WARTAEVENT.com – Jakarta. Presiden Joko Widodo, saat meluncurkan Program Literasi Digital Nasional (20/05/2021) lalu menyatakan, Masyarakat Indonesia harus meminimalkan konten negative dan terus membanjiri ruang digital dengan konten-konten positif.
Kecakapan digital harus ditingkatkan dalam masyarakat agar mampu menampilkan konten kreatif mendidik yang menyejukkan dan menyerukan perdamaian.
Sebab, tantangan di ruang digital semakin besar seperti konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, radikalisme berbasis digital dan banyak lainnya.
Baca Juga : Menuai Manfaat dari Dunia Digital, Ini Caranya
Untuk itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi menggelar webinar Literasi Digital untuk Wilayah Jawa Barat, hari ini Sabtu (29/05/2021).
Lestari Nurhajati, Vice Rector IV for Innovation and Business LSPR Communication and Business Institue mengatakan, keamanan dalam bermedia digital yang utama ialah menjaga identitas digital.
Masyarakat harus memahami mana indentitas pribadi yang terlihat dan tidak terlihat. Begitu juga dengan data diri, mana data umum dan mana yang khusus sehingga tidak perlu dibagikan di dunia digital.
“Jangan pernah menggunggah foto KTP sebab dapat disalahgunakan. Kode OTP, pin juga two factor Authentication di platform e-commerce hanya kita sendiri yang tahu tidak untuk diberitahukan kepada orang lain,” ungkapnya.
Kejahatan digital lainnya ialah pembobolan data, ini termasuk di luar dari kesalahan pengguna seperti yang pernah terjadi pada pelanggan Tokopedia dan baru-baru ini data masyarakat Indonesia yang mengikuti BPJS Kesehatan konon diperjualbelikan di situs online.
Pegiat Literasi Digital, Moch Latif Haidah menyebut, salah satu hal yang harus dilakukan para pengguna internet di Indonesia ialah bagaimana mereka harus berinteraksi dengan tetap menegakkan sopan santun.
Baca Juga : Ekonomi Digital Indonesia Diproyeksikan Bernilai US$124 Miliar, Kemenparekraf Merilis BEKUP di 5 Kota Besar
“Masyarakat merasa dapat berkomentar apapun karena tidak bertatap muka secara langsung padahal ada jejak digital yang tidak akan hilang sampai kapanpun,” ungkapnya.
Kesopanan online itu diartikan kesopanan yang dilakukan saat sedang berada dalam dunia digital dalam hal memposting sesuatu, berinteraksi dengan sesama pengguna hingga aktivitas jual beli.
Netizen Indonesia sudah dikenal sebagai netizen paling tidak sopan di dunia. Sebab, menurut Latif, netizen Indonesia tidak akan segan-segan untuk berkomentar langsung di akun media sosial pihak yang sudah mengecewakan mereka. Sebut saja seperti akun Instagram Badminton World Federation (BWF) saat tim Indonesia didiskualifikasi saat ajang All England atau pecatur dunia Gothamcess.
Latif mengatakan, masyarakat jangan mudah tersulut dan bereaksi ketika ada sesuatu yang viral. Agar menjadi warga net yang sopan, masyarakat harus paham tipe media sosial, harus memiliki pelindung anti hoax dan beretika saat berinteraksi.
Jika dilihat dari faktor sosial Sosiolog Universitas Indonesia, Devie Rahmawati menjelaskan, ada budaya digital yang kini menjangkiti masyarakat sebuah budaya baru yang bertolak belakang dengan budaya yang selama ini ada di kehidupan sehari-hari.
Baca Juga : Transformasi Digital dan Culture Mengantarkan BRI Raih 7 Penghargaan dalam Sepekan
Karakteristik masyarakat di era digital, mereka muda namun bangkrut. Sebab, kita hidup di era di mana attention culture menjadi budaya masyarakat, semua orang mencari perhatian. Akibatnya banyak yang iri melihat ada orang liburan dan lainnya.
“Akibatnya, mereka menjadi tidak mampu mengelola keuangannya dengan baik, yang terjadi generasi muda tapi sudah banyak terlilit hutang dan sebagainya demi memenuhi gaya hidup,” jelasnya. [*]
- Penulis : Oeday Abdullah
- Editor : Fatkhurrohim