WARTAEVENT.com – Jakarta. Tahun 2024 mendatang, tren pariwisata berkelanjutan atau sustainability tourism bakal menjadi tren dikalangan wisatawan. Desa Wisata adalah salah satu contohnya.
Vitria Ariani, Pengamat Pariwisata sekaligus CEO & Founder Berbangsa, saat menjadi narasumber di event Indonesia Tourism Outlook 2024 yang berlangsung pada hari Selasa (28/12/2023), di Jakarta, menyatakan, pariwisata ramah lingkungan dan berkelanjutan banyak diminati wisatawan.
Baca Juga : Terungkap, Begini Tantangan dan Tren Pariwisata Indonesia Tahun Depan
“Pada 2017 dunia mencanangkan hari suistainable atau berkelanjutan di mana 82 persen menghormati warisan budaya. Selain itu kualitas pekerja lokal pariwisata mempunyai komitmen tinggi untuk menjaga warisan budaya,” katanya.
Vitria Ariani menambahkan, contoh konkrit pariwisata berkelanjutan adalah desa wisata “Kalau mau belajar suistanable bisa belajar dari desa wisata. Desa Wisata, yang tadinya enggak dilihat, sekarang jadi destinasi yang dilihat banget. Ini terjadi saat pandemi Covid-19,” kata Vitria Ariani.
Hal senada pun diungkap oleh Eko Binarso, Founder Tanakita. Ia mengatakan, wisata petualangan pun menjadi tren pariwisata ke depan seperti adventure activities (hiking, culture, kuliner, dll) menjadi hot trending tahun 2023.
Baca Juga : Pariwisata Indonesia Tertinggal dengan Negara Lain, Ini Faktornya
Eko Binarso mengatakan, wisata petualangan yang belum digarap secara optimal adalah wisata alam. “Kita harus bangga punya world heritage seperti Gunung Rijani, Komodo, Gunung Leuser yang aktivitas wisatanya sangat ramah lingkungan,” kata Eko.
Tantangan dan Investasi Pariwisata Tahun Depan
Sementara itu menurut Andry Satrio Nugroho, Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi (INDEF), investasi wisata berkelanjutan menjadi tren ke depan terutama pada energy-efficient transition.
Tren ke depan sektor akomodasi didorong untuk menghadirkan penggunaan perangkat yang efisien dalam menghasilkan energi ramah lingkungan. Juga meningkatkan efisiensi penggunaan air bersih.
“Water management dalam mengefisiensikan penggunaan air bersih oleh wisatawan serta pengelolaan limbah secara terpadu menjadi perhatian pelaku industri pariwisata dan perhotelan,” kata Andri.
Tren pariwisata 2024 akan mengalami hyperlocal and slow travel dimana para wisatawan ini tidak ingin cepat-cepat menghabiskan waktu. Waktu yang dihabiskan dalam berwisata jauh lebih lama dan memilih destinasi domestik yang menawarkan konsep alam dan wisata hijau.
Baca Juga : Ini Setrategi Kemenparekraf Hadapi Tantangan Pariwisata Tahun Mendatang
Tantangan pengembangan wisata alam, menurut Eko Binarso, antara lain infrastruktur, aksesibilitas, bencana alam, keselamatan wisatawan, pengelolaan dampak, promosi dan branding, koordinasi kelembagaan, menciptakan destinasi baru, polusi.
Sementara AB Sadewa, Corporate Secretary Panorama Group menuturkan, ekonomi hijau itu bisa masuk dalam pendapatan pajak terkait dengan jual beli karbon dengan memanfaatkan tata laksana penerapan nilai ekonomi karbon yang betul.
“Sustainability memang gampang diomongin tapi ternyata sulit dikerjakan prakteknya, karena itu perlu komitmen bersama mewujudkan green tourism,” tutur Sadewa.
Menurutnya, ada empat hal komitmen untuk mewujudkan green tourism, pertama perubahan iklim dan pelestarian alam, kedua demand dari sisi market, ketiga regulasi, dan keempat kebutuhan industri.
Baca Juga : Terungkap, Begini Tantangan dan Tren Pariwisata Indonesia Tahun Depan
Kegiatan ITO 2024 yang digelar Forwaparekraf bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), disponsori oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan didukung oleh Jambuluwuk Hotels & Resto, Sari Ayu Martha Tilaar, Intiwhiz Hospitality Management, Bookcabin By Lion Group, Amaryllis Boutique Resort, Wings Group, dan MEG Cheese. (*)
- Editor : Fatkhurrohim