Site icon WARTAEVENT.COM

‘Malioboro Coffee Night’ Sebuah Terobosan Menjadi ‘Hub’ Kopi Internasional

WARTAEVENT.com – Yogyakarta. Penyelenggaraan event ‘Malioboro Coffee Night’ yang berlangsung sejak 1 Oktober 2023 telah usai tadi malam. Demikian dikatakan oleh Wisnu Imam Birowo, Ketua Komunitas Kopi Nusantara (KKN), kepada awak media.

Disampaikan Ketua KKN, bahwa Malioboro Coffee Night (MCN) tidak saja mengenalkan produk kopi, namun juga nilai-nilai kearifan kopi itu sendiri dan kepedulian untuk lingkungan hidup. Untuk itu kerja sama dengan pihak luar negeri sangat menonjol.

Baca Juga : Malioboro Coffee Night 2023: Gelar Diskusi Peranan Kebudayaan dalam Menghadapi Ancaman Terhadap Kopi

Sambil menunggu hasil penghitungan tentang pemasukan panitia terkait transaksi yang berlangsung ada baiknya kita melihat apa saja capaian MCN ini.

Pengamatan saya hadirnya puluhan tenant yang mengikuti gelaran tersebut dan sebagian besar diantaranya berasal dari luar Yogyakarta, menandakan kesuksesan acara ini. Pesertanya berasal Ambon, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Tapanuli Selatan. Ini adalah sebuah pesan kepada masyarakat betapa beragamnya kopi Nusantara.

“Para undangan Malioboro Coffee Night pada acara pembukaan di Menara Kopi”.

Event ini pun menjadi ajang pertemuan para pelaku bisnis kopi dari hulu sampai hilir. Mulai dari petani kopi, pelaku industri, pembuat kopi, barista hingga penyedia mesin pengolah kopi.

Tahun 2023 telah dicanangkan bahwa Yogyakarta menjadi ”Hub” kopi internasional. Artinya, terdapat keinginan dari panitia MCN bahwa tahun depan skalanya akan dibuat lebih besar lagi. Mengapa demikian?

Baca Juga : Event Malioboro Coffee Night 2023 Akan Dimulai: Dari Yogyakarta ke Dunia

Menurut Wisnu dengan penetapan Yogyakarta sebagai hub, maka penyelenggaraan MNC tidak saja di kota Yogyakarta, namun juga dikota-kota lain seperti Bandung, Semarang, Solo, dan Banyuwangi.

Kota-kota tersebut adalah supporting-nya, terutama di industri bahan baku.  Kita tahu Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah termasuk kantong produksi bahan baku besar di Jawa. Yogyakarta mempunyai posisi strategis di tengah-tengah untuk bisa menyerap dari tiga daerah tersebut.

Dari sudut pandang saya secara khusus atas Malioboro Coffee Night sekarang ini, keberhasilan mendatangkan perwakilan asing. Bahkan Kedubes asing ini juga diajak berkunjung ke kebun kopi di Banaran, Jawa Tengah. Dengan demikian para peserta dari pihak asing dapat melihat gambaran positif tentang kopi Nusantara yang memiliki kekhususan dan diakui secara internasional.

Berikutnya adalah diselenggarakannya diskusi berjudul ”Improving the Quality of Indonesian Coffee based on Cultural Heritage, Environment and Tourism”. Diskusi pada (02/10/2023) di Fisipol UGM, Yogyakarta mendengarkan pandangan masing-masing pihak tentang peranan kopi dari segi ekonomi, kebudayaan dan lingkungan hidup. Peranan kopi sangat penting saat ini. Karena mempunyai nilai strategis tidak saja dari ekonomi tetapi juga harkat kemanusiaan dan kebudayaan.

Baca Juga : Bertambahnya Ekspor Kopi Indonesia ke Negara Paman Sam dan Peluang Kerja Sama Komunitas Kopi dengan Diaspora

Dalam kaitan itu pengakuan UNESCO tentang Yogyakarta sebagai “Sumbu Filosofi Yogyakarta” dapat dijadikan ajang pembelajaran bersama akan nilai-nilai universal yang diperlukan, untuk menciptakan dunia baru yang lebih baik di masa depan.

Bagaimana MCN ke depan?

Saya telah tiga kali melihat secara langsung penyelenggaraan MCN ini. Pertama, sewaktu Covid-19 melanda Indonesia, tahun 2021. Kedua di tahun 2022 lalu dan sekarang tahun 2023. Mengingat hasil ke depan yang diharapkan juga besar, kiranya untuk tahun depan ada beberapa catatan kepada panitia penyelenggara, mitra usaha dan para pemangku kepentingan.

Kiranya koordinasi juga bisa ditingkatkan dengan lebih rapih. Kolaborasi antar instansi/lembaga pemerintah, pada tingkat pusat, daerah dan kotamadya bisa saling bekerja sama. Tidak kalah pentingnya simbiose antara para peneliti dan kalangan bisnis.

Baca Juga : Pentingnya Diplomasi Kopi untuk Memperjuangkan Kepentingan Indonesia

Yang tidak kalah pentingnya adalah koordinasi. Ini menyangkut tindak lanjut. Kita bisa melihat negara-negara pengekspor kopi lainnya seperti Brazil, Vietnam dan Kolombia. Mereka fokus dan cepat mencari sasaran dan cepat melayani setelah ketemu buyers.

Saya ingat pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan SDA Setda DIY,  Ibu Yuna Pancawati pada saat pembukaan MCN, yaitu sebagai berikut:

”Saya atas nama Pemerintah Daerah DIY menyambut baik Malioboro Coffee Night. Gelaran ini harus mampu menjadi media pengembangan pasar, promosi bisnis, serta memperkuat jejaring dan kolaborasi Business to Business (BtoB) maupun Business to Consumer (BtoC).”

Baca Juga : Diplomasi Kopi Sebagai Instrumen Promosikan Kopi ke Mancanegara

Menurut saya kehadiran perwakilan asing ini penting, setidaknya untuk memberikan gambaran kepada pihak luar tentang arti penting kopi Indonesia. Secara strategis kita juga mampu memberikan kopi dengan kualitas internasional. Berikutnya kopi juga harus dilihat dari kualitasnya, bukan sekedar komoditas pertanian.

Dengan kekayaan single origin dan Indikasi Geografis kita sebenarnya sudah bisa menjual kopi yang berkualitas. Bertikutnya adalah metode pertemuan bisnis melalui INA Access yang selama dua tahun ini telah dikembangkan Kementerian Luar Negeri RI. Suatu format business baik pada sisi pertemuan dan tata cara pembayaran. Semuanya online.

Kerjasama Pemkot Yogyakarta (Kadispar Wahyu Hendratmoko) dan Pemerintah Belanda (Nicolaas Jacob) tentang Kotabaru.

Disamping kopi, ada nilai lebih dari kerja sama MCN ini, yaitu kerja sama antara Kotabaru dengan pihak Belanda. Dinas Pariwisata Kotamadya Yogyakarta mengundang delegasi Belanda  untuk membicarakan penataan Kotabaru di Jogjakarta.

Seperti diketahui, kawasan pemukiman Kotabaru (Nieuwe Wijk) dibangun setelah kawasan Menteng di Jakarta oleh Ir P.A.J Moejen pada tahun 1913. Kotabaru merupakan perluasan dari perkampungan Eropa yang berkembang di Loji Kecil (sebelah timur Benteng Vedreburg ) dan Bintaran.

Baca Juga : Menjaga Kedaulatan Strategis Kopi Indonesia

Kotabaru dirancang sebagai Kota Taman (Tuinstaad) yang banyak ditumbuhi pepohonan besar dan pohon buah-buahan di sepanjang jalan. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat model konstruksi jalan yang menghubungkan satu sama lain. Kami ingin mengetahui pandangan anda mengenai rencana kami menjadikan Kotabaru sebagai contoh pelestarian budaya yang dapat menginspirasi masa depan.

Kehadiran Belanda, dalam hal ini Mr. Nicolaas Jacob de Regt, Direktur Erasmus Huis  dan Dubes Ethiopia Prof. Fekadu Beyene Aleka ke MCN membuktikan bahwa peristiwa ini adalah sebuah momentum. Paling tidak upaya mendongkrak Kotabaru dan ekspor kopi ke luar.

Menurut Wahyu Hendratmoko, Kepala Dinas Pariwisata Kotamadya Yogyakarta, ia. berkeyakinan bahwa diskusi tentang Kopi dan Warisan Budaya akan menjadi daya tarik yang bagus untuk pariwisata Yogyakarta.

Sebagaimana diketahui Dinas Pariwisata Kotamadya Yogyakarta telah memfasilitasi acara bertajuk bahasa Belanda di Kotabaru.

“Selamat Malam Kotabaru” (Goedenavond Kotabaru) adalah program untuk wisatawan dengan menghadirkan makanan, kebudayaan dan busana Belanda. Sebagai wilayah yang berada di Kota Yogyakarta, Kotabaru ingin mengepakan sayap untuk sama-sama eksis seperti tetangganya yakni Malioboro dan Tugu Yogyakarta.

Presentasi kopi Nusantara di Pendhapa Art Space, Yogyakarta.

Guna mendorong minat dan ketertarikan wisatawan pada Kotabaru, Pemerintah Kota berbenah dengan perbaikan jalan Pedestrian sehingga lebih tertata juga nyaman dan mendukung industri kopi berkembang yang bertujuan menjadikan area sekitarnya sebagai “Gudang Kedai Kopi”. Tentu saja nuansa malam Kotabaru akan didesain nyaman dan memberi kesan nostalgia Eropa yang kuat didukung bangunan Belanda yang masih terawat apik di sepanjang jalan itu.

Terakhir, penyelenggaraan ”Malioboro Coffee Night” sendiri adalah sebuah “show case”. Terjadi kenaikan pesat bisnis UMKM. Perlu diteruskannya outreach dan diskusi yang menyeluruh antara pengusaha kopi, lembaga pendidikan dan kebudayaan, instansi yang berperan dalam ekspor kopi dan ekosistem/lingkungan hidup dan perwakilan RI.

Baca Juga : Kesiapan KBRI Qatar dalam Diplomasi Kopi dan Inovasi Kemlu dalam Platform Bisnis Kopi

Kopi kian relevan dibahas pada saat semua negara tidak dapat menghindari resesi dan kerawanan pangan. Ketahanan pangan harus kuat, dengan kopi yang para petaninya sejahtera dan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang semakin baik. [*]

Exit mobile version