Dari 21 subsektor ekonomi kreatif, aplikasi termasuk dalam tujuh subsektor prioritas. Sepanjang 2025, subsektor aplikasi mencatat nilai investasi sekitar Rp54 triliun, tertinggi di antara subsektor ekonomi kreatif lainnya.
Aplikasi, lanjut Menteri Teuku Riefky, adalah salah satu subsektor prioritas kami, dan tahun lalu menjadi penerima investasi tertinggi di sektor ekonomi kreatif. Ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap talenta digital Indonesia. Arah kebijakan Kemenekraf jelas: Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi aplikasi dari negara lain.
“Karena itu, pemerintah mendampingi pengembang aplikasi di seluruh rantai nilai, mulai dari ide, produksi, distribusi, dan pemasaran, hingga perlindungan kekayaan intelektual, agar mereka tidak hanya tumbuh sesaat, tetapi mampu bersaing dan berekspansi ke pasar global melalui kemitraan seperti yang terbangun di forum ini,” ujarnya.
Membahas Kesiapan Ekonomi Kreatif Indonesia untuk Pasar Global
Perspektif kebijakan nasional menjadi bagian dari diskusi bertajuk “What Does It Take to Take Indonesia’s Creative Economy Global?” yang berlangsung di Bridge Arena pada 20 Oktober 2026.
Sesi ini menghadirkan Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, Kementerian Ekonomi Kreatif, bersama Naïla Mazzucco, Commissioner for Victoria to Southeast Asia, Victorian Government Trade and Investment Southeast Asia, Hisyaamuddin A.B., Country Head (Indonesia) di Singapore Business Federation, dan Xin Gu, Associate Professor di Monash University.
Dipandu oleh Beverly Gunawan, Corporate Communication Head di Emtek, diskusi tersebut membahas dukungan kebijakan, pemanfaatan teknologi, akses ke pasar internasional, serta hambatan yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif ketika berekspansi ke pasar regional dan global.
Pembahasan turut menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan generatif, blockchain, dan perangkat digital dalam produksi serta monetisasi kekayaan intelektual. Para pembicara juga membahas peran jaringan perdagangan, dukungan institusi, dan kolaborasi riset dalam membantu pelaku ekonomi kreatif memahami kebutuhan pasar serta mempersiapkan ekspansi lintas negara.
“Untuk membawa ekonomi kreatif Indonesia ke pasar global, kreativitas saja tidak cukup. Pelaku usaha perlu memahami kebutuhan pasar tujuan, melindungi dan memonetisasi kekayaan intelektualnya, serta memanfaatkan teknologi seperti AI generatif dan blockchain secara bijak. Di sinilah peran pemerintah, jaringan perdagangan, dan institusi riset menjadi penting, yaitu menjembatani pelaku kreatif dengan ekosistem yang siap mendukung ekspansi mereka,” jelas Neil.
Isu pemanfaatan teknologi juga dibahas dari sisi pengembangan bisnis dan investasi melalui Executive Lab Forum From AI Adoption to Investable Innovation. Didukung oleh BNI Ventures dan AI Ignition, forum ini mengeksplorasi bagaimana solusi berbasis AI dapat berangkat dari kebutuhan nyata, menghasilkan nilai bisnis yang terukur, dan berkembang menjadi inovasi yang memiliki peluang untuk mendapatkan investasi.
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Kenangan tentang rumah tidak selalu hadir melalui sebuah tempat, tetapi juga melalui cita rasa makanan yang akrab… Read More
BANDUNG, WARTAEVENT.com – Kebutuhan ruang pertemuan yang fleksibel menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dan organisasi dalam menentukan lokasi kegiatan bisnis.… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Perpaduan seni kontemporer, budaya Peranakan, dan kenyamanan modern menjadi identitas baru ARTOTEL Harmoni Jakarta setelah menjalani peremajaan… Read More
MOJOKERTOO, WARTAEVENT.com - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menggelar lokakarya Promosi Produk Fesyen CREATIVE by ID X IDE IDN di Sunrise… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 menjadi momentum peluncuran tiga inisiatif strategis untuk memperkuat… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 resmi ditutup di Jakarta, Jumat (23/10/2026), dengan pengesahan… Read More
Leave a Comment