Kemenpar Manfaatkan AI Hadapi Perubahan Perilaku Wisatawan Digital

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menghadirkan MaiA untuk memperkuat layanan wisata digital di tengah perubahan perilaku wisatawan yang dipengaruhi algoritma, Jum'at, (5/6/2026), di Jakarta.

Algoritma dan Perebutan Perhatian Wisatawan

Perubahan tidak hanya terjadi di level pemerintah, tetapi juga pada cara informasi bekerja di ruang digital.

Read More

Menurut Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra, masyarakat kini hidup dalam ekosistem yang dikendalikan oleh big data dan algoritma.

Setiap aktivitas digital, mulai dari pencarian hingga interaksi media sosial, diproses untuk membentuk profil pengguna. “Profil inilah yang kemudian menentukan konten apa yang muncul di layar mereka,” kata Apni dalam diskusi Ngoprek.

Baca Juga : South West Australia Tawarkan Wisata Imersif Favorit 2026

Dalam konteks pariwisata, kondisi ini membuat wisatawan tidak lagi sepenuhnya “memilih”, tetapi diarahkan oleh sistem rekomendasi yang dikuasai platform global seperti Google, Meta, dan TikTok.

“Mereka menentukan destinasi apa yang terlihat, paket wisata apa yang direkomendasikan, hingga narasi mana yang paling dominan di ruang digital,” lanjut Apni

Karena itu, tantangan komunikasi pariwisata saat ini bukan hanya soal menciptakan konten yang menarik. Tantangan sesungguhnya adalah membangun kepercayaan di tengah banjir informasi.

Apni menyebut, ketika informasi tersedia dalam jumlah nyaris tak terbatas, publik tidak hanya mencari rekomendasi, tetapi juga sumber yang dapat dipercaya. Di sinilah manusia kembali menjadi faktor penentu. Kecerdasan buatan mampu mengumpulkan data, memproses informasi, dan menghasilkan rekomendasi dengan kecepatan yang mustahil dilakukan manusia.

Baca Juga : Kampoeng Awan: Tempat Liburan Selow Adventure Tanpa Drama

“Yang lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat kepercayaan publik, bukan menggantikannya,” tegas Apni.

Narasi, Bukan Sekadar Teknologi

Di tengah dominasi algoritma, Brand Strategist & Founder Konner Advisory Silih Agung Wasesa  menilai bahwa teknologi tidak akan pernah cukup tanpa narasi yang kuat.

Ia mencontohkan keberhasilan Malaysia dalam wisata kesehatan yang berhasil menarik wisatawan Indonesia bukan karena promosi besar-besaran, melainkan karena mereka memahami kecemasan mendasar pasien: ketidakjelasan biaya dan pengalaman layanan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *