WARTAEVENT.com – Jakarta. Mulai 1 Januari 2023 ini Indonesia menjadi Ketua ASEAN. Sejak awal berdirinya ASEAN di tahun 1967, Indonesia peduli terhadap perdamaian dan kestabilan regional. Oleh karena itu Menlu Adam Malik pernah menyampaikan bahwa ASEAN harus terus diberdayakan.
Pemberdayaan ASEAN akan dapat mengatasi berbagai tantangan dan memanfaatkan berbagai peluang dari masa ke masa. (Hesti Riana Ledes, Karir Adam Malik dalam Pentas Politik Indonesia, Journal, Nopember 2021).
Baca Juga : ASEAN SPOT: 2030 SDG Goals, Where Are We Now?
Menoleh sedikit ke belakang ada beberapa momentum sekaligus catatan Indonesia yang selalu dikenang dalam perjalanan sejarah ASEAN.
Pada tahun 1976 saat Indonesia menjadi Ketua ASEAN, organisasi regional ini menyepakati Treaty of Amity and Cooperation (TAC) dan Bali Concord, khususnya penyelesaian konflik secara damai yang dibutuhkan sebagai prasyarat bagi pembangunan ekonomi negara-negara ASEAN. Bali Concord dan TAC merupakan mekanisme regional untuk menumbuhkan rasa percaya dan kerja sama di kawasan.
Kemudian pada tahun 2003 semasa keketuaan ASEAN Indonesia membuat inisiatif pembentukan Komunitas ASEAN 2015. Atas prakarsa Indonesia itulah Komunitas ASEAN tidak saja terdiri dari komunitas ekonomi, namun juga pada pilar lain, yaitu komunitas politik dan keamanan serta komunitas sosial budaya.
Pada saat keketuaan ASEAN 2011 dibawah kepemimpinan Indonesia telah dicapai perdamaian terkait sengketa Kamboja-Thailand. Pada saat yang sama terdapat dukungan Dewan Keamanan PBB dan Mahkamah Internasional pada ikhtiar Indonesia selaku Ketua ASEAN dalam menyelesaikan permasalahan itu. Ini membuktikan kepercayaan dunia terhadap upaya ASEAN menyelesaikan perselisihan diantara negara-negara anggotanya.
Sudah teruji dalam G20
Secara umum para ahli hubungan internasional mempunyai kesamaan pandangan tentang sikap dan posisi Indonesia dalam mengatur dunia. Betapa tidak? Pada saat dunia masih belum selesai menghadapi Covid-19, rivalitas adi daya makin meruncing, perang Rusia-Ukraina, Indonesia justru menunjukkan kepiawaiannya dalam me-”manage” masalah tersebut.
Kesepakatan G20 yang dituangkan dalam Leaders’ Declaration Nopember 2022 yang lalu juga merupakan bukti perjuangan Indonesia yang diterima G20.
Kiranya tidak ada yang menafikan hubungan ASEAN dengan pihak lain, seperti konflik Laut Tiongkok Selatan (LTS), operasionalisasi ASEAN Outlook on Indo-Pacific. Namun demikian tidak ada pula yang menyepelekan kekuatan ASEAN bahwa ditengah-tengah keragaman tingkat ekonomi dan sosial yang luar biasa, organisasi ASEAN tetap memperlihatkan kestabilan perekonomian 661 juta rakyatnya di Asia Tenggara. (Ryan Zhang, Beating the Odds: How ASEAN Helped Southeast Asia Succeed, Harvard Political Review, 15 Maret 2020).
Baca Juga : Gelar Gathering Alumni yang Ketiga, ASEAN Foundation Fokus Pengembangan Keterampilan Masa Depan
Joanna Lin menyatakan bahwa keteguhan Presiden Jokowi untuk menyelesaikan persoalan Rusia-Ukraina tidak bisa dipandang enteng. Indonesia adalah honest broker dalam tingkat internasional. Pun PBB sudah mengakui tentang hal ini. (Joanne Lin, Lead Researcher, Political-Security Affairs, ASEAN Studies Centre, 21 Juli 2022)
Pemilihan tema kepemimpinan ASEAN yang tepat
Kalau kita amati Deklarasi Bangkok tahun 1967 tentang pendirian ASEAN, pilar ekonomi disebut paling pertama. Disitu dinyatakan bahwa tujuan pertama ASEAN adalah ”mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara”. (ASEAN’s Bangkok Declaration 1967).
Baca Juga : Indonesia dan Kepemimpinan di ASEAN
Selama lebih dari dua tahun belakangan semua masyarakat internasional merasakan dampak ekonomi akibat Covid-19 yang memporak-porandakan negara-negara di dunia. Menlu Retno Marsudi dalam menyampaikan PPTM 11 Januari 2023 menegaskan bahwa keketuaan Indonesia dilakukan di saat situasi dunia masih dalam kondisi sulit.
Dari sisi geopolitik dan ekonomi, situasi masih belum kondusif dan dunia masih mengalami tantangan multidimensi. Meskipun demikian, menurut Menlu Retno Indonesia patut bersyukur bahwa di tengah perekonomian yang diproyeksikan terus menurun, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia.
Pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN hampir selalu berada di atas rata-rata pertumbuhan dunia, yaitu:
Tahun 2012 ASEAN: 6,2%, dunia: 2,7%
Tahun 2015 ASEAN : 4,8%, dunia : 3,1%
Tahun 2018 ASEAN : 5,2%, dunia : 3,3%
Tahun 2019 ASEAN : 4,6%, dunia : 2,6%
Tahun 2023 ASEAN: 4,7%, dunia : 2,4%
Perekonomian ASEAN dapat digambarkan sebagai berikut:
Kesuksesan terbesar ASEAN dalam beberapa tahun terakhir adalah mempromosikan integrasi ekonomi di antara para anggota. Itu juga membantu menegosiasikan Regional Comprehensive Economic Parnership (RCEP), perjanjian perdagangan bebas terbesar di dunia. (Council for Foreign Relations, 11 April 2022).
Jalan ke depan
Sangat tepat Menlu Retno mengatakan bahwa Indonesia akan terus menekankan bahwa Indo-Pasifik harus didekati tidak saja dari aspek keamanan namun juga dari aspek pembangunan ekonomi secara inklusif.
Tahun ini Indonesia akan menyelenggarakan flagship events selama keketuaannya di ASEAN, yaitu ASEAN Indo-Pacific Forum dengan focus pada beberapa kegiatan, yaitu: creative economy, youth conference on digital economy for SDGs, infrastructure forum, and business and investment summit.
Untuk menilai rekam jejak Indonesia dalam hubungan internasional, dapat dilihat pengujian konsep kebijakan luar negeri Indonesia dari waktu ke waktu, perubahan lingkungan strategis Asia, ketidakpastian dan saling ketergantungan.
Terdapat konsistensi. Yaitu ditengah tantangan dunia yang semakin sulit ini, cara pandang positif, kerjasama dan optimisme justru semakin diperlukan. Cara pandang inilah yang akan diterapkan Indonesia dalam menjalankan tugasnya sebagai Ketua ASEAN di tahun 2023.
Baca Juga : 15th ASEAN Health Ministers Meeting : ASEAN Akui Sertifikat Vaksinasi Covid-19
Kerja Sama Ekonomi ASEAN yang bisa dijadikan acuan kepemimpinan Indonesia pada ASEAN
Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di sembilan negara anggota ASEAN lainnya, masyarakat perlu mengetahui relevansi ASEAN dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh saat ini dunia menghadapi ancaman resesi, gangguan terhadap ketahanan pangan dan lingkungan hidup.
Untuk itu nuansa ”we feeling” perlu terus ditingkatkan diantara rakyat ASEAN. Karena apa? Pertama, kepentingan dalam kondisi geografis. Kedua adalah adanya sifat saling melengkapi mengingat perbedaan sumber daya alam di setiap negara.
Beberapa contoh kerja sama ASEAN di bidang ekonomi, antara lain:
1. Kerja Sama di Sektor Cadangan Pangan
Contoh kerja sama ASEAN di bidang ekonomi adalah di sektor cadangan pangan. Hal ini dikarenakan ASEAN memiliki dua lumbung padi utama, yakni Thailand dan Vietnam. Mereka berkomitmen untuk menjadi penyedia cadangan pangan bagi negara anggota ASEAN.
2. Kerja Sama di Sektor Industri Melalui ASEAN Industrial Cooperation (AICO)
Tujuan kerja sama melalui AICO adalah untuk membangun sejumlah industri di beberapa negara.S alah satu nya adalah ASEAN Urea Project yang merupakan pabrik pupuk urea yang telah dibangun di Malaysia.
3. Kerja Sama di Bidang Ekonomi Pariwisata
Salah satu kerja sama ASEAN di bidang ekonomi adalah ekonomi pariwisata. Menparekraf Sandiaga Uno tanggal 5 Agustus 2022 menyampaikan bahwa untuk kali pertama pariwisata Indonesia bisa ungguli Thailand. Hal ini terlihat di World Economic Forum Travel and Tourism Development Index, Indonesia naik 12 peringkat dan berhasil mengalahkan Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
Baca Juga : Yogyakarta Menjadi Tuan Rumah ASEAN Tourism Forum, Kemenparekraf Tinjau Kesiapan Tempat
Sandiaga Uno juga menyebut bahwa Indonesia juga unggul di sisi ekonominya kreatif. Saat ini sudah masuk daftar tiga besar dunia. Indonesia, sambungnya, berada di posisi ketiga setelah Amerika Serikat dengan Hollywood dan Korea Selatan dengan K-pop.
4. Kerja Sama Melalui Kawasan Perdagangan Bebas, ASEAN Free Trade Area (AFTA)
Kerja sama ASEAN di bidang ekonomi selanjutnya adalah dibentuknya kawasan perdagangan bebas atau AFTA. Kawasan perdagangan bebas ini bertujuan membangun produsen dari sektor produksi di tingkat lokal untuk mendapatkan fasilitas yang bersifat khusus.
Rasa memiliki
Tujuh tahun ke depan, yaitu tahun 2030, integrasi kawasan di kawasan ASEAN akan memberi warna baru pada peta kerja sama kita dengan negara tetangga, yaitu masalah konektivitas, IT, komunitas terdidik, energi, dan digitalisasi.
Baca Juga : Krisis Pariwisata ASEAN Akibat Pandemi Covid-19 Didiskusikan dalam Forum ASTSE Secara Virtual
Selama beberapa waktu terakhir di ASEAN, Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan yang nyata. Perlu dicatat bahwa sejak berdirinya hingga saat ini tidak ada satu pun keputusan ASEAN di tingkat manapun yang tidak memperhitungkan posisi Indonesia.
Ketika saya menjabat Deputi Sekjen di Sekretariat ASEAN, mendiang Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan menyatakan bahwa “ASEAN will be a rules-based and people-oriented organization with its own legal personality”. Pandangan mantan Menlu Thailand ini sering diulangi dalam beberapa pidato beliau.. (Malaysian National News Agency: BERNAMA” Bernama.com.my. Archived from the original on 14 January 2009.
Pertanyaannya apakah capaian, misi dan pelaksanaan keketuaan ASEAN itu hanya dibebankan kepada pemerintah semata? Tidak. ASEAN sesuai dengan piagam 2008 adalah people-driven organization seperti kata mendiang Surin Pitsuwan diatas. Pebisnis, LSM dan akademisi adalah entitas ASEAN. Mereka mempunyai peran masing-masing dalam membangun ASEAN.
Baca Juga : Di KTT ASEAN : Presiden Jokowi Dorong ASEAN Travel Corridor
Sejak terbentuknya ASEAN, Indonesia telah menunjukkan peran besar dalam mengembangkan organisasi tersebut. Selain sebagai salah satu negara pendiri, kehadiran Indonesia di ASEAN juga menjadi indikator penting dalam kiprahnya di level regional dan global. [*]
- Penulis : Bagas Hapsoro I Deputi Sekjen ASEAN (2009-2012) dan pemerhati hubungan internasional