Site icon WARTAEVENT.COM

Cakap Digital Tak Hanya Kemampuan dan Pengalaman, Tapi Juga Jaga Etika dan Kesantunan

WARTAEVENT.com – Donggala. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada hari ini Senin (30/08/2021) di Kabupaten Donggala, Sulawesi Selatan. 

Kolaborasi ketiga lembaga pada acara kali ini, tema yang diangkat adalah “Mari Berbahasa yang Benar dan Beretika di Ruang Digital”. Dan diikuti oleh 853 peserta dari berbagai kalangan masyarakat.

Ada 4 narasumber pada sesi sesi webinar siang ini, di antaranya Public Speaker dan Founder Limited Games Reality Show, Candra Sentosa; dosen Universitas Al Azhar Indonesia dan aktivis Japelidi, Irwa R. Zarkasi; peneliti dan Presidium Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Sulawesi Selatan, Mardiana Rusli; serta Influencer dan Top 10 Puteri Indonesia 2019, Wa Ode Amelia Nadine. 

Candra Sentosa, sebagai pemateri pertama mengulas topik “Online Learning”. Menurutnya, kemampuan individu yang diperlukan di era digital, antara lain berkomunikasi secara profesional, cakap dalam pengoperasian gawai, dapat mempromosikan foto dan video melalui internet, serta mampu mengoptimalkan mesin pencari atau search engine optimization. 

“Dalam menggunakan media digital, bukan hanya persoalan kemampuan dan pengalaman, namun juga bertanggung jawab dengan etika yang baik dan tujuan yang positif,” ujarnya.  

Pemateri kedua, Irwa R. Zarkasi menyampaikan tema “Hate Speech”. Ia menjelaskan, ujaran kebencian atau hate speech hingga saat ini, merupakan kasus tertinggi yang dilaporkan ke Kepolisian RI, yakni 473 dari 937 pengaduan. 

Bentuk penghasutan, penghinaan, penistaan, serta pencemaran nama baik kerap terjadi karena lebih dipengaruhi isu-isu politik, ketidaksukaan akan kelompok tertentu, sudah menjadi kebiasaan, serta kurangnya pengetahuan akan fakta-fakta. “Tidak semua ucapan negatif adalah ujaran kebencian, kita bisa tidak setuju atau mengkritik orang lain tanpa kebencian,” jelas dia. 

Sementara itu Mardiana Rusli, pemateri ketiga ini, memaparkan materi berjudul “Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi”. Mardiana menjelaskan, kehadiran jejaring sosial dan aplikasi pesan daring telah mengubah gaya komunikasi dari yang semula individu dan terbatas menjadi bersifat publik.

Ini merupakan tantangan dalam budaya digital karena mulai menipisnya pemahaman wawasan kebangsaan, maupun nilai kesopanan dan kesantunan. “Kebebasan berekspresi yang kebablasan, hingga berkurangnya toleransi, dan hilangnya batas-batas privasi,” tuturnya. 

Wa Ode Amelia Nadine, sebagai narasumber terakhir, menyampaikan paparan berjudul “Dunia Maya dan Rekam Jejak Digital”. Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menjaga keamanan diri di internet, di antaranya mengelola jejak digital di media sosial, membangun  reputasi daring secara positif, serta rutin mengganti kata sandi. 

Rekam jejak digital yang buruk dapat mengganggu seseorang dalam meraih prestasi, misalnya ditolak perusahaan lantaran punya rekam jejak negatif pada akun media sosialnya. 

Salah satu peserta, Relianton, bertanya tentang banyaknya anak-anak yang menggunakan kata-kata tak sopan di media sosial dan cara penanganannya. 

Irwa R. Zarkasi mengatakan, diperlukan literasi yang efektif kepada anak atau adik lewat pemberian contoh yang baik. Selain itu, perlu pendampingan dan pengawasan kepada anak saat ia menggunakan internet.

Program Literasi Digital mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat Sulawesi. [*]

Exit mobile version