Fenomena twibbon MPLS memicu diskusi tentang etika digital, perlindungan data pribadi anak, dan pentingnya pendidikan karakter.
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen penting bagi peserta didik baru untuk mengenal budaya sekolah, guru, teman sebaya, serta nilai-nilai yang akan menjadi bekal selama menempuh pendidikan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul fenomena penggunaan twibbon yang disertai kewajiban mengunggah foto peserta didik ke media sosial sekolah maupun akun pribadi.
Baca Juga : Wayang dan AI Berpadu Melalui Spirit Sapta Ajen Berkelanjutan
Praktik tersebut memunculkan diskusi yang lebih luas daripada sekadar penggunaan media digital. Perbincangan kini mengarah pada perlindungan data pribadi anak, etika bermedia sosial, hingga arah pendidikan karakter di Indonesia.
Pada dasarnya, media sosial merupakan sarana yang bermanfaat untuk komunikasi, dokumentasi, promosi, maupun penyebaran informasi. Namun, ketika publikasi identitas peserta didik menjadi bagian dari aktivitas yang dianggap wajib, muncul pertanyaan mengenai batas antara dokumentasi pendidikan dan eksposur digital.
Baca Juga : Kemenkes Perkuat Kemitraan Pendidikan Kesehatan Bersama Korea Selatan
Di era digital berlaku prinsip yang sering dikemukakan para pakar keamanan siber, yakni the internet never forgets. Jejak digital yang diunggah hari ini dapat tersimpan dalam waktu lama, disalin, dimodifikasi, bahkan berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan publikasi foto dan identitas peserta didik sebaiknya mempertimbangkan aspek keamanan, privasi, serta kepentingan terbaik bagi anak.
Perspektif tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Baca Juga : Perkenalkan Laptop Litebook dan Midbook: ITMU untuk UMKM dan Dunia Pendidikan
Pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.
Penempatan nilai akhlak mulia sebagai salah satu tujuan utama menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi sistem pendidikan nasional.
Baca Juga : Karina Soerbakti Komitmen Perjuangkan Pendidikan Mahasiswa Kota Bogor
Pemikiran itu juga selaras dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses menuntun segala potensi anak agar berkembang secara utuh sebagai manusia dan anggota masyarakat.
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Indonesia bersiap menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 pada 21–23 Oktober mendatang. Konferensi… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Musik, budaya populer, dan gaya hidup urban menjadi bagian dari perayaan satu dekade ESSE POP melalui event… Read More
JAKARTA, WARTAEVENT.com – Sebanyak 45 mahasiswa yang tergabung dalam Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter Universitas Padjadjaran (Unpad) mengadakan… Read More
BANYUWANGI, WARTAEVENT.com – Pertunjukan kolosal Gandrung Sewu 2026 akan menghadirkan pengalaman baru dengan konsep malam hari pada (24/10/2026) mendatang. Inovasi… Read More
WONOSOBO, WARTAEVENT.com — Pengembangan pariwisata tidak cukup mengandalkan keindahan alam dan daya tarik destinasi. Ketersediaan akomodasi yang representatif, kualitas pelayanan,… Read More
WONOSOBO, WARTAEVENT.com — Artotel Group memperluas portofolio hotelnya di Jawa Tengah dengan meresmikan ARTOTEL Wanasaba. Berlokasi di Jalan A. Yani… Read More
Leave a Comment