WARTAEVENT.com – Jakarta. Franky Supriyadi, Wakil Rektor Universitas Prasetiya Mulya Dalam webinar Kebangsaan bertajuk “Negosiasi Ala Diplomat” pada (23/03/2021), mengungkapkan bahwa aspek pengalaman dalam bernegosiasi perlu disampaikan dalam memperjuangkan kepentingan nasional bangsa Indonesia.
Dalam webinar tersebut, Franky pun mengharapkan agar pengetahuan, pengalaman dan jejaring kerja (networking) dengan masing-masing Dubes juga dapat disampaikan agar memberikan pengayaan pemikiran bagi para mahasiswa, pebisnis dan pemerhati hubungan internasional.
Baca Juga : Kisah 17 Diplomat Berkiprah di Mancanegara
Agus Sriyono mengawali presentasinya dengan memaparkan secara umum tentang elemen negosiasi. Disampaikan bahwa tugas dan fungsi utama diplomat, yaitu mewakili (representing), melindungi (protecting), negosiasi (negotiating), memajukan/promosi (promoting), melapor (reporting), dan mengelola (managing).
Dalam konteks itu, cakupan peran seorang diplomat antara lain mewakili dan melindungi kepentingan nasional negaranya melalui perundingan; memajukan kerja sama politik, pertahanan, ekonomi, sosial, dan budaya; melindungi warga negaranya, dan seterusnya.
Baca Juga : Indonesia – Tanzania Gelar Industrialization Forum
Webinar kebangsaan yang berlangsung di Universitas Prasetya Mulya ini melibatkan 3 diplomat senior sebagai narasumber yakni, A Agus Sriyono, Bagas Hapsoro, dan Dr. Abdurrahman M. Fachir.
Diplomasi Kopi Itu Down to Eart dan Netes
Bagas Hapsoro dalam kesempatan tersebut pun menyampaikan, bahwa salah satu kelebihan Indonesia dalam berhubungan dengan dunia luar adalah UUD nya. Alinea pertama dan keempat konsitusi Indonesia menegaskan prinsip dasar kebijakan luar negerinya.
Baca Juga : Kemenpar Bekali Diplomat Promosi dan Pemasaran Pariwisata Indonesia
“Berikutnya adalah keberagaman yang dimiliki Indonesia. Tidak ada negara satupun di dunia yang menyamainya, yaitu memiliki 714 suku bangsa dan 1.001 bahasa. Falsafah bangsa ini yang menyebabkan saat ini diplomasi membumi untuk kepentingan rakyat. Contohnya diplomasi kopi,” terang Bagas.
Diplomasi ini menyangkut keberpihakan kepada para petani, down to earth dan netes. “Dinamai down to earthmengingat hasilnya langsung dinikmati petani. Sementara Netesbisa melahirkan atau membuahkan sesuatu yang baru,” tambhanya.
Diplomasi kopi yang diinisiasi Kemlu adalah untuk membantu dan mengedukasi para petani dalam mempromosikan kopi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2018, 96,6% lahan kopi di Indonesia dikuasai oleh perkebunan rakyat yaitu petani mikro dan kecil, 2,02% perkebunan swasta dan 1,86% oleh perkebunan besar milik negara.
Baca Juga : Indonesia Menempati Peringkat Ke-9 Pariwisata Korea
Panelis terakhir, Abdurrahman M. Fachir menyampaikan bahwa Dubes sebagai negosiator harus dapat berhubungan dengan siapapun di negara akreditasi dengan pihak-pihak yang mempunyai kewenangan masing-masing. Pihak tersebut antara lain adalah pemerintah, pebisnis, perguruan tinggi, dan LSM.
Di sektor ekonomi, A.M. Fachir secara lugas menyampaikan sejumlah data tentang arti penting kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Mesir. Hal ini tentu cerminan dari tugas dan fungsi yang terkait dengan promoting di bidang kerja sama ekonomi. [*]
- Penulis & Editor : Fatkhurrohim