Data tersebut menunjukkan bahwa tingginya aktivitas perjalanan belum tentu berbanding lurus dengan tingkat hunian hotel. Operator perlu memahami alasan wisatawan memilih suatu properti, cara mereka melakukan pemesanan, serta faktor yang mendorong mereka untuk kembali.
MORA Group merespons dinamika tersebut melalui penguatan distribusi digital, pengelolaan ulasan tamu, dan pengembangan MORA Club. Program loyalitas ini dirancang untuk menghubungkan pemesanan langsung dengan manfaat keanggotaan di berbagai properti dalam grup.
“Pekerjaan kami bukan hanya memastikan kamar terjual hari ini, tetapi memahami mengapa tamu memilih hotel kami dan apa yang membuat mereka kembali. Data membantu membaca perilaku itu, sementara tim operasional memastikan pengalaman yang dijanjikan benar-benar terjadi,” ujar Hengky.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan pengembangan dua properti dengan karakter berbeda, yakni HEMORA Sriti di Palu dan Lereng Senja Hotel & Villas by MORA di Ciwidey.
Di Palu, HEMORA Sriti mengusung rancangan modern bernuansa classic American. Lokasinya yang berdampingan dengan kawasan convention hall membuka peluang untuk menjangkau kebutuhan akomodasi bagi pelaku perjalanan bisnis, peserta pertemuan, maupun pengunjung kegiatan sosial.
Sementara itu, Lereng Senja Hotel & Villas by MORA di dataran tinggi Ciwidey menawarkan pendekatan yang berbeda. Properti ini direncanakan memiliki 16 vila dan 20 kamar, dengan pengalaman menginap yang mengedepankan privasi, suasana alam, dan waktu istirahat yang lebih leluasa.
Perbedaan kedua properti tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan bisnis perhotelan membutuhkan pemahaman terhadap karakter setiap destinasi. Produk yang relevan bagi kawasan dengan aktivitas konvensi belum tentu sesuai untuk destinasi yang mengandalkan suasana alam dan pengalaman menginap.
“Setiap properti harus punya alasan yang kuat untuk dipilih. Tugas operator adalah menerjemahkan potensi lokasi menjadi produk yang relevan, pengalaman yang konsisten, dan bisnis yang sehat dalam jangka panjang,” kata Hengky.
Menurut Hengky, tantangan di industri hospitality bukan semata-mata memperluas portofolio, melainkan menjaga agar setiap properti memiliki identitas dan nilai yang jelas bagi tamu. Di balik strategi operasional dan pengelolaan pendapatan, pemahaman terhadap manusia tetap menjadi bagian penting dari bisnis yang dijalankannya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
Page: 1 2
WONOSOBO, WARTAEVENT.com — Pagi itu, udara di luar ARTOTEL Wanasaba—hotel ikonik di Wonosobo masih dingin. Hawannya terasa menusuk tulang rusuk.… Read More
WONOSOBO, WARTAEVENT.com — Perkembangan pariwisata Wonosobo mendorong kebutuhan akomodasi yang tidak hanya menawarkan tempat menginap, tetapi juga pengalaman yang sesuai… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Budaya sneakers, olahraga, musik, dan kreativitas bertemu dalam Foot Locker Day 2026 yang berlangsung di M Bloc… Read More
LAMPUNG SELATAN, WARTAEVENT.com – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menggelar aktivasi Creative Hub for App Talent (CHAT) di Bakauheni… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Indonesia bersiap menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 pada 21–23 Oktober mendatang. Konferensi… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Musik, budaya populer, dan gaya hidup urban menjadi bagian dari perayaan satu dekade ESSE POP melalui event… Read More
Leave a Comment