III. DARI PELESTARIAN MENUJU PEMBANGUNAN EKOSISTEM
Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi kebijakan yang penting untuk mengubah cara pandang tersebut. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan memberikan kerangka bahwa kebudayaan tidak semata-mata harus dilestarikan, tetapi harus dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan dibina. Kerangka ini kemudian diperkuat melalui PP Nomor 87 Tahun 2021 sebagai peraturan pelaksanaan UU Pemajuan Kebudayaan. Artinya, secara konseptual kita telah memiliki landasan untuk bergerak dari paradigma konservasi menuju paradigma pemajuan.
Siklusnya harus dibaca secara utuh: PELESTARIAN → PENGEMBANGAN → PEMANFAATAN → PEMBINAAN. Keempatnya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Pelestarian melindungi, menjaga akar dan identitas. Pengembangan membuka ruang kreativitas dan inovasi. Pemanfaatan menghadirkan manfaat sosial, pendidikan, ekonomi, dan pariwisata. Sementara pembinaan memastikan hadirnya manusia yang memiliki kapasitas untuk meneruskan dan mengembangkan kebudayaan.
Baca Juga : Dibalik Cerita “Mintaraga” yang Dipentaskan Grup Wayang Orang Sriwedari
Sebab tradisi yang hanya dilestarikan dan dilindungi dapat membeku menjadi artefak. Tradisi yang hanya dikembangkan dapat kehilangan akar. Tradisi yang hanya dimanfaatkan berisiko direduksi menjadi komoditas. Pembinaan seni tradisi yang tidak didukung ekosistem sosial, kelembagaan, teknologi, pasar, dan ekonomi kreatif akan kesulitan melahirkan regenerasi yang berkelanjutan. Karena itu, masa depan kebudayaan tidak cukup dibangun melalui proyek, festival, dan program sesaat, yang dibutuhkan adalah ekosistem budaya yang hidup dan berkelanjutan.
Ekosistem yang mempertemukan pelaku budaya, komunitas, keluarga, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, industri kreatif, teknologi, media, pariwisata, platform digital, pasar, dan masyarakat. Dengan ekosistem semacam itu, tradisi tidak hanya diselamatkan dari kepunahan. Tradisi diberi ruang untuk tumbuh, berinovasi, menciptakan nilai, membuka lapangan kerja, membangun kebanggaan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Pelestarian menjaga agar budaya tidak hilang. Ekosistem memastikan budaya terus hidup.
IV. REGENERASI ADALAH INFRASTRUKTUR KEBUDAYAAN
Gedung kebudayaan penting, Festival penting, Museum penting, Dokumentasi penting.
Arsip penting. Namun semuanya akan kehilangan makna apabila manusia yang memiliki, memahami, menguasai, dan meneruskan tradisi semakin sedikit. Karena itu, regenerasi bukan sekadar agenda pendidikan seni. Regenerasi adalah infrastruktur paling fundamental bagi keberlanjutan kebudayaan. Di sinilah pengalaman pelatihan seni pedalangan di Sanggar Wayang Ajen menjadi relevan untuk dibaca lebih jauh.
Pelatihan tidak ditempatkan semata-mata sebagai proses mencetak dalang. Ia dapat menjadi ruang untuk membangun manusia kebudayaan: manusia yang memiliki akar tradisi sekaligus kemampuan membaca perubahan zaman. Seorang anak yang belajar pedalangan, misalnya, tidak cukup hanya diajarkan bagaimana memegang dan memainkan wayang. Ia perlu memahami teknik pedalangan, vokal dan bahasa, karakterisasi tokoh, dramaturgi, musik dan irama, sastra, filosofi, sejarah, estetika, serta nilai-nilai budaya yang menjadi fondasinya. Tetapi itu saja belum cukup.
Generasi baru juga akan hidup di dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka berhadapan dengan media sosial, kecerdasan buatan, ekonomi kreatif, platform digital, perubahan perilaku penonton, industri hiburan global, dan persaingan perhatian yang luar biasa ketat. Karena itu, pendidikan tradisi harus diperluas dengan komunikasi publik, literasi digital, produksi pertunjukan, produksi konten, manajemen, kewirausahaan, pemasaran, jejaring kolaborasi, serta literasi kekayaan intelektual.
Dengan demikian, seorang calon dalang tidak hanya dipersiapkan untuk tampil di atas panggung. Ia dipersiapkan untuk menciptakan karya, membangun komunitas, memproduksi konten, berkolaborasi, membaca pasar, mengembangkan inovasi, memanfaatkan teknologi, dan membangun profesi yang bermartabat.
Baca Juga : Twibbon MPLS dan Etika Digital: Saatnya Sekolah Utamakan Karakter Peserta Didik
Tujuan akhirnya pun berubah. Kita tidak sekadar mencetak dalang, penari, pemusik, atau pelaku seni tradisi. Kita sedang membangun talenta kebudayaan masa depan—manusia yang berakar pada tradisi, terbuka terhadap inovasi, menguasai teknologi, memiliki daya cipta, mampu membangun jejaring, dan sanggup mengubah kekayaan budaya menjadi karya serta manfaat yang berkelanjutan.
Regenerasi bukan sekadar meneruskan siapa yang tampil di atas panggung. Regenerasi adalah memastikan bahwa pengetahuan, nilai, kreativitas, identitas, dan masa depan kebudayaan tetap memiliki manusia yang mampu menghidupkannya. Dan dari sinilah persoalan menjadi lebih besar.
Baca Juga : Dari Gastronomi hingga Seni: Sarirasa Rayakan 51 Tahun Jadi Pelopor Kuliner, Budaya, dan Lingkungan
Bagaimana model pelatihan seni tradisi dapat dirancang bukan hanya untuk menghasilkan seniman, tetapi membangun ekosistem kehidupan? Bagaimana sanggar dapat menjadi laboratorium kebudayaan sekaligus inkubator talenta dan ekonomi kreatif? Bagaimana anak-anak yang belajar tradisi dapat memiliki jalan menuju profesi, pasar, teknologi, dan dunia global tanpa kehilangan akar budayanya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menjadi pembahasan pada bagian berikutnya. (Bersambung)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Sutradara Naya Anindita memperluas eksplorasi penyutradaraannya melalui Agensi Rumah Tangga, film komedi perdananya yang mengangkat isu pemutusan… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Perubahan selera wisatawan Indonesia membuat bisnis agen perjalanan tidak lagi cukup mengandalkan penjualan tiket pesawat. Pelaku usaha… Read More
YOGYAKARTA — Ada banyak cara untuk beristirahat. Sebagian orang memilih spa, yoga, atau sekadar menghabiskan waktu di hotel yang tenang.… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Tren fesyen berkelanjutan semakin menemukan ruangnya di tengah gaya hidup masyarakat urban. Salah satunya melalui BOCA Lapak,… Read More
TANGERANG, WARTAEVENT.com – Film tak hanya berhenti sebagai tontonan di layar. Di PIK 2, film menjadi pintu masuk untuk mempertemukan… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Kegelisahan terhadap kerusakan lingkungan dan ancaman bencana alam menjadi pesan yang semakin kuat dalam karya seni rupa.… Read More
Leave a Comment