WARTAEVENT.com — Jakarta. Pameran lukisan yang diinisiasi oleh MATALESOGE hospitABLElity Academy dan ArtSphere Gallery bertema ‘Beyond Boundaries a Canvas of infinite Abilities’ ini memberikan ruang kepada dua seniman berbakat penyandang disabillitas autisme dan down syndrome.
Pameran ‘Beyond Boundaries a Canvas of infinite Abilities’ ini digelar dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome (21 Maret) dan Hari Autisme (2 April) sedunia.
Baca Juga : Peringati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, ARTOTEL Suites Mangkuluhur Hadirkan Pameran Seni ‘Tombo Ati’
“Kedua pelukis ini mempunyai perasaan yang sama seperti kita. Tema yang diangkat dalam pameran ini, ‘Beyond Boundaries a Canvas of infinite Abilities’ ini memiliki arti khusus,” kata Tommy Hermanses, Founder/CEO MATALESOGE Special Needs Services Center, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (03//4/2024).
Lewat pameran ini lanjut Tommy, adalah mewakili perasaan mereka, dan bentuk untuk dihargai karya-karyanya dan ingin berupaya sebaik-baiknya. Kedua pelukis muda ini ingin menjadi yang terbaik walau dengan segala keterbatasannya.
“Beyond Boundaries” kedua pelukis ini berani menunjukkan kecintaan pada seni lukis. Salah satu karya pelukis muda penyandang down syndrome, Diego Luister Berel, diakui internasional dengan menang juara pertama kompetisi bertema” Artfusion” di Pameran The Holy Art Gallery, London pada 2022 lalu,” ujar Tommy.
Baca Juga : Terinspirasi dari Benda Sederhana, Dua Perupa Ini Gelar Pameran Seni Bertajuk ‘SEKUEL’ di ARTOTEL Yogyakarta
Sedangkan, Tengku Omar Athallah, anak dari artis Cindy Fatikasari & Teuku Firmansyah, menurut Cindy, perkembangan Omar sampai dengan hari ini tentunya tidak mungkin terjadi tanpa peran yang besar dari guru-guru tercinta, yang sudah begitu sabar dan tulus mengajar dan mendampingi Omar.
“Terima kasih Tommy Hermanses and Safrie Effendi. Kondisi Omar saat ini tidak membuatnya berkecil hati, Cindy pun menambahkan, “Omar sudah siap untuk memulai perjalanannya yang lain,” ucap Cindy Fatikasari.
Sementara Maya Sujatmiko, pemilik ArtSphere Gallery, mengaku bangga bisa memamerkan karya seniman spesial muda yang sangat berbakat. Sebuah kehormatan juga menjadi bagian dan platform dari perjalanan artistik dua seniman penyandang autis dan down syndrome.
Baca Juga : Jajar Wanci, Pameran dari Enam Seniman Berbakat dari Kota Bandung di de Braga by ARTOTEL – Bandung
“Memang dalam seni tidak ada batasan untuk berkarya dan dengan seni ini kita bisa berbicara dalam satu Bahasa yaitu kebersamaan dan kesetaraan. Sukses terus Diego dan Omar, embrace your bright future,” Maya bangga.
Begitu pula Safrie Effendie, Pengajar Visual Art di MATALESOGE hospitABLElity, mengatakan penyandang autis dan down syndrome kerap mendapat pandangan negatif, tidak sedikit dari mereka dijauhkan masyarakat.
Padahal, di balik kekurangan tersebut terdapat imajinasi yang tinggi, layaknya seniman profesional. Karya seni yang terlukis di atas kanvas memiliki nilai artistik bentuk ekspresi isi hati, sebagai cara penyandang autis/down syndrome berkomunikasi.
Baca Juga : Empat Seniman Fotografi Bertemu di Pameran Berjudul ‘Supposes’ di ARTOTEL ARTSpace
“Melalui lukisan, kita dapat menyelami daya pikiran mereka. Untuk membuat karya lukis ini mereka hanya butuh waktu 15 hingga 30 menit. Imajinasi anak autis dan down syndrome lebih tinggi dari anak regional. Sudut pandang yang diciptakan juga berbeda,” jelas Safrie. (*)
- Editor : Fatkhurrohim