WARTAEVENT.com – Jakarta. Selain memberikan dampak pada perekonomian nasional, penyelenggaraan Meeting Incentive Convention Exhebition (MICE) pun turut mendongkrak popularitas daerah ketika didapuk menjadi tuan rumah event MICE bersekala internasional. Hal ini pun akan berdampak signifikan pada pengembangan bisnis, sosial-budaya, dan pendidikan.
Menurut data dari International Congress and Convention Association (ICCA) Statistics and Country and City Rankings tahun 2019 lalu, Indonesia berada di peringkat 41 dunia untuk penyelenggaraan meeting asosiasi internasional dengan total partisipan internasional mencapai 37.874 orang.
Sedangkan untuk level Asia Pasifik, Indonesia berada di peringkat 10 dengan jumlah 95 meeting asosiasi internasional. Posisi ini naik satu tingkat dari tahun 2018 yang sebelumnya diurutan 11. Jika dihitung berdasar jumlah delegasinya, Indonesia menempati peringkat 4 dari kompetitor di Asia Tenggara.
Selain itu penelitian dari ICCA menyebutkan bahwasannya pengeluaran wisatawan MICE tercatat 53 persen lebih besar dibanding wisatawan leisure. Masa tinggal wisatawan MICE pun lebih lama dibanding wisatawan leisure, yakni rata-rata 5 hari.
Berkaca pada data tersebut, MICE benar-benar berkontribusi besar atas perekonomian nasional dan dapat diandalkan sebagai quality tourism untuk membangun pariwisata Indonesia.
Hal ini pun selaras dengan arahan Presiden RI, Joko Widodo, bahwa pembangunan pariwisata kini harus berlandaskan pada wisatawan yang berkualitas. Sudah tidak lagi pada banyaknya jumlah kunjungan.
Sejalan dengan arahan Presiden, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baperakraf) berkomitmen membangun pengembangan industri MICE tanah air.
Guna meningkatkan posisi dan daya saing MICE secara global, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) telah menetapkan tujuh destinasi prioritas MICE, yaitu Bali, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar.
Sebanyak tujuh destinasi MICE tersebut ditetapkan berdasarkan fasilitas MICE yang memenuhi standar dan daya tarik destinasi yang menjadi magnit penyelenggaraan business event seperti asosiasi bisnis, asosiasi kedokteran, pemerintahan, institusi internasional dan lainnya.
Pada sisi lain, pengembangan infrastruktur umum seperti aksesbilitas udara, darat, laut dan ketersedian sarana dan prasarana di tujuh destinasi MICE tersebut akan memastikan penyelenggaraan business events berjalan lancar serta aman.
Satu hal lagi, keberagaman seni dan budaya Indonesia dapat menjadi nilai tawar tinggi sebagai destinasi MICE internasional. Pertumbuhan ekonomi yang konsisten, besarnya pasar domestic dan didukung dengan demografi yang indah dapat menjadi daya tawar tinggi menjaring investor dan pebisnis internasional ke Indonesia.
MICE Dimasa Pandemi
Semasa pandemi Covid-19, sektor MICE termasuk paling terdampak. Berdasarkan data dari Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI), opportunity loss dari pandemi Covid-19 karena dibatalkannya eventpameran mencapai Rp44,3 triliun.
Adapun kerugian dampak turunan ekonominya jauh lebih besar, mencapai Rp103 triliun. Pasalnya, turunan ekonomi dari pameran juga mengalir ke industri lainnya, seperti akomodasi, transportasi, dan UMKM.
Sebagai upaya membangkitkan kembali sektor MICE pada era New Normal, Direktorat MICE Kemenparekraf menyiapkan tiga program pemulihan. Pertama, merumuskan bersama panduan pelaksanaan Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE) pada kegiatan MICE dan juga menyosialisasikannya.
Kedua, melakukan kolaborasi dengan pemerintah daerah di destinasi MICE dan mengikuti kebijakan daerah yang diterapkan. Ketiga, menetapkan destinasi yang telah siap melaksanakan kembali kegiatan MICE, dan memberikan stimulus atau booster untuk membawa pelaksanaan kegiatan MICE internasional di Indonesia.
Selain itu, Direktorat MICE juga memberikan dukungan kegiatan (Meeting & Incentive), semisal melakukan sales mission, trade show, visa recommendation, pemberian give away, cultural performance, dinner, dan fast track jalur imigrasi.
Untuk kegiatan bidding event internasional (Convention), Direktorat MICE jmembantu memberikan surat dukungan, delegate boosting, media promo, site inspection, give away, pendukungan media trip, hingga evaluasi event.
Sementara untuk kegiatan (Exhibition), pemerintah memberikan surat dukungan, media promo, hosted buyer, VIP/media lounge, media trip, dinner, dan juga giveaway.
Melalui serangkaian upaya tersebut, diharapkan industri MICE dapat segera bangkit. Berdasarkan kajian beberapa negara, segmen MICE akan lebih cepat pulih dibandingkan segmen leisure. Sektor MICE ditengarai bakal mulai pulih pada semester kedua 2021.
Peluang dan Potensi MICE Mendatang
Beberapa kantor perwakilan Visit Indonesia Travel Officer (VITO) di luar negeri menyebutkan bahwa segmen bisnis yang akan pertama kali melakukan perjalanan. Tak hanya itu, beberapa negara pun telah membuka pintu negaranya untuk kegiatan bisnis terlebih dahulu. Dan, wisatawan MICE diperkirakan akan menjadi primadona di tahun-tahun mendatang.
Faktanya, Indonesia dan Singapura telah menjalin Reciprocal Green Lane (RGL) sejak 26 Oktober 2020. Dengan adanya kerja sama tersebut, wisatawan bisnis dari kedua negara dapat memulai kembali kegiatan bisnis MICE. Hal tersebut tentu menjadi sinyal positif untuk perhelatan kegiatan MICE internasional di Indonesia.
Di tahun 2021 mendatang, Indonesia telah dipastikan akan menggelar 20 kegiatan MICE berskala internasional diantaranya 52th Annual Conference of the Asia-Pacific Academic Consortium for Public Health, International Social Security Association (ISSA) 1st International Conference on Management of Social Security, World Conference on Creative Economy, 58th International Association of Women Police, World Summit of the International Federation of Purchasing and Supply Management, serta World Custom Organization (WCO) Technology Conference.
Dengan segala upaya yang telah dan akan dilakukan, diharapkan pasca pandemi Covid-19 Indonesia siap menjadi destinasi MICE internasional dan domestik yang berdaya saing. [*]
- ADVERTORIAL