DR. Hassan Wirajuda: “Prof. Ahmad Subardjo Adalah Pejuang Kemerdekaan Bangsa dan Salah Satu Pendiri Bangsa

Buku otobiografi Ahmad Subardjo yang diluncurkan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta pada Sabtu (29/8/2026). Foto: Said T. Subakti.

Mantan Menlu Dr. Hassan Wirajuda:  ”Buku ”Kesadaran Nasional” adalah catatan figur pejuang kemerdekaan bangsa dan salah satu pendiri bangsa.

Peluncuran buku dihadiri Dr. Hassan Wirajuda,Menteri Luar Negeri RI periode 2001-2009 sebagai narasumber utama. Hassan juga dipercaya menulis kata pengantar dalam buku autobiografi Ahmad Subardjo tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Hassan mengulas isi buku mengenai peran Ahmad Subardjo sebagai Menteri Luar Negeri pertama dalam membangun diplomasi  Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

Menurut Hassan, salah satu hal yang menarik dari buku tersebut adalah proses Ahmad Subardjo dalam membentuk identitas keindonesiaannya.

Baca Juga : Bincang Santai Tentang Hubungan India – Indonesia di Kediaman Wakil Dubes India

“Kalau saya membaca, menafsirkan judul buku Kesadaran Nasional, first and foremost adalah bagaimana Pak Barjo mentransformasi diri menjadi Indonesia,” ujar Hassan. Hassan juga menjelaskan kiprah Ahmad Subardjo sebagai Menteri Luar Negeri pertama berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Meski demikian, terdapat sejumlah tugas besar yang harus dijalankan pada periode awal berdirinya Republik Indonesia.

Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda memberikan kata sambutan dalam acara peluncuran Otobiografi Ahmad Subardjo di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/8/2026). Foto: Said Subakti.

Dr. Hassan Wirajuda menambahkan bahwa makna pertama adalah ”kesadaran Keindonesiaan”. ”Nama asli Bapak Ahmad Subardjo adalah Teuku Abdul Manaf, keturunan Aceh-Jawa”, ujar Hassan Wirajuda.  Ditambahkan bahwa pengalaman hidup lintas etnis, agama, dan budaya menumbuhkan identitas nasional sejak kecil. Pendidikan di Jakarta dan diskriminasi Belanda mempertajam perbedaan “kita” vs “penjajah”.

”Keluwesannya bermain biola dan mengikuti Teosofi membuatnya mampu menjembatani pribumi dan Belanda”, kata Hassan Wirajuda.  Studi Hukum di Leiden dan Kongres Anti Imperialisme 1927-1928 memperkuat pemahaman Ahmad Subardjo tentang prinsip self determination.

Baca Juga : ICWA Siap Berkolaborasi dengan Kemlu: Kunjungan Pengurus ICWA ke Wamenlu Havas

Soebardjo juga berperan kritis saat Rengasdengklok. Sebagai guru para pemuda, mediasi beliau mencegah bentrok dengan Jepang dan meloloskan Proklamasi 17 Agustus 1945. Ia anggota BPUPKI dan Tim Sembilan perumus Pancasila.

“Tidak banyak dalam masa 2,5 bulan, untuk beliau punya kiprah luas, padahal tugas besar, satu, menyebarluaskan berita tentang proklamasi seluruh dunia, yang kedua memulai langkah oleh pengakuan dunia atas Republik Indonesia yang baru didirikan,” lanjutnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *