WARTAEVENT.com – Bone. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada hari ini Rabu (18/08/2021) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Kolaborasi ketiga lembaga pada acara kali ini, tema yang diangkat adalah “Jangan Asal Komentar, Kikis Ujaran Kebencian”. Dan diikuti oleh 648 peserta dari berbagai kalangan masyarakat.
Ada 4 narasumber pada sesi sesi webinar siang ini, di antaranya jurnalis, pengajar penulisan kreatif dan pendiri BandungBergerak.id, Tri Joko Her Riadi; dosen Universitas Negeri Makassar, Trainer & Asesor, Muhammad Rhesa; pendiri Tentangpuan.com, Neno Karlina; serta Redaktur Eksekutif Ligo.id, Arfan Dalanggo.
Pemateri pertama, Tri Joko Her Riadi membawakan materi kecakapan digital dengan tema “Konsumen yang Cerdas, Produsen yang Kreatif”. Menurut dia, sebagai konsumen, kita harus cerdas menyaring informasi, memahami tujuan berinternet, dan cermat dalam soal privasi.
Di sisi lain, sebagai produsen kita mesti kreatif mewarnai jagat maya dengan membuat sesuatu yang penting, menarik, menginspirasi, dan bermanfaat bagi publik.
Rhesa, pemateri kedua menyampaikan materi etika digital berjudul “Mengendalikan Diri, Menghindari Ujaran Kebencian di Media Sosial”. Ia mengatakan, ujaran kebencian umumnya mencakup beberapa kategori terkait agama, ras, fisik, gender, dan orientasi seksual. Untuk melawannya, diperlukan keterampilan, intelektualitas, norma etika moral, serta nalar kritis.
Sebagai pemateri ketiga, Neno membawakan tema budaya digital tentang “Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar di Dunia Digital”. Menurut Rhesa, memperhatikan karakteristik target komunikasi, menjaga emosi dan kontrol diri, menggunakan tanda baca dan emoticon yang sesuai, hindari menghakimi orang lain, tak menggunakan bahasa provokatif dan berlebihan, serta teliti sebelum berbagi merupakan beberapa tips berbahasa yang baik dan benar.
Adapun Arfan, sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema keamanan digital mengenai “Dunia Maya dan Rekam Jejak Digital”. Ia mengatakan, jejak aktifitas kita di dunia maya terekam permanen dalam jejak digital, karenanya, penting untuk menjaga jejak tetap positif agar tak merugikan di kemudian hari.
Ini bisa dilakukan dengan memahami secara detail isu yang dibahas, memikirkan respon orang lain, hingga melaporkan apabila konten bermuatan negatif.
Salah satu peserta bertanya tentang cara menghadapi ujaran kebencian yang ditujukan kepada kita. Narasumber menyarankan untuk memperketat dan menyaring pertemanan, komentar, atau kiriman.
Jika sudah siap dengan konsekuensi aktivitas dunia maya, kita bisa mengabaikannya atau laporkan dan blokir jika terjadi berulang kali dan terus-menerus oleh pelaku yang sama.
Program Literasi Digital mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat Sulawesi.[*]