, terakhir suara Global South dapat diartikulasikan dalam persidangan BOP.
Dubes Bagas Hapsoro mendukung respon Dubes Djumala ini. Menurut Bagas, dengan diundangnya Indonesia memasuki Board of Peace, menunjukkan posisi Indonesia yang semakin penting di mata dunia. Namun, peran Indonesia baru bisa dinilai jika mampu menyuarakan masalah-masalah global di organisasi tersebut, “Jangan dikira hanya dijadikan alat Trump untuk memenuhi keinginannya”, tegas Bagas.
Baca Juga : Indonesia Mampu Membangkitkan Semangat Multilateralisme dalam Diplomasi dengan Aksi Nyata
Dengan berada di dalam Board of Peace, Indonesia memiliki peluang, untuk menyuntikkan perspektif Global South, mengingatkan dimensi kemanusiaan, dan menekan agar isu Palestina tidak direduksi menjadi sekadar urusan keamanan Israel semata. Kuncinya adalah Indonesia harus aktif sesuai dengan amanah politik luar negeri yang bebas-aktif.
”Kalau setelah berkali-kali Indonesia mengupayakan diplomasinya namun gagal karena dijegal oleh AS dan Israel, kita keluar dari BOP. Biarkan publik mengetahui alasan kenapa RI keluar,” kata Bagas.
Baca Juga : Dubes Phil Nathan Taula: Indonesia Adalah Mitra Penting di Kawasan Pasifik
Sementara itu Dubes Wahid menyatakan bahwa peran PBB bisa terkikis. Uni Eropa saat ini dekat dengan RRT dan Russia. Semua khawatir bahwa dengan BOP, AS akan menjadi aktor tunggal yang mendikte negara lain untuk mengikuti.
