Dari Pelestarian Menuju Ekosistem Budaya
Pagelaran Wayang Ajen Junior di Yayasan Al-Muttaqin juga merupakan bagian dari gagasan yang lebih besar yang dikembangkan Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi binaan Ki Dalang Wawan Ajen.
Orientasinya bukan lagi sekadar mempertahankan seni pedalangan agar tidak punah. Lebih jauh, seni tradisi didorong untuk dikembangkan, dibina, dimanfaatkan, dikolaborasikan, didokumentasikan, dan dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan zaman.
Paradigma tersebut menempatkan kebudayaan bukan sebagai benda masa lalu, melainkan sebagai ekosistem yang hidup.
Baca Juga : Tahun Ini, Peluncuran KEN Ditandai dengan Parade Festival Seni dan Budaya
Regenerasi menjadi fondasi. Pendidikan menjadi instrumen. Panggung menjadi laboratorium. Teknologi dan kreativitas menjadi alat pengembangan. Masyarakat menjadi ruang aktualisasi. Sementara nilai budaya menjadi kompasnya.
Dengan pendekatan seperti itu, pelestarian tidak lagi bersifat defensif. Tradisi tidak hanya diselamatkan dari kepunahan, tetapi diberi kesempatan untuk tumbuh, beradaptasi, dan menciptakan manfaat baru.
Panggung Kecil, Pesan Besar
Penampilan Aden Azka Asstroberi Putra di tengah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Bandung Barat pada akhirnya menyampaikan pesan yang jauh lebih besar daripada sebuah pertunjukan wayang.
Dari tangan seorang dalang cilik, wayang kembali berbicara tentang manusia, akhlak, keberanian, tanggung jawab, dan masa depan. Dari sosok Gatotkaca, anak-anak belajar tentang keberanian dan patriotisme.
Baca Juga : Jambuluwuk Malioboro Hotel : Menikmati Akomodasi Berkonsep Jawa Modern di Jantung Kota Yogyakarta
Dari Semar dan para punakawan, masyarakat diajak tertawa sekaligus bercermin. Dan dari Cepot, pesan Maulid kembali ditegaskan: bahwa mencintai Nabi Muhammad SAW bukan hanya dengan mengenang kelahirannya, tetapi dengan berusaha menghadirkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan nyata.
Peristiwa di Yayasan Al-Muttaqin membuktikan bahwa ketika agama, budaya, pendidikan, dan kepedulian sosial dipertemukan dalam ruang yang sama, lahirlah sebuah peristiwa kebudayaan yang memiliki daya hidup.
Baca Juga : Penuhi 7 Kategori, Desa Wisata Widosari Masuk Nominasi ADWI Tahun Ini
Dalang Aden Azka mungkin masih seorang dalang cilik. Tetapi keberaniannya berdiri di balik jagat wayang hari ini adalah tanda bahwa masa depan seni pedalangan Indonesia sedang tumbuh. Dan masa depan itu tidak akan lahir hanya dari slogan pelestarian. Ia lahir dari anak-anak yang dilatih, diberi panggung, dipercaya, dan didampingi untuk mencintai tradisinya, lalu diberi keberanian untuk membawanya menuju masa depan. Apresiasi yang tinggi melalui ruang, waktu dan peristiwa sebagai bukti mendukung secara nyata. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
YOGYAKARTA, WARTAEVENT.com — Bulan September tahun ini menjadi salah satu waktu yang dapat dimanfaatkan wisatawan untuk menikmati Yogyakarta dengan suasana… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) 2026 tidak hanya menjadi ruang berburu tiket perjalanan. Pameran yang berlangsung pada… Read More
SINGAPURA, WARTAEVENT.com — Marina Bay Sands memperkaya pilihan gaya hidup di Singapura dengan menghadirkan Le Ju Xuan, restoran Tionghoa kasual-premium… Read More
LABUAN BAJO, WARTAEVENT.com — Pemulihan pascabencana menjadi perhatian Meruorah Komodo Labuan Bajo bersama Indonesia Ferry Property (PT IFPRO) dan InJourney… Read More
BALI, WARTAEVENT.com — Upaya memulihkan kawasan hutan di sekitar Pura Luhur Batukaru, Bali, memasuki tahap penanaman. Sebanyak 100 pohon ditanam… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Dukungan kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa Flores datang dari The Starbucks Foundation. Yayasan tersebut menyalurkan bantuan sebesar… Read More
Leave a Comment