Kemenpar Dorong Wellness Tourism Berbasis Budaya Lewat JCWF 2026

JCWF 2026 di Yogyakarta memadukan budaya Jawa dan wellness tourism untuk memperkuat pariwisata berkelanjutan serta ekonomi lokal./Photo.Dok.Birkom Kemenpar.

Peluang Pasar Wellness Tourism

Peluang pengembangan wisata kebugaran turut didukung pertumbuhan pasar global. Widiyanti mengutip data Global Wellness Institute yang mencatat pengeluaran global untuk wellness tourism mencapai 893,9 miliar dolar AS pada 2024.

Read More

Sementara itu, kawasan Asia Pasifik mencatat 562,7 juta perjalanan wellness dengan pengeluaran wisatawan sebesar 215 miliar dolar AS.

Menurut Menteri Widiyanti, Indonesia memiliki keunggulan melalui tradisi jamu, rempah Nusantara, perawatan tradisional, serta praktik kebugaran yang berakar pada kearifan lokal.

Kementerian Pariwisata memasukkan wellness tourism sebagai bagian dari pengembangan wisata minat khusus dalam program prioritas Pariwisata Berkualitas. Upaya tersebut mencakup pengembangan Wellness Journey Across the Java Wonders, yang menawarkan sepuluh jalur dan tema perjalanan berbasis potensi alam serta budaya Jawa.

Kementerian juga tengah menyusun direktori wisata wellness Indonesia dan memberikan pendampingan usaha melalui Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH) untuk meningkatkan kapasitas pelaku industri serta kesiapan produk memasuki pasar.

Baca Juga :  Yogyakarta Menemukan Wajah Baru Wellness Berbasis Budaya

Ketua BPPD DIY, GKR Bendara, menilai filosofi Jawa, seperti hamemayu hayuning bawana, sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, serta nilai gotong royong dan harmoni dengan alam, relevan dengan konsep kesejahteraan yang berkembang saat ini.

“Melalui JCWF 2026, kami berkomitmen membangun ekosistem pariwisata berbasis cultural wellness yang tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Dorong Festival Berkelanjutan

Selain program kebugaran dan budaya, JCWF 2026 menghadirkan Wellness Artisan Market yang mencakup produk pangan sehat, produk lokal, perawatan diri, karya kreatif, dan produk berkelanjutan.

Panitia juga menerapkan inisiatif pengelolaan sampah melalui kerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Guwosari, Bantul, serta perhitungan jejak karbon festival yang direncanakan dikompensasi melalui penanaman pohon.

Pengunjung diajak membawa tumbler pribadi, menggunakan fasilitas pengisian air minum, memanfaatkan transportasi umum, dan memilah sampah selama kegiatan berlangsung.

Melalui rangkaian tersebut, JCWF 2026 diarahkan tidak hanya menjadi ruang promosi wisata kebugaran, tetapi juga sarana memperkuat kolaborasi industri, mengembangkan produk lokal, dan memperluas manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat Yogyakarta. (*)

Baca Juga :  Kemenpar Tegaskan Target Zero Accident: Keselamatan Wisatawan Jadi Fokus Lintas Sektor

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian  sudah install aplikasi WhatsApp ya.

  • Editor : Fatkhurrohim
  • Photo : Dok.Birkom Kemenpar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *