wartaevent.com – Sumedang. Kini tantangan Pemda Sumedang kian berat bahkan berakibat tidak bersahabat dengan pariwisata seperti lingkungan kumuh, semrawut, lemah dalam menegakkan GSB (garis sempadan bangunan), warga yang semakin tidak tertib dalam berlalu lintas, iklan rokok yang kian meluas dan merengsek perdesaan, dan berbagai kecenderungan negatif lainnya.
Produk pariwisata (3A = Aksesibilitas, Atraksi Wisata, Amenitas) di Kabupaten Sumedang sesungguhnya bervariatif namun keberagaman tersebut belum dikembangkan karena terbatasnya kemampuan daerah.
Baca Sebelumnya : Tentang Desain Pengembangan Destinasi Pariwisata Waduk Jatigede Sumedang
Saat ini kuliner tahu telah cukup populer di masyarakat Jawa Barat, juga di daerah lain. Bahkan mampu mem-branding“Tahu Sumedang”. Juga produk pertanian seperti mangga gedong gincu dan pisang dari Sumedang cukup populer bahkan telah divisualkan dalam bentuk monumen di beberapa sudut jalan.
Namun citra produk Sumedang tersebut belum “dirawat” secara terstruktur dan berkesinambungan. Bahkan, kini cenderung terabaikan. Hingga kini, Kabupaten Sumedang telah memiliki berbagai daya tarik wisata yang didukung dengan ketersediaan 20 hotel dengan kapasitas 1.860 kamar.
Dalam kaitan dengan sumber daya manusia di pemerintahan daerah, pemahaman pariwisata masih sangat terbatas sehingga dalam menjalankan fungsi dan tugasnya belum efektif dan efisien.
Di lapangan masih kerap dijumpai praktek-praktek premanisme (pungutan liar, dlsb) di obyek dan daya tarik wisata (ODTW) sehingga merusak citra positif pariwisata dan menghambat terwujudnya kenyamanan wisatawan.
Baca Sebelumnya : Tentang Desain Pengembangan Destinasi Pariwisata Waduk Jatigede Sumedang (2)
Hingga saat ini, kegiatan Pembangunan Destinasi terutama pemasaran dan mempromosikan produk pariwisata masih sangat terbatas dan masih menggunakan cara konvensional. Penggunaan teknologi informasi masih dalam kategori 2.0 dan “biasa-biasa saja”.
Namun, pemanfaatan teknologi digital di industri pariwisata masih lebih baik dan berjalan sesuai harapan, baik dalam besaran kualitas, interdependensi, dan keberlanjutan. Dalam hal ini, event pariwisata masih belum diexplore dan masih dibutuhkan upaya yang lebih besar untuk bisa tampil dengan skala nasional. [*/Bagian 3 dari 4 Tulisan/M. Faried/Pemerhati Pariwisata & pernah sebagai Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri-Kementerian Pariwisata]
MAKASSAR, WARTAEVENT.com — Extrajoss Ultimate kembali memperluas pendekatan lifestyle marketing dengan menghadirkan “Extrajoss Ultimate Takeover Makassar” di kawasan Jalan Jend.… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Tren personal color analysis semakin mendapat tempat di kalangan urban, terutama generasi muda yang menjadikan warna sebagai… Read More
SURABAYA, WARTAEVENT.com – Kota Surabaya kembali dipilih sebagai kota pembuka rangkaian roadshow nasional Indonesia Coffee Expo (ICX) 2026. Pameran kopi… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Archipelago Hotels memperluas ekspansi bisnisnya di Sumatra dengan membuka fave+ hotel Lampung, pertengahan Mei 2026. Kehadiran hotel… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Industri automated retail di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan agresif seiring perubahan perilaku konsumen yang semakin mengutamakan kepraktisan… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Tren makanan cepat saji dengan harga terjangkau semakin menjadi perhatian di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat urban.… Read More
Leave a Comment