News

HAM Meet CEO: Transformasi Hospitality Indonesia Hadapi Tekanan dan Peluang Baru

JAKARTA, WARTAEVENT.com – Industri hospitality Indonesia menghadapi tekanan sekaligus peluang baru pada 2025–2026, ketika pelaku usaha dari sektor wellness, hotel, investor, dan teknologi menyoroti ketimpangan pertumbuhan, lemahnya regulasi, serta kebutuhan inovasi layanan untuk menjaga daya saing pariwisata nasional.

Industri hospitality di Indonesia tengah berada di persimpangan. Di satu sisi, sektor ini tumbuh pesat, terutama di destinasi seperti Yogyakarta. Namun di sisi lain, pelaku industri menilai pertumbuhan tersebut tidak diimbangi dengan kesiapan ekosistem, mulai dari regulasi hingga inovasi layanan.

Baca Juga : Bupati Jember Sebut, Himpunan Anak Media Adalah Jendela Dunia

Founder dan CEO Odilia Infinity Corporation, Yohana Gewang, Jum’at (13/3/2026), dalam acara HAM Meet CEO, melihat tren positif dari sektor wellness yang kini berkembang dari sekadar spa menjadi bagian gaya hidup.

Menurutnya, layanan berbasis kesehatan fisik dan mental kini menjadi daya tarik baru dalam pariwisata. Bahkan, konsep wellness telah bergeser menjadi destinasi wisata tersendiri yang potensial di Indonesia.

Namun, optimisme tersebut tidak sepenuhnya dirasakan oleh pelaku hotel. CEO Natta Hospitality Management, Thomas Matantu, melihat ketimpangan antara pertumbuhan jumlah hotel dan pasar. Ia menyebutkan bahwa peningkatan hotel tidak diiringi pertumbuhan wisatawan yang sepadan.

Baca Juga : Media Mendukung Pertumbuhan Kembali Industri Perhotelan dan Pariwisata Daerah Pasca Pandemi Covid-19

Selain itu, kontribusi kegiatan pemerintah yang sebelumnya menyumbang hingga 60 persen okupansi hotel kini turun drastis menjadi sekitar 10 persen akibat efisiensi anggaran. Dampaknya, tingkat hunian terutama pada hari kerja mengalami penurunan signifikan.

Persaingan juga semakin ketat dengan menjamurnya vila dan homestay yang menawarkan fleksibilitas dan harga kompetitif. Dalam beberapa tahun terakhir, tren ini menggerus okupansi hotel hingga 30–40 persen, khususnya saat musim liburan seperti Idul Fitri dan Natal dan Tahun Baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *