WARTAEVENT.COM – Jakarta. Saat ini, di dunia, lebih dari 50 juta orang mengalami demensia dan Demensia Alzheimer adalah jenis demensia yang terbanyak, sekitar 60-70%.
Masyarakat sering menyebut demensia sebagai pikun. Pikun seringkali dianggap biasa dialami oleh lansia seiring dengan bertambahan usia sehingga Demensia Alzheimer seringkali tidak terdeteksi, padahal gejalanya dapat dialami sejak usia muda (early on-set demensia).
Deteksi dini membantu penderita dan keluarganya untuk dapat menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif (memori) dan pengaruh psiko-sosial dari penyakit ini dengan lebih baik. Selain itu penanganan Alzheimer sejak dini juga penting untuk memperlambat terjadinya kepikunan.
Eisai Indonesia bersama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengadakan seminar awam terkait Demensia Alzheimer di Masa Pandemi yang diikuti oleh kurang lebih 195 peserta dan 5 kelompok kader/caregiver kelurahan.
Kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi para caregiver namun juga kepada para masyarakat awam yang saat ini melakukan pendampingan mandiri pada keluarganya yang mengalami demensia.
Meningkatkan kesadaran akan bahaya demensia atau pikun dan juga penguatan caregiver pada pandemi Covid 19 tentunya menjadi tantangan tersendiri.
Dokter Spesialis Saraf, dr. Made Ayu Wedariani, Sp.S mengatakan, demensia Alzheimer adalah bentuk yang paling umum dan terbanyak pada sindrom demensia yang berkaitan dengan usia lanjut.
Demensia Alzheimer memiliki perjalanan yang cukup panjang dimana penderita awalnya hanya menderita gangguan memori ringan saja yang kemudian secara bertahap seriring dengan bertambahnya usia gejala penurunan memori semakin memberat ditambah dengan gejala kognitif dan non kognitif lainnya, serta diikuti dengan gangguan aktivitas harian maupun fungsional.
Dengan meningkatnya harapan hidup, jumlah penderita demensia Alzheimer berkembang semakin meningkat dan menyebabkan masalah sosial, ekonomi dan kesehatan.
Pentingnya deteksi dini Demensia Alzheimer ikut memberikan kesempatan yang terbaik untuk segera menjalani pengobatan sehingga lebih banyak waktu untuk merencanakan masa depan, dan berkurangnya kecemasan tentang masalah yang tidak diketahui.
“Tatalaksana Demensia Alzheimer terdiri dari farmakologis dan non farmakologis untuk memperlambat progresifitas penyakit dan meningkatkan kualitas hidup penderita dan keluarganya,” ungkapnya.
Sementara itu Dokter Spesialis Saraf, dr. Asnelia Devicaesari, Sp.S mengatakan, setelah diagnosis Demensia Alzheimer ditegakkan, maka diperlukan terapi berkelanjutan dan pendampingan terhadap pasien.
Demensia Alzheimer yang sering disebut dengan Orang Dengan Demensia (ODD). Pengobatan rutin yang tepat dan berkelanjutan diperlukan untuk memperlambat progresifitas penyakit. ODD sebaiknya didampingi oleh pendamping (caregiver).
Cara pendampingan yang sesuai dengan kondisi ODD seperti cara merawat, memperlakukan dan menstimulasi kognitif ODD amat diperlukan untuk mempertahankan kemampuan kognitif dan kemandirian ODD dalam kegiatan harian.
“Bila keduanya dilakukan secara berkelanjutan maka akan tercapai kualitas hidup yang baik untuk ODD dan tentunya juga untuk pendampingnya,” pungkas Asmelia. [*]
- Penulis : Sofia Nurmala S
- Editor : Fatkhurrohim