M I C E

MICE Berbeda dengan Special Event

wartaevent.com – Jakarta. Dalam ramah tamah bertajuk “Ngopi Bareng Mas Tama dan Mbak Angela” dengan sejumlah media nasional di M Block, Jakarta Selatan, pada hari Selasa (05/11/2019) kemarin, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio, mengaku jika industri Meeting Incentive Convention Exhibition (MICE) potensinya sangat besar.

Wisatawan MICE, menurut Whisnu, mereka datang tidak hanya berdua bahkan ribuan. “Kami sedang konsultasi dengan penyelenggara sejauh mana dan seberapa besar potensinya bagi Indonesia. Dan kami pun akan mengkaji apakah MICE ini perlu direktorat sendiri,” papar Wishnutama.

Baca Juga : Tujuh Destinasi MICE Dipromosikan di ITB Asia 2019

Pada kesempatan terpisah, Dr. Christina L Rudatin, Kepala MICE Center Politeknik Negeri Jakarta, menyarankan akan lebih baik jika MICE digarap khusus di level yang setrategis di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Di level Eselon satu sangat memungkinkan MICE digarap dari A-Z. “Kalau hanya di level eselon dua, misalnya di bawah pemasaran seprti dulu, nanti yang digarap hanya sebatas promosi,” ungkap Tina.

Perlu diketahui pula, bahwasanya dampak ekonomi dari MICE ini sangat besar. Ia mencontohkan dari penyelenggaraan IMF-World Bank Conference. Dengan anggaran sebesar Rp600 juta mampu menghasilkan direct Impact lebih dari Rp2 triliun dan Indirect Impact (dari komitmen investasi) sebesar lebih dari Rp200 triliun.

“Belum lagi intangible benefit yang diperoleh melalui Word of Mouth (WOM) dari para delegasi dan branding destinasi,” tambah Tina yang juga menjabat sebagai Vice Chairperson bidang kelembagaan INACEB.

Baca Juga : Tahun 2020, Dijadikan Momentum Kebangkitan Pariwisata dan MICE DKI Jakarta

Baca Juga : IBEF 2019: Membangun dan Mengembangkan Industri MICE Lebih Kuat

Christina pun menegaskan, bahwa MICE berbeda dengan Special Event (Sport event, festival, carnival, konser dan sejenisnya). Kegiatan MICE adalah aktifitas business event. “Business event (MICE) mendatangkan business travelers, sementara special event mendatangkan Leisure Travelers,” urai Tina.

Sementara itu Hosea Andreas Runkat, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) memiliki kekhawatiran jika MICE ditafsirkan atau memiliki kemiripan dengan ekonomi kreatif. Padahal ini hal yang berbeda.

Untuk itu, ia bersama beberapa pelaku industri terkait MICE sedang berupaya untuk bertemu dengan Menparekraf untuk berbagi pengetahuan tentang MICE. “Beberapa Asosiasi MICE seperti Asperapi, Indonesia Congress and Convention Association (INCCA), INACEB dan lainnya lagi sedang berupaya ketemu dengan Menparekraf. Kita ingin membicarakan tentang MICE yang simple terlebih dahulu,” kata Andre.

Pengetahuan simple tentang MICE ini bisa seperti posisi MICE Indonesia dengan negara lain, baru setelah itu kita akan menggambarkan sejauhmana dan seberapa besar dampak MICE secara ekonomi serta devisa bagi negara.

“Kita itu pengen memberikan gambaran tentang MICE di Indonesia, untuk kemudian agar diakui atau di amini terlebih dahulu. Jika hal tersebut telah mendapat pengakuan baru dibuat direktorat dan program kedepannya,” jelasnya.

Baca Juga : Pikat Grup MICE Begini yang Dilakukan Singapura

Christina L Rudatin dan Hosea Andreas Runkat, masih sangat optimis bahwa Menparekraf yang baru ini  masih mau mendengarkan para pelaku industrinya. “Mas Wishnutama ini kan dari orang event, orangnya juga fleksibel, saya rasa masih mau mendengarkan dan masukan dari pelaku dan industri pariwisata,” jelas Andre.

“Saya pun masih sangat yakin dan optimis dengan Bapak Wisnhutama yang berlatar belakang media dan pengalaman menangani event akan lebih memahami kebutuhan pengembangan MICE, sehingga dalam struktur organisasi Kemenparekraf, MICE akan dapat ditempatkan pada posisi yang lebih strategis,” tambah Tina. [*]