JAKARTA, WARTAEVENT.com – Indonesia harus membangun kredensial sebagai honest broker dalam upaya ikut membantu penyelesaian secara damai konflik di Timur Tengah. Demikian salah satu rekomendasi yang muncul dalam diskusi publik bertajuk “Perang Israel/AS – Iran dan Peluang Peran Indonesia sebagai Bridge Builder” yang diselenggarakan oleh Indonesian Council on World Affairs (ICWA), di Jakarta, 6 Mei 2026.
Diskusi Publik menghadirkan para narasumber yang pakar di bidangnya masing-masing, yakni Dr. Nasir Tamara, wartawan senior pendiri SATUPENA yang menjadi saksi sejarah berdirinya sebuah negara Republik Islam Iran awal tahun 1979 dan penulis buku berjudul “Revolusi Iran”; Marsekal TNI (Pur) Chappy Hakim, KSAU RI tahun 2002-2005; Dr. Dinna Prapto Raharja, pendiri Pusat Kajian dan Pelatihan Kebijakan Synergy Policies; serta Dr. Sutrisno, dosen di Universitas Borobudur dan anggota Tim Ekonomi Prabowo Subianto di bawah kepemimpinan Burhanuddin Abdullah.
Baca Juga : Pak Jusuf Kalla Mengundang ICWA untuk Bahas Situasi Timur Tengah yang Makin Bergejolak
Dalam sambutannya sebagai penyelenggaran Diskusi Publik ini, Ketua ICWA, Dubes Dr. (Hon) Busyra Al Basnur, menyampaikan penghargaannya kepada Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang telah memfasilitasi terselenggaranya kegiatan Diskusi Publik ini. Sebagai wadah untuk menampung pandangan dan aspirasi para pemangku kepentingan kebijakan luar negeri, ICWA hadir sebagai mitra kemlu untuk berkontribusi tidak semata mendiseminasikan kebijakan pemerintah tetapi juga menyampaikan rekomendasi berdasarkan perkembangan yang terjadi guna penguatan kinerja diplomasi Indonesia. Dalam kerangka inilah gagasan Diskusi Publik dilaksanakan.
Dalam memberikan pidato sambutan, Dirjen Asia dan Pasifik (Aspasaf), Dubes Dr. Santo Darmosumarto menyambut baik inisiatif ICWA untuk menyelenggarakan diskusi secara terbuka tentang konflik Amerika-Serikat vs Iran ini. Disebutkan bahwa saat ini kondisi internasional khususnya di wilayah Timur Tengah berada di dalam ketidakpastian dengan resiko eskalasi tinggi meskipun saat ini terdapat upaya gencatan senjata. Penutupan Selat Hormuz diikuti dengan belum berhasilnya upaya perundingan atas mediasi Pakistan namun telah memasuki masa strategic deadlock.
Baca Juga : ICWA Minta Indonesia Tinjau Keanggotaan Board of Peace Trump
Pada saat yang sama Indonesia juga harus melihat dari perspektif ke depan bahwa ruang diplomasi masih terbuka. Ini membutuhkan upaya yang lebih konsisten dan tentunya lebih inklusif. Oleh karena itu kami harapkan bahwa diskusi ini dapat memberikan masukan, dan dapat memberikan perspektif mengena peluang peran Indonesia dalam mendukung upaya stabilitas dan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Kita harus tahu bagaimana Indonesia dapat memberikan peran sebagai bridge builder yang konstruktif.
Dalam hal ini perlu dibahas secara mendalam tiga isu fundamental bagi kepentingan nasional kita, yaitu: Pertama, prospek keberlanjutan proses diplomasi antara AS dengan Iran. Indonesia menyesalkan belum tercapainya kesepakatan namun tetap memandang proses sebagai fondasi penting yang perlu dijaga dan dilanjutkan. Peran mediator termasuk Pakistan menjadi crucial dalam menjembatani perbedaan posisi yang masih tajam. Dimana peran Indonesia?
Kedua, dinamika keamanan maritim dan hukum internasional. Saat ini terdapat perkembangan yang mengkhawatirkan terkait dengan keamanan pelayaran yang menuntut respon diplomatik yang tegas dan terukur. Indonesia secara konsisten menegaskan pentingnya penghormatan terhadap United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982 khususnya terkait dengan kebebasan navigasi dan hak lintas damai. Indonesia terus melakukan komunikasi intensif dengan pihak-pihak terkait untuk menjamin keselamatan pelayaran, termasuk kepentingan energi Indonesia.
Baca Juga : Diskusi Terbuka Nusa Putra University Sukabumi Bersama ICWA Tentang ASEAN
Ketiga, dampak geopolitik terhadap ketahanan nasional. Konflik yang berkepanjangan tentunya menimbulkan tekanan nyata terhadap ekonomi global. Peningkatan harga energi, gangguan rantai pasok serta volatilitas pasar keuangan. Bagi Indonesia situasi ini menuntut langkah aksi yang terukur khususnya dalam menjaga ketahanan energi dan pangan, serta stabilitas ekonomi domestik dari dampak eksternal.
Upaya diplomasi yang dilakukan ditargetkan untuk, diantaranya: menyelamatkan sumber energi dan jalur pasok sebagai bagian dari dukungan terhadap respon kebijakan nasional dalam meredam dampak ledakan harga energi dan pangan.
Baca Juga : ICWA Siap Berkolaborasi dengan Kemlu: Kunjungan Pengurus ICWA ke Wamenlu Havas
Pada saat yang sama Indonesia juga menempatkan perlindungan kepada Warga Negara Indonesia di kawasan Timur Tengah sebagai prioritas utama.
