WARTAEVENT.com – Buol. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada hari ini Kamis (09/09/2021) di Buol, Sulawesi Tengah.
Kolaborasi ketiga lembaga pada acara kali ini, tema yang diangkat adalah “Sejahtera Lewat Dunia Digital”.Dan diikuti oleh 659 peserta dari berbagai kalangan masyarakat.
Ada 4 narasumber pada sesi sesi webinar siang ini, di antaranya pendiri loka pasarSatuPlus Guesman Laeta; pengajar dan tenaga ahli Database Fernando Dotulong; CEO dan pendiri Rumah Karawo Agus Lahinta; dan redaktur eksekutif Ligo.id Arfan Dalonggo.
Pemateri pertama adalah Guesman Laeta yang membawakan tema “Sejahtera Lewat Dunia Digital: Peran Literasi Digital di Dunia Marketplace”. Guesman menjelaskan alasan orang memilih berbisnis daring. Pandemi juga mendorong tren bisnis daring. Selain berbisnis daring, menjadi kreator konten juga peluang produktif di era digital.
“Tips sukses di loka pasaradalah peringkat, makin tinggi peringkat, orang semakinmudah menemukan produk kita. Beriklan, memang harus mengeluarkan uang, tapi yang didapat jauh lebih besar. Terakhir, pelayanan,” ucap Guesman.
Fernando Dotulong, pemateri kedua menyampaikan materi berjudul “Etika Digital”. Fernando mengawali paparannya dengan definisi etika digital. Contoh etika digital: tidak membagikan hoaks, berbahasa yang baik, tidak mengusik privasi orang lain.
Menurutnya juga membagikan tips etika berkomunikasi di internet, serta aturan berbisnis daring. “Etika berkomunikasi dengan pelanggan, jaga kesopanan dan berterimakasih. Kenali juga tipe-tipe pelanggan seperti berkarakter dingin, kritis, tergesa-gesa, dan musiman,” katanya.
Pemateri ketiga, Karawo Agus Lahinta mengangkat topik “Peran Literasi Digital: Mengubah Mindset Konsumtif Menjadi Produktif”. Agus banyak membagikan tips mengubah kebiasaan konsumtif menjadi produktif. Seperti, mencatat pengeluaran, bijak menggunakan kartu kredit, ciptakan ‘hari tanpa pengeluaran’, dan ubah kebiasaan misalnya tidak berbelanja daring sebelum tidur.
Sementara itu Arfan Dalonggo Adapun sebagai pemateri terakhir mengurai tema “Perlindungan Hak Cipta di Ranah Digital”. Ia menjelaskan tentang pengertian hak cipta dan konsekuensinya. Kemudian dia juga menyampaikan melindungi hak cipta bisa lewat lisensi.
Sanksi pelanggaran hak cipta bisa berupa pidana penjara dan denda, berdasarkan UU Nomor 28 Tahun 2014. “Tantangan perlindungan hak cipta di era digital adalah konten di digital bebas, luas dan cepat, dan murah. Konten atau hasil karya digital sangat mudah dimanipulasi oleh pelanggar hak cipta,” jelasnya.
Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator. Salah seorang peserta webinar, Soetris Adianputra, bertanya kepada Guesman Laeta.
“Banyaknya situs marketplace dengan tipe yang kurang lebih sama, adakah tips untuk memilih marketplace untuk memulai suatu bisnis, atau gunakan semua yang ada?” tanya Soetris.
Ini tergantung kita, tapi jangan sampai terlalu banyak masuk marketplace. Memang promosinya menarik, apalagi kalau dicari di Google muncul dari segala macam. Tapi, akan membuat boomerang ketika terlalu banyak.
Pertama, mampu tidak melayani. Etika di bisnis online sama dengan dunia nyata. Kita harus memperhatikan pelayanan. Jangan sampai kita di-chat, ditanya deskripsi, tapi tidak mampu memenuhi. Itu justru merusak nama, merusak produk.
“Kita justru bisa ditinggalkan. Kalau saya sebaiknya adalah membuat produk kita berada di rating-nya. Testimoni sangat penting,” pungkas Guesman Laeta.
Program Literasi Digital mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat Sulawesi. [*]