Site icon WARTAEVENT.COM

Fakta Tentang Kekayaan Pulau Keakwa yang Bikin Kalian Ingin Langsung Liburan Kesana

WARTAEVENT.com – Jakarta. Mungkin masih asing mendengar dan bahkan melihat Pulau Keakwa. Dan bahkan pasti bertanya dimana itu posisi pulaunya.

Pulau Keakwa ini berada di distrik Mimika Tengah, Kabupaten Mimika, Irian Jaya. Pulau Keakwa ini menghadap langsung dengan lautan Pasifik. 

Perjalanan menuju Pulau Keakwa memerlukan waktu sekitar 2 jam dengan menggunakan speed boat. Selama 2 jalm perjalanan tersebut kalian akan melewati lautan, muara sungai dan beberapa pulau eksotis lainnya seperti Pulau Puriri dan Pulau Bidadari.

Baca Juga : Pulau Mungil Nan Indah Ini Cuma Setengah Jam dari Pelabuhan Bakauheni

Ihwal nama Pulau Keakwa ini bermula dari bangsa Portugis yang kali pertama menyambangi pulau tersebut dengan disambut hangat oleh Suku Kamoro di pinggir pantainya.

Suku Kamoro pun menanyakan bangsa Portugis yang sampai ke pulau tersebut “Apakah Tuan naik Perahu?”. Dalam bahasa Suku Kamoro, kata “Naik Perahu” adalah Keakwa. Dari ihwal tersebutlah pulau ini dinamakan sebagai Pulau Keakwa.

Pulau Kamoro belum lama ini berbenah untuk dikembangkan sebagai potensi pariwisata sekaligus mensejahterakan Suku Kamaro yang menetap di pulau tersebut.

Yayasan Somatua yang dipimpin Maximus Tipagau fokus mengembangkan potensi Pulau Keakwa ini. Sebanyak 10 homestay adalah bukti dan komitmen yayasan ini untuk terus mengembangkan potensi pariwisata berkelanjutan di Pulau Keakwa.

Berikut ini Fakta Kekayaan Potensi Wisata Pulau Keakwa

Yayasan Somatua berkomitmen mengembangkan potensi pariwisata Pulau Keakwa untuk kesejahteraan rakyatnya.

Maximus—begitu sapaan akrab pendiri Yayasan Somatua mengatakan, sebagai orang Papua, kecintaannya akan alam dan keramahan masyarakatnya yang membuat dirinya ingin mengembangkan pariwisata di kawasan ini.

Baca Juga : Ingin Jadi Ikon Pariwisata Indonesia sebagai Sembalun Seven Summits, Ini Fakta dan Kelebihannya

“Jika berbicara keuntungan, sebenarnya tidak ada. Tetapi saya selaku orang Papua mencintai alam saya dan juga masyarakat, ingin memaksimalkan potensi yang ada untuk mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat Keakwa melalui pariwisata dan ekonomi kreatif yang ada disini,” ungkap Maximus, sembari menerangkan fakta potensi Pulau Keakwa.

Rumah Adat

Rumah suku pedalaman di Keakwa kebanyakan masih terbuat dari kayu dan atapnya dari seng, berbentuk panggung. Pada bagian samping, depan dan belakang rumah masih terdapat pohon kelapa yang menjulang tinggi ke langit sebagai ciri topograpi-nya.

Baca Juga : 3 Destinasi Aksesable di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT

Karakter topograpi ini menjadikan kawasan yang sejuk karena suplay angin alam setiap harinya merangsek sempurna ke setiap perumahan di suku Kamoro di pesisir pantainya. 

Peninggalan Perang Dunia II
Faktanya, meriam yang berada di bibir pantai Pulau Keakwa ini pernah menjadi basis pertahan Jepang kala diserang sekutu saat perang dunia ke-2./photo by_Yanindera

Pulau Keakwa, faktanya memiliki bukti peninggalan sejarah yakni 2 meriam peninggalan tentara Jepang saat perang dunia ke 2 yang masih terjaga rapih. Meriam ini berada tak jauh dari bibir pantai, sehingga bisa dilihat secara langsung dan sangat jelas keberadaannya. 

Baca Juga : Walaupun Mendung, Labuan Bajo Tetap Indah Dipandang dari Puncak Waringin

Puing-puing meriam yang ada menjadi fakta bahwa Pulau Keakwa dijadikan basis pertahanan bagian selatan Papua oleh tentara Jepang saat diserang sekutu. Di sini pun terdapat pelabuhan utama untuk mobilisasi peralatan tempur Jepang. 

Ritual Adat

Fakta tentang ritual adat atau spiritual masih kuat dan terjaga keberadaannya, seperti ritual nelayan, ritual Omoko Etae—yakni ritual tua berupa makan tanah, pangkur sagu, dan masih banyak lainnya.

Homestay

Hingga saat ini sudah ada 10 unit homestay yang dapat digunakan oleh setiap wisatawan untuk bermalam dan rehat selama mengeksplorasi Pulau Keakwa.

Baca Juga : Homestay Desa Wisata Pentingsari Segera Berstandar Dunia

Guna memperkuat karakter budaya, maka homestay pun dibangun dengan identitas suku Kamoro seperti menggunakan material dari alam setempat berupa daun pangi, dan pelepah sagu. 

Lokasi homestay ini di pinggiran pantai. Dengan demikian setiap wisatawan yang bertandang kesana langsung dapat mengakses laut lepas serta tidak menggangu aktivitas penduduk.

Sunset dari Pulau Kaekwa

Menikmati sunset bagi setiap wisatawan mungkin sudah biasa. Tapi bagaimana jika kalian ditawarkan menikmati sunset dari atas hamparan pasir putih dan bibir pantai seolah bertepi? Pasti lebih seru bukan.

Baca Juga : Bukit Ini Oleh Penduduk Setempat Disebut Sebagai Raja Ampat

Sembari menikmati sunset kalian dapat menikmati kuliner khas suku Kamoro berbahan dasar hasil sungai, mangrove dan laut dikombinasi dengan hasil hutan berupa sagu yang langsung diolah sendiri.

Ramah penduduk Kaekwa siap menyambut kedatangan wisatawan.
Produk Ekonomi Kreatif

Fakta lain, ternyata suku Kamoro pun memiliki produk ekonomi kreatif (ekraf) yang dapat dijadikan souvenir atau penanda jejak bahwa kalian telah kesana. 

Produk ekraf suku Kamoro salah satunya dalah ukiran kayu khas Kamoro dengan motif beragam yang diangkat dari cerita rakyat penduduk setempat.

Baca Juga : Menparekraf Sandiaga Uno Berkunjung ke Desa Wisata Pentingsari, Sleman, Yogyakarta “Desa Wisata Andalan Kemenparekraf”

Fakta lain yang bikin kalian ingin bergegas mengangkat koper adalah kalian dapat mengeksplor pulau ini dengan menggunakan perahu dengn ukiran khas suku Kamoro untuk menikmati hutan mangrove, melihat flora dan fauna dan lainnya. [*]

Exit mobile version