WARTAEVENT.com – Jakarta. Asa Ren, menjalin kerja sama dalam membangun biobank digital CdLS (Cornelia de Lange Syndrome) pertama dengan organisasi non-profit, Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia, yang mendukung orang tua anak dengan penyandang CdLS.
CdLS merupakan salah satu penyakit genetik langka yang disebabkan oleh mutasi genetik pada saat proses pembuahan di dalam kandungan. Kondisi ini memengaruhi sekitar 1 dari 30.000 kelahiran.
Baca Juga : Youth & Beauty Clinic Kampanyekan #MENOLAKTUATM, Yuk Ikuti Proggramnya
Anak dengan kondisi CdLS memiliki karakteristik fisik yang khas, seperti alis yang tebal melengkung (synophrys), malformasi tangan dan lengan, hingga keterlambatan pertumbuhan dan kognitif. Kejang, cacat jantung, dan masalah mata juga telah dilaporkan pada orang dengan kondisi ini.
CdLS belum banyak disadari dan sering keliru dipahami sebagai stunting atau autisme karena keterbatasannya pengetahuan dan kesadaran tentang kondisi ini. Tes DNA telah menjadi solusi dalam membantu masyarakat untuk mengidentifikasi berbagai kondisi dan penyakit tertentu berdasarkan profil genetik.
Tes DNA seringkali digunakan di banyak bidang kedokteran sebagai panduan untuk menemukan pengobatan yang sesuai, mendeteksi mutasi atau variasi DNA, dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat untuk mengurangi risiko terkena suatu penyakit atau kondisi.
Baca Juga : Memilih Minuman Kolagen Tidak Boleh Sembarangan, Simak Berikut Tipsnya
Dengan teknologi yang memadai, Asa Ren akan melakukan riset efektivitas tes DNA dalam penegakkan diagnosis suatu penyakit genetik langka, seperti CdLS maupun penyakit genetik langka lainnya.
Bioinformatika memiliki peran yang krusial dalam mengelola dan menganalisis data biologis yang dihasilkan oleh teknologi, seperti DNA sequencing dan digital biobank guna membantu dokter dalam memberikan diagnosis dan terapi yang tepat dan presisi.
Digital biobank memuat informasi tentang sampel DNA, data klinis, dan data genetik yang memungkinkan para peneliti dan ahli genetika untuk mengakses dan mempelajari lebih lanjut tentang kondisi tersebut. Sementara DNA sequencing membantu mengidentifikasi dan menganalisis variasi genetik terkait CdLS.
Baca Juga : Inovasi Baru dari ZAP Ini Mampu Cegah Kerutan Wajah
Aloysius Liang, Pendiri dan CEO Asa Ren mengatakan, bangga menjadi bagian dari perjalanan luar biasa dalam membuat perbedaan. Menyaksikan upaya tim Asa Ren dalam membantu komunitas CdLS membuat saya terpesona.
“Ketekunan mereka yang tidak goyah menginspirasi saya untuk mengubah arti dari membuat perbedaan. Hal ini juga menandai pencapaian penting dalam perkembangan industri genomik dan kesehatan Indonesia,” lanjutnya.
Baca Juga : Kini Jakarta Aesthetic Consult Hadir di Jakarta
Sementara itu Koko Prabu, Ketua Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia sekaligus orang tua dari anak CdLS menjelaskan, ini adalah kesempatan yang didambakan oleh para orang tua mendapat perhatian atas kelangsungan hidup para anaknya.
Acara penandatanganan berlangsung pada Selasa (20/06/2023) lalu dan dihadiri oleh CEO Asa Ren, Aloysius Liang, COO Asa Ren, Antony Subagia, ketua Yayasan Sindrom Cornelia Indonesia, Koko Prabu, dan Aktivis Arto Biantoro, serta berbagai pihak terkait. [*]
- Editor : Fatkhurrohim