Wartaevent.com, Jakarta – Post Festival atau PostFest merupakan gerakan yang digagas oleh PascaSarjana IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan tujuan untuk memberikan gagasan baru akan sebuah festival yang didasari oleh research, training, dan eksperimentasi yang dimentori oleh pakar-pakar seni. Festival ini diselenggarakan pertama kali tahun 2017. PostFest akan menjadi sebuah rangkaian peristiwa pameran yang menampilkan sebuah gagasan kreatif melalui pagelaran seni pertunjukan, pameran seni rupa, film, dan seni digital.
Bidang film tahun ini akan menampilkan program berjudul Sinema Timur. Program ini dihadirkan sebagai wujud kepedulian akan potensi wilayah Indonesia Timur dan dunia timur yang selama ini jarang tampil. PostFest memberikan ruang bagi film-film dari Timur untuk diapresiasi.
PostFest menghadirkan 30 film dari Papua, Makassar, Kendari, Palu, Ambon, Palestina, Syiria, Irak dan Afghanistan. Film-film yang dihadirkan adalah film panjang dan pendek dengan beragam genre seperti fiksi, dokumenter dan animasi.
Film berjudul Mentari di Ufuk Timur karya Irham Acho Bachtiar akan diputar perdana di festival ini. Film ini menceritakan tentang perjuangan para guru dan masyarakat untuk membangun sebuah sekolah di Muting, sebuah desa terpencil di Merauke. Dibintangi oleh Mathias Muchus dan Nadine Chandrawinata.
Molulo sebuah film yang disutradarai oleh Irham Acho Bachtiar juga akan ditayangkan. Film ini mampu bertahan di bioskop di Palu selama dua bulan, menggeser film The Avengers.
Film-film dari Indonesia bagian timur sangat beragam, ada cerita tentang seorang anak yang tidak bisa mencoba sepatu baru karena hujan. Ada juga cerita tentang gadis Papua yang dihamili tentara dari Bandung atau film perdana dari sutradara Papua yang bercerita tentang penemuan benda-benda peninggalan penjajah seperti kapal tank, peluru dan bandara.
Film-film dari Papua banyak bercerita tentang kasus hak asasi manusia atau bagaimana mereka dipaksa tercerabut dari identitas asli mereka. Film dari Ambon menceritakan tentang sebuah reuni perdamaian, tentang seorang anak yang kehilangan baju bolanya dan tentang para pendayung perahu yang kehilangan penghasilan akibat pembangunan.
Film-film dari dunia timur juga begitu indah menyentuh. Film dari Irak banyak bicara tentang kematian tetapi juga persahabatan seorang anak muslim dan orang tua Yahudi. Film dari Afghanistan berbicara tentang kehidupan yang tidak mudah dan kepolosan seorang anak muda dalam menemukan keberuntungan. Film dari Syiria berbicara tentang perang yang mengancurkan dan film dari Palestina berbicara tentang ketidakadilan.
Film-film tersebut dikurasi oleh Sofia Setyorini dan dapat disaksikan pada tanggal 3-5 Agustus 2018 di Kineforum. Penonton tidak dipungut bayaran. Pemutaran film dimulai jam 14.00 pada tanggal 3 Agustus dan selanjutnya dimulai jam 13.30 WIB.
TANGERANG SELATAN, WARTAEVENT.com — Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menggelar Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) dan Sertifikasi Kompetensi Skema Fotografer Junior bagi… Read More
CIREBON, WARTAEVENT.com — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Pos Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) Cirebon memperkuat… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Kawasan Senen, Jakarta Pusat, memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat aktivitas perdagangan dan bisnis ibu kota.… Read More
BANTUL, WARTAEVENT.com — Kuasa Hukum Penggugat, Arief Ariyanto, menyampaikan sikap resmi pihak penggugat terkait penundaan sidang putusan gugatan hasil Musyawarah… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — PT Sari Coffee Indonesia (SCI), pemegang lisensi dan operator Starbucks di Indonesia, menominasikan tiga organisasi lokal untuk… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Kekayaan rempah dan cita rasa kuliner Indonesia berpadu dengan teknik gastronomi Prancis melalui Nusantara A La Francaise:… Read More
Leave a Comment