Site icon WARTAEVENT.COM

Valuasi FMCG Senilai Rp742 Triliun Menggerakan Pertumbuhan B2B E-Commerce di Indonesia

https://www.freepik.com/free-photo/e-commerce-online-shopping-sale-concept_3533275.htm

WARTAEVENT.com – Jakarta. Menurut konsultan strategi global, L.E.K. Consulting, lanskap ritel Fast Moving Consumers Goods (FMCG) di Indonesia mendorong pertumbuhan B2B e-commerce. Peluang investasinya senilai Rp742 triliun. Dan sektor ini mencatatkan CAGR sebesar 7 persen pada periode 2015-2020.

Jumlah gerai ritel umum (General Trade/GT) mencapai 4-5 juta unit, terdiri atas gerai-gerai kecil milik keluarga, sementara, jumlah gerai ritel modern (Modern Trade/MT) mencapai 35.000 unit, seperti jaringan hypermarket dan pasar swalayan modern. 

Baca Juga : E-Commerce Indonesia Naik 66 Persen, Tahun 2022 Diprediksi Meningkat USD40 Miliar

Untuk memperoleh persediaan barang, para peritel ini bergantung pada rantai pasok yang kompleks, yakni mencakup produsen, distributor, pedagang grosir. Para pelaku sektor B2B e-commerce tengah mengatasi kerumitan ini, dan menciptakan nilai tambah dengan menyederhanakan jaringan pasokan barang. 

Sejumlah aspek penggerak permintaan turut mendukung sektor B2B e-commerce. Pertama, peritel semakin menyadari bahwa teknologi berperan sebagai solusi potensial yang mengatasi banyak kendala. Di sisi lain, penetrasi teknologi digital di Indonesia telah melesat dari 30 persen pada 2015 menjadi 75 persen pada 2020. 

Peningkatan mutu infrastruktur seperti logistik, berbarengan dengan maraknya usaha-usaha rintisan seperti Ninja Van, Sicepat Ekspres, dan Tiki, juga merupakan aspek penting yang melengkapi ekosistem B2B e-commerce dengan layanan last-mile delivery.

Baca Juga : Berikut Ini 3 Hal Bincang ShopeePay Talk Tentang Bisnis Franchise

Hal ini turut meningkatkan infrastruktur di Indonesia. Sebagai aspek terakhir, Covid-19 telah memicu perubahan perilaku konsumen, sebab perjalanan yang tidak perlu harus dihindari ketika kebijakan pembatasan jarak sosial diberlakukan.

Munculnya B2B E-commerce FMCG

Untuk itu, B2B e-commerce menjadi pilihan yang jelas untuk memasok kembali persediaan barang-barang (stock replenishment). 

Hasilnya, beberapa platform B2B telah bermunculan dengan model-model layanan e-commerce dan marketplace, seperti Grab Kios, GudangAda, GoToko, dan lain-lain. Setiap model layanan tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan bagi kalangan operator. 

Baca Juga : Jabarkan Beragam Manfaat, Tanamduit Ingatkan Untuk Menuju Financial Freedom

Manas Tamotia, Head Southeast Asia Technology Practice L.E.K. Consulting mengatakan, , di Indonesia, pihaknya menilai GudangAda sebagai marketplace terbesar dalam volume transaksi, sedangkan, pelaku e-commerce seperti mitra Tokopedia dan GrabKios memiliki interaksi yang lebih baik pada aplikasi-aplikasinya.

Mereka menguasai keahlian multivertical sehingga mampu menawarkan berbagai layanan di luar B2B e-commerce (misalnya, P2P lending, pembayaran tagihan, pengisian pulsa ponsel). 

“Serupa dengan tren ini, dalam konteks yang lebih luas, kami menyaksikan model marketplace yang sukses berkembang di negara-negara lain seperti Tiongkok dan India dengan volume perdagangan tradisional yang besar,” terangnya.

Baca Juga : Mau Sukses Punya Bisnis UMKM di Tahun Depan? Cek Tips Berikut

Para pelaku sektor B2B e-commerce telah membuat terobosan dalam sektor ritel FMCG di Indonesia, dan berbagai peluang untuk menciptakan valuasi bisnis baru telah bermunculan bagi seluruh pemangku kepentingan. [*]

Exit mobile version