Site icon WARTAEVENT.COM

Media Sosial, Pemimpin dan Masyarakat

WARTAEVENT.com – Jakarta. Media sosial menjadi salah satu alat untuk menyebarkan informasi. Peran media sosial dinilai sangat penting di era digital saat ini. Sebut saja Facebook, Twitter, dan Instagram.

Media sosial itu dinilai efektif untuk memberikan informasi tentang apapun. Hal itu berpotensi untuk meningkatkan partisipasi publik terhadap suatu hal.

Tidak diragukan lagi banyak manfaat yang diberikan semua platform media sosial, seperti penyebaran informasi secara aktual, berkomunikasi secara langsung antara komunikator (pemilik akun) dan komunikan (followers) secara real time, dan lain-lain.  

Hal ini memberikan keuntungan salah satunya meningkatkan koneksi, bahkan meningkatkan kesadaran masyarakat ataupun sosialisasi program kegiatan sebuah perusahaan. 

Penggunaan media sosial membuat masyarakat mengetahui kegiatan seseorang, baik publik figur sampai politsi. Pengguna dapat terhubung secara langsung dengan mereka.

Bagi politisi, media sosial bisa menjadi tunggangan yang baik untuk kampanye. Mereka aktif mengenalkan program atau kegiatan yang sedang dilakukan.

Namun, alih-alih aktif, banyak orang berpendapat bahwa unggahan di media sosial berbeda jauh dari aslinya mereka (politisi) dinilai hanya terkenal di dunia maya ketimbang di dunia nyata.

Beberapa waktu lalu, seorang politisi memberikan paparan terkait nya saat acara yang digelar di Semarang. Beliau setuju bahwa kehadiran pemimpin utama sebaiknya ada di tengah rakyat. Dengan pernyataan lengkapnya 

“Pemimpin itu ke depan adalah pemimpin yang ada di lapangan. Pemimpin yang memang dilihat teman-temannya, orang-orang yang mendukungnya. Ada di lapangan, dan bukan hanya di media ataupun media sosial.”

Woman using a smartphone social medPenggunaan media sosial membuat masyarakat mengetahui kegiatan seseorang, baik publik figur sampai politsi./photo by_freepik

Himbauan ini dipaparkan kepada kadernya bahwa seorang pemimpin harusnya bekerja di lapangan, demi memberikan manfaat dan hasil nyata kepada masyarakat umum.

Hanya sangat disayangkan pernyataan tersebut diberitakan dengan menghilangkan esensi pernyataan tersebut sehingga memperkeruh bahkan menimbulkan situasi maupun persepsi buruk atasnya.

Dengan terjun langsung dan bertemu rakyat, pemimpin dapat mendengar suara warganya. Suara itu yang mencerminkan kebutuhan akan kebijakan-kebijakan yang nantinya akan dikeluarkan dan dilaksanakan oleh pemerintah.

Pemberi pernyataan tersebut adalah ibu Puan Maharani yang berbagi pengalamannya  sendiri saat kampanye berbulan-bulan sejak Pemilu pertamanya. Diceritakannya, Ia harus menginap di daerah, berangkat pagi dan pulang dini hari. 

Hal ini merupakan usaha beliau untuk mencoba mengenali dan memahami tantangan yang dihadapi oleh masyarakat yang akan memilihnya.

Dalam kunjungannya ke Sulawesi Utara lalu beliau memaparkan, kita (wakil rakyat) ada di sini ujung-ujungnya untuk kesejahteraan rakyat. Kita akan berguna untuk melayani masyarakat dan masyarakat harus kita bantu untuk kesejahteraan mereka.  

Media sosial digunakan bukan untuk tampil, tetapi mendengarkan keinginan-keinginan masyarakat./Photo by_freepik

Jika aspirasi rakyat sudah dimengerti, pemimpin dapat menentukan porsi-porsi prioritas dalam kebijakannya. Ini akan berpengaruh pada penyaluran anggaran hingga undang-undang yang menguntungkan rakyat.

Sebagai pemimpin, alangkah baik jika ke depannya dapat mengkombinasikan kedekatan langsung dan tidak langsung pada rakyat. 

Media sosial digunakan bukan untuk tampil, tetapi mendengarkan keinginan-keinginan masyarakat. Media sosial menjadi perpanjangan kehadiran seorang pemimpin untuk yang dipimpinnya.

Dengan begitu, tercipta kedekatan yang nyata antara pemimpin dan masyarakat. Kepercayaan pun terbangun untuk menjalankan sistem kenegaraan yang adil dan mensejahterakan masyarakat.

Sebagai masyarakat umum, kita harus belajar menelaah pernyataan dengan mata dan hati terbuka, tanpa ada tendensi negatif sehingga meragukan bahkan memperkeruh keadaan dengan pernyataan-pernyataan keras yang tidak ada landasan.

Media sosial adalah channel atau saluran, pemilik akun lah yang tetap bertanggungjawab atas apapun yang ditulisnya. 

Berpikir 1000 kali sebelum melakukan posting di media sosial, karena apapun yang kita tulis memperlihatkan sejatinya diri kita sendiri.

 Kecintaan kita kepada Indonesia bukan dengan rajinnya ‘jempol’ kita, namun dengan hasil kerja sesungguhnya untuk sekitar kita. [*]

Exit mobile version