
WARTAEVENT.com – Palangkaraya. Meningkatnya transaksi uang elektronik patut dibarengi dengan kewaspadaan terhadap ancaman kejahatan siber yang mengincar uang para korban. Oleh karena itu, keamanan menggunakan perangkat digital harus terus ditingkatkan.
Hal itu menjadi pembahasan dalam webinar yang mengambil tema “Mudahnya Transaksi Digital dengan Uang Elektronik”, Jumat (2/12) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.
Baca Juga : Lindungi Data Pribadi Agar Hidup Aman dan Tentram
Narasumber dalam webinar ini adalah Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur Rocky Prasetyo Jati; Head of Digital Marketing Chronox Idul Futra alias Lim Sau Liang; serta Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro Astini Kumalasari.
Berdasar data dari Bank Indonesia, transaksi uang elektronik dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2012, misalnya, saat itu nilai transaksi uang elektronik sebesar Rp1,97 triliun. Namun, nilainya terus melonjak menjadi Rp204,91 triliun di 2020 lalu dan naik lagi menjadi Rp305,44 triliun pada 2021 lalu.
Baca Juga : Catat, Ini Bahayanya Dibalik Flexing
“Pemakaian uang elektronik kian digemari karena pembayaran bisa dilakukan dari jarak jauh, tidak repot membawa banyak uang tunai (cash), membuat transaksi dilakukan lebih cepat, serta bisa digunakan untuk berbagai pembayaran, misalnya untuk pembayaran tagihan listrik, air, BPJS, asuransi, pajak, atau pembayaran telepon,” kata Idul Futra.
Rocky menambahkan, data survei dengan rentang usia 16-64 tahun yang memiliki setiap jenis layanan keuangan digital, sebanyak 28,8 % menggunakan situs perbankan maupun aplikasi tiap bulannya. Lalu, 21,6 % gunakan mobile payment, kemudian, 16,4 % memiliki mata uang kripto.
“Lantaran kemudahan dan kepraktisannya, uang elektronik digunakan oleh 60,6 % responden dalam survei yang sama untuk membeli produk atau layanan online. Kemudian, ada 43,3 % menggunakan layanan pay later; sebanyak 36 % belanja di loka pasar,” ujar Rocky.
Menurut Astini Kumalasari, agar aman dalam bertransaksi keuangan secara digital, pengguna sebaiknya tidak menggunakan jaringan Wi-Fi publik, jangan sembarangan meng-klik tautan yang tidak jelas, dan transaksi yang berhasil dilakukan agar disimpan bukti transaksinya.
Baca Juga : Untuk Kualitas Siaran, Saatnya Dukung Siaran Televisi Digital
“Bertransaksilah di platform yang sudah terpercaya. Ingat, selalu rutin mengganti kata sandi atau PIN secara berkala dan buatlah kata sandi yang kuat agar tidak mudah dibobol pelaku kejahatan siber,” ucapnya.
Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.
Baca Juga : Literasi Digital Bisa Cegah Paparan Konten Negatif di Ruang Digital
Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. [*]
- Editor : Fatkhurrohim