Industri Hotel Yogyakarta Tertekan, Ini Cara Natta Hospitality Hadapi Persaingan Ketat
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Dalam forum HAM Meet CEO di Jakarta, Jum’at, (13/3/2026), Thomas Matantu, CEO Natta Hospitality Management, mengungkapkan industri hospitality di Yogyakarta menghadapi tekanan serius akibat pertumbuhan hotel yang tidak seimbang dengan jumlah wisatawan, lemahnya promosi pemerintah, serta maraknya vila dan homestay illegal.
Industri perhotelan di Yogyakarta tengah memasuki fase kompetisi yang semakin ketat. Pertumbuhan jumlah hotel yang signifikan tidak diiringi peningkatan jumlah wisatawan secara proporsional. Kondisi ini memicu penurunan tingkat hunian, terutama pada hari kerja.
Baca Juga : HAM Meet CEO: Transformasi Hospitality Indonesia Hadapi Tekanan dan Peluang Baru
Menurut Thomas Matantu, salah satu persoalan utama terletak pada minimnya peran proaktif pemerintah dalam promosi destinasi. Promosi dinilai masih bersifat reaktif, sehingga pelaku industri harus lebih dahulu menggerakkan pasar.
Selain itu, penurunan kegiatan pemerintah turut berdampak pada okupansi hotel. Jika sebelumnya kontribusi sektor ini mencapai 40–60 persen, kini hanya sekitar 10 persen akibat efisiensi anggaran. Dampaknya paling terasa pada weekday yang sebelumnya ditopang agenda pemerintahan dan korporasi.

“Di sisi lain, tren preferensi wisatawan juga berubah. Dalam tiga tahun terakhir, okupansi hotel tercatat turun hingga 30 persen, bahkan mencapai 40 persen pada periode puncak seperti Idul Fitri dan libur akhir tahun,” urainya.
Wisatawan kini lebih memilih vila dan homestay yang menawarkan fleksibilitas serta nilai ekonomis lebih baik untuk perjalanan kelompok. Kenaikan harga hotel saat peak season, yang bisa mencapai dua kali lipat, serta dinamika harga berbasis algoritma di platform digital, turut mempercepat peralihan ini.
Baca Juga : HAM Inisiasi Stakeholder Perkuat Program CSR ke Yatim Piatu
Fenomena lain yang menjadi sorotan adalah maraknya pembangunan vila dan homestay oleh investor luar daerah tanpa perizinan optimal. Pelaku industri bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia telah mendorong pemerintah melakukan penertiban, namun implementasi di lapangan dinilai belum efektif.
Menghadapi kondisi tersebut, Natta Hospitality Management mengusung strategi berbasis pengalaman untuk menarik wisatawan, tidak hanya mengandalkan layanan akomodasi konvensional. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Editor : Fatkhurrohim
- Photo Utama : Ilustrasi by freepik
