
WARTAEVENT.com – Makassar. Paham radikalisme yang menggunakan cara-cara kekerasan harus disangkal untuk menjaga persatuan dan kerukunan di Indonesia. Aparat berwenang harus tegas menindak konten yang memuat paham radikalisme tersebut.
Adapun generasi muda bisa melawan paham radikalisme di ruang digital dengan memperbanyak konten keragaman budaya dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Hal itu menjadi kesimpulan webinar yang mengambil tema “Menangkal Radikalisme di Ruang Digital Jelang Pesta Demokrasi”, Kamis (10/11) di Makassar, Sulawesi Selatan, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.
Baca Juga : Kecakapan Digital Wajib Dimiliki oleh Generasi Z
Webinar ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan SDM Relawan TIK Provinsi Bali Ni Kadek Dwi Febriani; dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UNITRI Malang Asfira Rachmad Rinata; serta dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UPRI Makassar Andi Asyhary J. Arsyad.
Asfira menjelaskan definisi radikalisme, yaitu suatu paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara kekerasan. Paham ini juga mengacu pada sikap ekstrem dalam aliran politik. Beberapa bentuk radikalisme tersebut adalah ujaran kebencian, penyebaran teror, atau serangan siber.
“Mengapa masyarakat mudah terpapar konten radikalisme? Penyebab utamanya adalah mudahnya akses dan deras arus informasi dan komunikasi di era digital, termasuk mudahnya penyebaran konten radikalisme di ruang digital,” ujar Asfira.
Andi Asyhary menambahkan, yang harus dilakukan agar terhindar dari ancaman radikalisme di ruang digital adalah bersikap sabar, teliti, dan memverifikasi setiap informasi yang ada. Kemudian, merefleksikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal toleransi.
Kolaborasi antarumat beragama juga penting untuk melawan paham radikalisme secara bersama-sama.“Kalau ditemukan konten radikalisme di ruang digital, segera laporkan ke aparat berwenang. Sebarkan konten untuk melawan paham radikalisme di ruang digital,” ujar Andi.
Sementara itu, menurut Ni Kadek, generasi muda bisa berperan menangkal radikalisme di ruang digital. Caranya adalah dengan memperbanyak produksi konten budaya dan keragaman di Indonesia yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Cerita seni dan budaya Indonesia yang amat kaya bisa didistribusikan lewat beragam platform media sosial yang ada.
Baca Juga : Setelah Kuasai Teknik Pemasaran Digital, Jangan Abaikan Keamanan Siber
“Dunia digital adalah dunia kita sekarang ini. Mari mengisinya dan menjadikannya sebagai ruang yang berbudaya, tempat belajar, dan berinteraksi yang berlandaskan Pancasila,” kata Ni Kadek.
Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.
Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Sulawesi dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. [*]
Editor : Fatkhurrohim