News

Bencana Alam Menjadi Indikator Menurunnya Jumlah Wisman ke Indonesia

Wartaevent.com – Jakarta. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diterbitkan pada tanggal (02/01/2019) belum lama ini, wisatawan mancanegara (wisman) pada bulan November 2018 tercatat 1.14 juta kunjungan. Data ini menunjukan penurunan 11.26 persen dibanding bulan oktober 2018.

Akan tetapi bila dibandingkan bulan November 2017 atau secara year on year (yoy) naik 8.16 persen. Dari 1.14 juta wisman yang datang pada November, 61 persennya menggunakan moda udara, 23 persen moda laut, dan 16 persen menggunakan moda darat.

Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik, mengatakan, ini sesuatu yang biasa. Sebab menunjukan seasonalityi. Dimana pada bulan November adalah low season dan di bulan Desember biasanya akan meningkat lagi.

Dari data BPS pun tercatat, tiga pintu besar masuk wisman di sejumlah bandara secara month to month (mtm) mengalamai penurunan. Di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, terjadi penurunan 21 persen disbanding bulan oktober 2018. Akan tetapi secara yoy masih naik sebesar 13.09 persen.

Kemudian di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta terjadi penurunan secara mtm dan yoy. Penurunan penumpang pun terjadi di Bandara Juanda, Jawa Barat tapi tidak signifikan. Hanya tercatat 30.000 wisman. Akan tetapi secara mtm dan yoy mengalami kenaikan.

Sementara itu, wisman yang dating menggunakan moda laut mengalami kenaikan contoh di Batam, Tanjung Uban dan Tanjung Pinang. Untuk pintu masuk darat di Jayapura terjadi penurunan drastic dan agak tajam. Sebab, ada peraturan baru dari imigrasi, bagi mereka yang hendak masuk ke Skow di Jayapura harus menggunakan passport, yang sebelumnya hanya menggunakan kartu identitas.

“Secara kumulatif dari Januari hingga November 2018, total wisman yang datang ke Indonesia sebesar 14,4 juta orang kunjungan. Kalau kita bandingkan dengan periode yang sama 2017, jumlah wisman yang datang meningkat 11,63%,” ungkap Suhariyanto.

Kalau dilihat menurunnya jumlah wisman banyak hal yang mempengaruhinya. “Promosi tentu akan berpengaruh tapi berbagai bencana yang terjadi pada 2018 seperti meletusnya gunung agung, bencana di Lombok Palu Banten akan berpengaruh kepada jumlah wisman. Tapi ke depan kita berharap jumlah wisman meningkat dan spending lebih besar dan kita harapkan berdampak ke seluruh masyarakat,” ujarnya.

Suhariyanto pun mengulas lima besar kunjungan wisman yang menyambangi Indonesia. Malaysia, Singapura dan Timor Leste menempati urutan teratas. Ada penurunan yang tajam untuk jumlah wisman dari Tiongkok. Pada November 148.000 orang, sekarang ini hanya 124.000 orang. ada penurunan 24.000 orang.

“Sementara wisman dari Australia pada November 2018 jumlahnya 97.776. akan tetapi, berdasarkan kawasan, perubahan Januari hingga November 2018 terhadap Januari hingga November 2017, semuanya meningkat jumlah turis dari Asean, Asia, Eropa, Amerika, Oceania,” papar Suhariyanto.

Timur Tengah dan Afrika, kata Suhariyanti pun mengalami penurunan. Timur Tengah turun 7,87% tapi jumlahnya tidak terlalu signifikan, demikian juga dengan turis dari Afrika. “Jadi, ke depan kita memang perlu lebih gencar lagi mempromosikan pariwisata Indonesia yang sangat kaya potensi ini,” ulasnya.

BPS melihat, Pariwisata sampai November 2018 yang hanya dikunjungi 14,4 juta wisman oleh karena memang salah satu penyebabnya adalah bencana. Ketika ada bencana tentu semuanya agak khawatir meskipun kemudian ada komitmen dari pemerintah bahwa seperti di Lombok harus ada pembenahan sehingga pariwisatanya pulih lagi.

“Tentunya ke depan kalau kita mau mencapai target, promosi memang harus terus digencarkan, tapi kalau bencana memang kita tidak bisa menghindar. Bencana yang berturut-turut bagaimanapun tentu akan berpengaruh kepada minat wisman untuk datang ke Indonesia. Jadi saya lihat itu mempunyai pengaruh yang besar,” pungkas Suhariyanto. [*]