WARTAEVENT.com – Batu. Ruang digital yang memberikan kebebasan bagi penggunanya berpotensi membuat orang bertindak etis dan tidak etis. Oleh sebab itu tantangan bagi warga digital adalah menjadi pengguna internet yang beradab agar bisa melawan hal-hal negatif yang tersebar di ruang digital.
Aidil Wicaksono, Managing Director Kaizen Room, menyampaikan hari ini masyarakat tidak hanya menghadapi pandemi Covid-19, tetapi juga infodemi yaitu kondisi dimana informasi seputar pandemi berseliweran hingga sulit menguraikan mana informasi benar dan mana yang hoaks. Kondisi ini mempengaruhi tingkat pelaksanaan vaksinasi kepada masyarakat.
Hoaks seputar kesehatan dan pandemi Covid-19 banyak beredar di internet sehingga menutupi informasi yang sebenarnya. Infodemi semakin sulit terbendung karena hoaks disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.
“Aktivitas digital akan sangat bahaya jika tidak diimbangi dengan literasi digital. Lebih-lebih sebaran hoaks tidak hanya berupa tulisan teks, tetapi juga gambar, hingga video,” ujar Aidil, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (01/12/2021).
Ia mengatakan, dengan literasi digital, akan membantu warganet untuk lebih kritis ketika menerima informasi. Warga digital dapat melakukan penelusuran gambar untuk mendeteksi sebuah informasi itu hoaks, caranya dengan menginput gambar melalui fitur Google Image Search.
Memverifikasi sebuah informasi merupakan hoaks atau bukan itu dapat dilakukan dengan mengecek kredibilitas sumber informasi. Kita perlu memeriksa nama domain situs, sebab tak sedikit situs yang memiliki nama hampir sama namun domainnya berakhiran –lo atau .com.co. Informasi hoaks biasanya tidak mencantumkan atribusi penulis, konten berita tidak berimbang dan memprovokasi.
“Laju penyebaran hoaks sering memperburuk keadaan, oleh sebab itu kita harus ikit serta berpartisipasi melawannya. Caranya dengan lebih bijak dalam membagikan konten, disaring dulu sebelum dibagikan. Mengunggah hal yang penting bukan yang penting mengunggah, serta biasakan untuk sabar dan tidak reaktif ketika menerima informasi,” pesannya.
Ia menjelaskan ada faktor-faktor internal, eksternal, serta keamanan bersama yang perlu diperhatikan sebagai pengguna media digital. Internet dan ruang digital sifatnya global sehingga harus sadar bahwa itu adalah ruang publik.
“Ada ancaman keamanan jika lalai dalam bermedia, karena ancaman keamanan digital itu juga datang dari kelengahan pengguna yang kemudian dimanfaatkan dan disalahgunakan orang lain. Misalnya ketika membuang bungkus kiriman paket yang masih memuat potongan data pribadi, jika ditemukan orang yang tidak bertanggung jawab data tersebut dapat disalahgunakan,” terangnya.
Lanjutnya, aktivitas di ruang digital akan meninggalkan jejak yang jika tidak hati-hati juga dapat menjadi ancaman keamanan. Jejak digital bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Makanya harus dilindungi dan dirawat, khususnya yang berkaitan dengan data pribadi. Lebih-lebih data yang sifatnya privat seperti data finansial, data kependudukan, data kesehatan, data biometrik dan sebagainya.
“Lakukan langkah pengamanan sejak dini dengan menggunakan password yang kuat dan memperbaruinya secara berkala. Memproteksi perangkat digital dan piranti lunak dengan password, mengaktifkan verifikasi dua langkah, serta mengatur keamanan privasi. Selalu usahakan membaca terlebih dahulu untuk memberikan izin akses aplikasi, serta tidak menyebarkan data pribadi kepada orang lain,” tutupnya.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (01/12/2021) juga menghadirkan pembicara, Erna Eriana (Chief Executive Officer Cleopatra Management), M. Alvin Al Huda (Praktisi Digital Marketing), Aristyo Hadikusuma (Director at Otinesia), dan Lady Kjaernett (Digital Creator) sebagai Key Opinian Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. [*]