WARTAEVENT.com – Samosir. Siapa yang tak mengenal ulos? Apalagi setiap wisatawan yang menyambangi kawasan Danau Toba terutamanya di Kabupaten Samosir.
Jika sedang bertandang ke Huta Lumban Suhi Suhi Toruan, luangkanlah waktu kalian untuk belajar membuat ulos langsung dari pengrajinnya. Sebab, huta atau kampong ini merupakan penghasil ulos terbesar di Kabupaten Samosir.
Baca Juga : Menikmati Keindahan dan Menghirup Udara Segar dari Menara Pandang Tele di Samosir
Sebagai wisatawan, kalian pun tak usah ragu untuk belajar membuat ulos disini. Karena dari anak remaja hingga usia senja pun terlihat piawai membuat ulos. Mereka menjaga tradisi membuat ulos secara turun temurun.
Para perajin ulos pun akan mengajari setiap wisatawan yang berkunjung dengan telaten agar mendapat pengalaman berkesan saat berkunjung ke desa wisata perajin ulos yang telah mereka kembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Rahani Silalahi, salah satu perajin ulos menerangkan, bagi perempuan Batak membuat ulos adalah suatu kewajiban dari usia anak-anak. Hal ini telah menjadi tradisi dari leluhur.
Sebab, dengan pandai menenun kelak anak perempuan Batak dapat membiayai sekolahnya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Mengingat harga ulos tradisional yang dibuat secara handmade mencapai puluhan juta rupiah.
Baca Juga : Ritual Manortor Persembahan yang Mulai Terkikis dan Mahal
Perempuan Batak yang usia remaja biasanya dapat menyelesaikan ulos boru torus yang berbentuk selendang satu pieces dan satu ulos Batak Karo yang cukup panjang dan lebar.
“Satu kain ulos seperti boru torus ini bisa diselesaikan seminggu kalau ulos batak Toba bisa sebulan karena lebar, panjang dan membuatnya harus dibasahi terus pakai air. Kalau membuat ulos Batak Toba tidak dapat dikerjakaan saat musim penghujan tiba,” ungkap Rahani.
Untuk harga ulos kata Rahani, sangat bermacam-macam. Kalau ulos Batak Toba seperti Sebolang mencapai Rp5 juta, Boru Torus Rp700-ann dan Sadung mencapai Rp300-an ribu.
Ketika wisatawan akan belajar membuat ulos, Rahani selalu memperkenalkan perkakas dan runutan dari awal hingga menjadi suatu ulos.
Proses pembuatan ulos, diawali dengan mengkanji benang, kemudian menjemurnya setelah itu menggulung dan memintal benang dengan alat yang namanya Sorha, kemudian dilanjut proses Mangane baru jadilah ulos.
Baca Juga : 3 Cara Kemenparekraf Ajak Generasi Millennial Mempromosikan dan Berwisata Kembali ke Danau Toba
Sementara itu, kalian akan diperkenalkan perkakas pembuatan ulos seperi Tundalan yang digunakan untuk menahan benang tenun agar hasilnya lebih ketat. Kemudian ada lat yang namanya Panggabe yang memiliki fungsi untuk menjepit ulos.
Selain itu kata Rahani, masih ada lat yang namanya Baliga untuk mempersatukan benang, Panggiunan untuk mengitab dan mangukus serta Pamisikan atau lidi fungsinya untuk membentuk motif.
“Jika Pamapan dan Tendakan yang posisinya dekat kaki ini fungsinya sebagai penahan kaki agar ulos yang dibuat lebih ketat lagi,” pungkas Rahani. [*]
BALI, WARTAEVENT.com — Di tengah masifnya pembangunan destinasi wisata dan kawasan kreatif di Bali, Nuanu Creative City mencoba menempatkan isu… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Menyambut musim liburan sekolah 2026, Swiss-Belhotel International meluncurkan program loyalitas anak bertajuk SBEC Juniors sekaligus menghadirkan maskot… Read More
CIBUBUR, WARTAEVENT.com — Hotel lifestyle kini tidak lagi sekadar menawarkan fasilitas menginap, tetapi juga menjadi ruang ekspresi seni dan kreativitas.… Read More
BANTUL, WARTAEVENT.com — Sidang lanjutan perkara gugatan Kaumy di Pengadilan Negeri Bantul kembali digelar Selasa (26/5/2026) dengan agenda laporan hasil… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com — Tren work from café dan pola kerja fleksibel terus berkembang di kalangan pekerja urban dan mahasiswa. Melihat… Read More
YOGYAKARTA, WARTAEVENT.com — Momentum libur pertengahan tahun dimanfaatkan pelaku industri hospitality untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih praktis dan terintegrasi.… Read More
Leave a Comment