News

Twibbon MPLS dan Etika Digital: Saatnya Sekolah Utamakan Karakter Peserta Didik

Prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” tetap relevan di era digital. Guru bukan hanya dituntut menguasai teknologi, tetapi juga menjadi teladan dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, membimbing peserta didik agar kreatif tanpa mengabaikan etika, sekaligus melindungi mereka dari berbagai risiko di ruang digital.

Transformasi digital memang membuka banyak peluang bagi dunia pendidikan. Media sosial dapat menjadi sarana pembelajaran, komunikasi, dan publikasi kegiatan sekolah. Namun, pemanfaatannya perlu disertai kebijakan yang memperhatikan perlindungan data pribadi.

Baca Juga : Indonesia Rayakan Hari Pendidikan Internasional 2025: “The Power of Youth in Building the Future of Learning”

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi mengatur bahwa data pribadi, termasuk foto seseorang, harus diproses secara bertanggung jawab sesuai tujuan yang sah.

Di sisi lain, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan atas identitas, martabat, serta tumbuh kembangnya.

Baca Juga : MORA Group Perbarui Perpustakaan untuk Dukung Pendidikan di Kulon Progo

Dalam konteks tersebut, sekolah perlu memastikan bahwa setiap bentuk publikasi yang melibatkan peserta didik dilakukan secara transparan, dengan persetujuan orang tua atau wali, serta mempertimbangkan manfaat dan risikonya.

Diskusi mengenai twibbon MPLS juga dapat menjadi momentum memperkuat pendidikan karakter di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Indonesia saat ini tengah menyiapkan generasi menuju visi Indonesia Emas 2045. Selain penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan sumber daya manusia juga menempatkan karakter sebagai prioritas utama.

Baca Juga : MORA Group Perkuat Dukungan Pendidikan di Kulon Progo Melalui Program MORA Impact

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam Profil Pelajar Pancasila yang menekankan enam dimensi utama, yaitu beriman dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Dalam perspektif budaya Nusantara, pendidikan karakter juga tercermin melalui berbagai kearifan lokal. Filosofi wayang, misalnya, menghadirkan Pandawa sebagai simbol integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan pengendalian diri, sedangkan Kurawa menggambarkan ambisi yang tidak lagi dikendalikan oleh nilai moral.

Page: 1 2 3

redaksi

Leave a Comment

Recent Posts

Reforestasi Batukaru Libatkan Pariwisata dan Masyarakat Bali

BALI, WARTAEVENT.com — Upaya memulihkan kawasan hutan di sekitar Pura Luhur Batukaru, Bali, memasuki tahap penanaman. Sebanyak 100 pohon ditanam… Read More

4 days ago

Starbucks Foundation Salurkan Bantuan Rp500 Juta untuk Nagekeo

JAKARTA, WARTAEVENT.com — Dukungan kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa Flores datang dari The Starbucks Foundation. Yayasan tersebut menyalurkan bantuan sebesar… Read More

4 days ago

APEKSI dan GoVirtual Dorong Kota Indonesia Masuk Era Imersif

JAKARTA, WARTAEVENT.com — Cara pemerintah kota memperkenalkan potensi daerah kepada investor mulai bergerak ke ruang digital yang lebih visual. Asosiasi… Read More

5 days ago

The Late Shift Hadirkan Comfort Food untuk Malam Jakarta

JAKARTA, WARTAEVENT.com — Setelah seharian berhadapan dengan ritme Jakarta yang padat, malam menjadi waktu untuk memperlambat langkah. Memanfaatkan momen tersebut,… Read More

5 days ago

ARTOTEL Casa Hangtuah Ajak Tamu Berbagi Kebaikan Bersama UNICEF

JAKARTA, WARTAEVENT.com — Momentum bulan kemerdekaan dimanfaatkan ARTOTEL Casa Hangtuah untuk mengajak masyarakat memaknai kebersamaan melalui aksi sosial. Hotel ini… Read More

5 days ago

Meruorah Komodo Labuan Bajo Raih Penghargaan Premium Hotel Trip.Best

LABUAN BAJO, WARTAEVENT.com — Meruorah Komodo Labuan Bajo meraih penghargaan “Trip.Best Premium Hotel 2026” dari Trip.com. Pengakuan ini menempatkan hotel… Read More

6 days ago