Site icon WARTAEVENT.COM

Ini Cara Kemenparekraf Berupaya Selamatkan Pelaku Industrinya

WARTAEVENT.com – Jakarta. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan 6.500 pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif tersertifikasi protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) di tahun 2021. 

Sertifikasi CHSE merupakan hal yang sangat penting bagi industri pariwisata dan ekonomi kreatif untuk memulihkan kepercayaan wisatawan dan menggeliatkan kembali aktivitas pariwisata. 

Baca Juga : Hadir di TikTok Award, Sandiaga Uno Ajak Konten Kreator Mengkesplorasi Destinasi Wisata

Sandiaga Uno, Menparekraf menjelaskan, pada tahun 2021 mentargetkan sebanyak 6.500 pelaku usaha yang tersertifikasi CHSE. Namun, angka ini harus ditingkatkan lagi dengan cara merangkul dunia usaha untuk ikut berpartisipasi. 

Menparekraf Sandiaga menekankan bahwa ia betul-betul ingin menyelamatkan para pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, karena ini merupakan peranan utamanya di Kemenparekraf.

Menparekraf Sandiaga, mencontohkan, saat ini sekitar 1.000 pekerja di Saung Angklung Mang Udjo yang harus menjadi perhatian untuk diselamatkan. “Kemenparekraf bersama dengan Saung Angklung Mang Udjo membuat suatu jingle untuk menggeliatkan kembali para pekerjanya, small things tapi berarti,” terang Sandiaga di Balairung Kemenparekraf hari ini Selasa (02/02/2021).

Saung Angklung Mang Udjo Miliki Sertifikat CHSE

Menparekraf Sandiaga Uno, saat ini sekitar 1.000 pekerja di Saung Angklung Mang Udjo yang harus menjadi perhatian untuk diselamatkan.

Sementara itu Taufik Hidayat, Direktur Utama PT. Saung Angklung Mang Udjo mengatakan dengan adanya pandemi pihaknya melakukan berbagai macam inovasi dan Saung Angklung Mang Udjo menjadi pelaku usaha pertama di Jawa Barat yang memiliki sertifikasi CHSE. 

Baca Juga : Menikmati Pengalaman Merayakan Imlek dan Valentine di InterContinental Jakarta Pondok Indah

Konsep dari Saung Angklung Mang Udjo saat ini adalah keep the old the one create the new one, dalam arti pihaknya masih mempertahankan nilai-nilai yang terkandung di dalam alat musik angklung, tetapi juga harus create the new one di masa pandemi ini. 

“Seni budaya tradisional Sunda itu hampir tidak ada jarak antara pemain dan penonton dan kita juga banyak berinteraksi, dengan adanya pandemi kita mencoba untuk menyesuaikan dengan standar protokol kesehatan,” ujar Taufik. [*]

Exit mobile version