WARTAEVENT.com – Solo. Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) mengapresiasi event Grebeg Sudiro, yang digelar di Kelurahan Sudiroprajan, Solo, Jawa Tengah, dari tanggal 27 Januari hingga 24 Februari ini sebagai bentuk akulturasi budaya antara Tionghoa dan Jawa.
Hal ini disampaikannya saat berkunjung ke Kawasan Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah (10/02/2024). Ia menjelaskan, Grebeg Sudiro menjadi salah satu bagian 100 Karisma Event Nusantara (KEN). Event yang memasuki tahun ke-15.
Baca Juga : Beri Kontribusi Ekonomi Rp1,68 Triliun ke Masyarakat, InJourney Kembali Menggelar F1Powerboat Bulan Depan
Ini merupakan simbol dan wujud aktualisasi akulturasi, pembauran, dan harmoni dalam kebhinekaan di kawasan heritage Pasar Gede dan Kampung Pecinan yang menjadi bagian Kelurahan Sudiroprajan.
“Grebeg Sudiro menjadi event KEN pertama tahun 2024 yang digelar. Saya mencari event-event seperti ini, yang bisa naik kelas dari event kelurahan naik menjadi event provinsi. Saya berharap ini bisa menjadi event internasional,” lanjutnya.
Baca Juga : Menparekraf: Penyelenggaraan KEN 2024 Harus Berikan Multiplier Effect ke Masyarakat
Menariknya, selain event pertama KEN, Grebeg Sudiro juga berdekatan dengan Imlek, keseruannya pas dengan budaya Jawa. Ini menjadi simbol bahwa semua saudara dalam kebhinekaan Indonesia.
Menparekraf juga mengarahkan agar event Grebeg Sudiro ini dapat dikembangkan melalui platform digital. “Saya ingin strategi storynomicnya dikembangkan dan didokumentasikan dalam bentuk digital sehingga event ini bisa menjadi contoh event-event lain di Indonesia,” tambahnya.
‘Grebeg’ dalam tradisi Jawa, merujuk pada perayaan rutin dan ucapan syukur untuk memperingati peristiwa penting. Sementara ‘Sudiro’ diambil dari Kampung Sudiroprajan di sekitar Pasar Gede.
Baca Juga : Tahun Ini, Peluncuran KEN Ditandai dengan Parade Festival Seni dan Budaya
Tradisi ini awalnya untuk memperingati ulang tahun Pasar Gede Hardjonagoro yang digagas oleh warga etnis Tionghoa dan Jawa di Kampung Sudiroprajan.
Dengan semangat kebhinekaan, Pemerintah Kota Solo mendukung Grebeg Sudiro sebagai perayaan tahunan. Grebeg Sudiro melibatkan dua kegiatan utama, yakni sedekah bumi dan kirab budaya. Sedekah bumi mengekspresikan rasa syukur pedagang Pasar Gede dan masyarakat sekitar.
Baca Juga : Lestarikan Tradisi Sunda, Titimangsa Gelar Seni Tradisi ‘Sukabumi 1980’
Sementara kirab budaya melibatkan kebersamaan dua etnis, Tionghoa dan Jawa, dengan menampilkan tarian khas Jawa, serta pertunjukan Liong dan Barongsai. Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, dikenal sebagai Kampung Pecinan karena dihuni banyak etnis Tionghoa. (*)
- Editor : Fatkhurrohim
- Photo : Birkom : Kemenparekraf