Dampak Perang AS–Israel Melumpuhkan Pariwisata Global
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, yang kini meluas ke serangkaian serangan dan pembalasan di Timur Tengah, membawa imbas signifikan terhadap industri pariwisata dunia — termasuk destinasi di luar kawasan konflik langsung.
Theguardian menurunkan data bahwa industri perjalanan global menghadapi tekanan ekstrem. Sekitar ribuan penerbangan telah dibatalkan akibat penutupan ruang udara di Timur Tengah, khususnya di sekitar hub utama seperti Dubai, Abu Dhabi dan Doha, yang berdampak pada pergerakan wisatawan dari Asia, Eropa, dan Amerika. Akibatnya, sektor pariwisata dan penerbangan mengalami gangguan paling buruk sejak pandemi Covid-19.
Baca Juga : UNWTO: Dampak Pembatasan Perjalanan Pariwisata Dunia Tak Bergerak
Di kawasan yang menjadi tujuan populer, seperti Yordania, kunjungan turis turun drastis. Ddikutip dari Arabnews Kota kuno Petra, misalnya, tercatat mengalami penurunan pengunjung lebih dari 75 persen pada Juni tahun lalu dibandingkan periode yang sama sebelum konflik.
Sementara itu, tradingekonomic mencatat bahwa kunjungan wisatawan ke Israel juga menunjukkan tren perlambatan hingga tahun 2026. Data resmi menunjukkan angka kunjungan turun dari sekitar 138.800 wisatawan pada Desember 2025 menjadi 120.000 pada Januari 2026, jauh di bawah rata-rata historisnya.
Dalam perspektif ekonomi, pariwisata global telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan kuat pasca-pandemi, bahkan mencapai hampir 1,5 miliar kedatangan turis internasional pada 2025. Namun, gelombang terbaru konflik yang melibatkan AS dan Israel kini membawa dampak serius terhadap industri ini.

Dampaknya muncul dalam tiga saluran utama:
Keterbatasan Penerbangan dan Biaya Operasional
Laporan Theguardian Ribuan penerbangan global dibatalkan karena ruang udara Timur Tengah ditutup atau dihindari maskapai demi alasan keamanan. Holistiknya, ini memperpanjang rute penerbangan, menaikkan biaya bahan bakar dan operasional, dan mengganggu hub penting yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Amerika.
Baca Juga : Triponyu Startup Pariwisata Indonesia Menginspirasi Dunia
Penurunan Permintaan Wisata di Kawasan Konflik
Sementara itu, Global South World mencatat hotel dan operator tur di Yordania mencatat tingkat okupansi yang jatuh, bahkan turun hingga 10% di beberapa wilayah wisata utama. Trading Economic pun menuliskan data kunjungan turis di Israel menunjukkan ketidakstabilan, dengan kunjungan yang jauh di bawah rata-rata sebelum konflik.
Sentimen Pasar dan Investasi
Menurut The Times of India Senin, (2/3/20026), harga saham maskapai, OTA (online travel agency), dan grup perhotelan besar terguncang akibat pesimisme pasar terhadap prospek pariwisata jangka pendek. Selain itu, pembatalan perjalanan dan permintaan pembatalan refund berkontribusi terhadap tekanan likuiditas di sektor ini.
Baca Juga : Dari Dubai, Jakarta Menyapa Wisatawan dari Belahan Dunia Lewat Layar Bandara
Analisis perekonomian pariwisata mengungkap bahwa bahkan destinasi yang relatif aman pun merasakan efek psikologis dari gejolak global — membawa potensi over-cautious consumer behavior dan penundaan pembelian paket wisata internasional. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Editor : Fatkhurrohim dari berbagai sumber
