Travel Story

Kampoeng Awan: Tempat Liburan Selow Adventure Tanpa Drama

Menjelang senja, kami kembali ke basecamp. Api kompor menyala lagi, kali ini untuk makan malam sederhana: nasi liwet, sosis bakar, jagung manis. Lampu gantung area mulai menyala, memantul di dedaunan.

Malam turun dengan suhu 18 derajat, cukup untuk membuat kami merapat dalam sleeping bag yang sama sambil mendengar “konser” jangkrik dan gemericik air.

Baca Juga : Danau Paisu Pok: Surga Air Sebening Kristal yang Tersembunyi di Banggai Kepulauan

Alarm terbaik di Kampoeng Awan bukan jam, melainkan cahaya. Pukul setengah enam, kabut turun lebih rendah, menyelimuti pinus seperti selimut. Kami duduk di depan tenda dengan cangkir hangat, menonton gunung perlahan membuka diri.

Tidak ada kata-kata berlebihan, hanya rasa syukur karena ternyata me time tidak butuh tiket pesawat.

Sebelum pulang, kami sempat mencoba flying fox—petualangan ringan yang cukup membuat tertawa. Pukul sebelas kami beres-beres, memastikan tidak ada sampah tertinggal. Perjalanan pulang terasa lebih ringan, bukan karena barang berkurang, tapi karena kepala lebih jernih.

Baca Juga : 42 Hari Menjelajah Tana Timor, Ini Catatan Untuk Kemajuan Pariwisata Agar Menginspirasi Para Overland

Kampoeng Awan membuktikan satu hal: pelarian yang berkesan tidak diukur dari jarak, melainkan dari niat untuk benar-benar hadir. Dan dua hari di sini cukup untuk membuat 2026 terasa sudah dimulai dengan benar. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian  sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *