WARTAEVENT.com – Jakarta. Fakultas Komunikasi LSPR melalui Jurusan Hubungan Internasional, menggelar Forum Diskusi Cakrawala Ambassador Talks Vol.4 Soft Power, pada (19/05/2023) secara hybrid dari Kampus LSPR, Jakarta.
Dalam forum diskusi Cakrawala Ambassador Talk kali ini mengangkat tema “Diplomasi Publik Indonesia Bersama Gerakan Non Blok (GNB) Mengarungi Dinamika Politik Internasional dan Bedah Buku “Menjelang Senja di Santiago”.
Baca Juga : Menyikapi Sikap Uni Eropa Menyangkut Deforestasi
Prita Kemal Gani, CEO LSPR dalam sambutannya menyatakan, Cakrawala memiliki arti lengkungan langit, sedangkan dalam percakapan umum sehari-hari dimaknai untuk menggambarkan luasnya pengetahuan seseorang, begitu luasnya sampai tak bertepi, batasnya pun nun jauh di tepi langit, di Cakrawala.
Tidak hanya itu, Cakrawala juga menggambarkan betapa luas dan kayanya negara Republik Indonesia, mulai dari alam, budaya, hingga masyarakatnya yang plural. Namun dapat bersatu dalam balutan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diikat dengan komitmen kebangsaan “Bhineka Tunggal Ika.
“Oleh sebab itu, program edukasi publik ini yang membahas isu-isu dunia komunikasi hubungan internasional yang lingkupnya seluas Indonesia tersebut diberi nama “Cakrawala Ambassador Talks,” tambahnya.
Baca Juga : Ini Bahasan Utama dalam ASEAN Senior Officials Meeting di KTT ASEAN 2023
Cakrawala Ambassador Talks ini dikemas untuk menjadi sarana edukasi dan diskusi antara Mahasiswa LSPR dan para praktisi Diplomatik, seperti para Duta Besar RI di mancanegara untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, informasi, motivasi, dan manfaat segala hal terkait diplomasi.
Diar Nurbintoro, S.H., M.H., Duta Besar Rumania Periode 2013-2017 dan Plt. Direktur NAM CSSTC. menyampaikan, bentuk GNB pada situasi dunia saat ini berupa gerakan yang memperhatikan kehati-hatian dalam mengambil langkah, seperti mengurangi upaya aspek isu politik yang dapat menggoyahkan eksistensi GNB.
“NAM CSSTC hadir dan berperan dalam menguatkan posisi dan kredibilitas Indonesia dalam dunia Internasional, melalui aspek ekonomi dan sosial-budaya dengan upaya dalam meningkatkan capacity building di negara-negara yang memerlukan bantuan kemampuan dalam menciptakan kesejahteraan,” katanya.
Baca Juga : Menlu Retno: Hasil KTT ASEAN 2023 Dipastikan Konkret dan Bermanfaat
Sementara itu di sesi bedah buku, Trias Kuncahyono, Jurnalis Senior Kompas menjelaskan, saat ini, upaya banyaknya penulisan buku oleh para tokoh penting hingga diplomat negara menjadi hal yang menarik yang perlu diberikan apresiasi secara luas.
Buku ‘Menjelang Senja di Santiago’ merupakan salah satu bentuk nyata bahwa dengan tekad yang gigih, maka kita dapat meraih impian yang diinginkan dari usaha yang dicurahkan.
Baca Juga : Indonesia Siapkan 375 Kendaraan Listrik untuk Delegasi KTT ASEAN, PLN Sediakan 108 SPKLU Ultra Fast Charging
“Dengan cerita yang menarik dan apa adanya, buku ini memberikan banyak pelajaran dan inspirasi dengan pengalaman-pengalaman beliau yang tidak terduga memberikan pembelajaran dan inspirasi bagi diplomat muda hingga generasi penerus bangsa lainnya,” pungkasnya. [*]
- Editor : Fatkhurrohim