Travel

Ada Sentuhan Gastronomi Molekular Dalam Masakan Naniura Khas Danau Toba

Warta Event, Toba– Setiap wilayah di Indonesia pasti memiliki masakan pusaka yang khas, begitu pula dengan masakan khas masyarakat Batak yang berada di Danau Toba. 

Tempat wisata yang termasuk dalam 10 destinasi pariwisata prioritas dikenal dengan menu masakan Naniura. Masakan khas masyarakat Danau Toba inilah yang ditawarkan ketika redaksi Warta Event berkunjung di Hotel Patra Parapat. Kami pun tertarik dengan cara memasaknya yang cukup unik, kaya bumbu dan bisa dibilang ada sentuhan proses gastronomi molekular.

Naniura menjadi makanan yang istimewa dan berbeda dari masakan tradisonal daerah lainnya. Keunikan dari masakab ini, bisa matang tanpa dimasak. Kendati jika dlihat material makanan ini berupa ikan mas, yang kerap dimasak dengan cara digoreng atau dibakar.

Mengapa dikatakan bisa matang tanpa dimasak? Inilah teknik kimiawi dalam kuliner. Ikan yang direndam dengan asam jungga selama 5 jam dapat mengubah ikan mentah menjadi matang, baunya pun terasa tak amis. Keasamannyalah yang bersifat antimikroba membuat ikan menjadi matang.

Sebaliknya alasan hanya Ikan mas yang digunakan dalam masakan Naniura, karena ada filosofinya. Dalam setiap adat batak ikan mas selalu disertakan sebagai persembahan, mulai dari kelahiran, menikah, hingga kematian. Ini sebagai wujud atau simbol berkat kehidupan. Biasanya dalam adat ikan mas yang diberikan dalam jumlah ganjil. Satu ekor untuk pasangan menikah, tiga ekor untuk kelahiran, lima ekor untuk orang tua yang bercucu, tujuh untuk pemimpin dikalangan batak.

Cara mengolah masakan Naniura, pertama ikan mas yang tampak segar dibersihkan sisiknya. Lalu ikan dibelah dua, bagian dalam hati ikan dibuang. Tulang-tulang atau duri ikan juga dibersihkan, sehingga yang tinggal daging dan kepala. Setelah ikan mas bersih, letakkan di panci taburi dan aduk rata dengan perasan asam jungga. Sekitar seperempat gelas, asam disisakan, nantinya dituangkan ke bumbu yang sudah diulek sampai halus.

Ikan yang sudah ditaburi asam dibiarkan, sampai nantinya warna ikan berubah. Bahan bumbu Naniura ternyata tidak terlalu sulit diperoleh, kecuali andaliman yang memang menjadi ciri khas bumbu masyarakat Batak.

Bahan seperti kunyit, jahe, kemiri, kencur, cabe merah, cabe rawit (jika ingin lebih pedas), bawang merah, bawang putih dan andaliman disangrai sampai layu dan mengeluarkan aroma harum. Selain itu bawang Batak, tomat dan daun selada juga dimasak untuk dijadikan uram. Bumbu yang sudah disangrai selanjutnya diulek di atas cobekan batu. Semua bahan diulek sampai halus.

Awalnya, masakan Naniura ini adalah makanan para raja Batak, karena rasanya yang khas, dan maknanya yang tinggi. Bahkan dulu sebelum diganti dengan ikan mas, masyarakat Danau Toba menggunakan  ikan Batak. Jenis ikan ini memang salah satu kekayaan fauna yang ada di Danau Toba.

Ya, karena hanya bisa ditemukan di Danau Toba, Wilayah tempat orang Batak tinggal, ikan endemik maka dikenal dengan sebutan Ikan Batak. Sayangnya, ikan ini kini terancam punah.

Kalau dilihat betapa uniknya masakan Naniura, ini akan menjadi point value bagi wisatawan Danau Toba. Potensi masakan Naniura tidak kalah istimewa dari destinasinya. Tinggal mengemas menjadi kekuatan yang memiliki commercial value, bukan hanya cultural value. 

MenparArief Yahya pun pernah menjelaskan dalam porfolio bisnis pariwisata Indonesia, 60% cultural, 35% nature dan 5% manmade. Dari 60% culture itu, wisata belanja dan kuliner itu 45% nya sendiri.