DR. Hassan Wirajuda: “Prof. Ahmad Subardjo Adalah Pejuang Kemerdekaan Bangsa dan Salah Satu Pendiri Bangsa

Buku otobiografi Ahmad Subardjo yang diluncurkan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta pada Sabtu (29/8/2026). Foto: Said T. Subakti.

Dubes Hamzah Thayeb: Ajaran dan warisan dari Menlu RI Pertama Ahmad Subardjo harus diketahui dan dipahami oleh generasi muda

Menurut Dubes Hamzah Thayeb Menlu Ahmad Subardjo adalah salah seorang perintis kemerdekaan yang pengabdiannya terus berlanjut menjadi Menteri Luar Negeri.

”Beliau membangun diplomasi Indonesia, menjalankan tugas kenegaraan dan diplomatik, mengembangkan pendidikan diplomasi serta membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada generasi berikutnya,” ujar Dubes Hamzah Thayeb yang pernah menjabat sebagai Dubes di Inggris dan Australia ini.  

”Ajaran dan warisan dari Menlu RI pertama ini harus diketahui dan dipahami oleh para diplomat dan generasi muda Indonesia”, kata Dubes Hamzah.

Ide mengenai Museum Diplomasi RI

Dalam sesi tanya jawab Dubes Nazaruddin Nasution menyarankan agar pemerintah mendirikan Musium Diplomasi RI. Ide ini menarik mengingat usulan ini setidaknya ada empat 4 poin utama:

Pertama, untuk melestarikan sejarah dan warisan Diplomasi Indonesia agar jejak para peletak dasar diplomasi seperti Mr. Ahmad Subardjo, H. Agus Salim, dan tokoh-tokoh lainnya tidak  hilang. dokumen, naskah perundingan, foto, sampai mesin tik pertama Kemlu di Cikini bisa diselamatkan dan dipamerkan. Menjadi Sumber Edukasi & Literasi Diplomasi Khususnya untuk generasi muda, mahasiswa, dan calon diplomat

Dubes Hamzah Thayeb dan para diplomat senior; Dubes Prof. Makarim Wibisono, Dubes Bagas Hapsoro, Dubes Prayono Atiyanto dan Dubes Dr. M. Hery Saripudin hadir pada acara peluncuran buku ”Ksadaran Nasional”, Otobiografi Ahmad Subardjo di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/8/2026). Foto: Said Subakti.

Kedua, lewat museum, mereka bisa belajar bahwa diplomasi itu bukan cuma soal perundingan. Tapi juga perjuangan, strategi, dan “perang urat syaraf” mempertahankan kedaulatan.

Ketiga, mirip tujuan peluncuran buku ”Kesadaran Nasional” tadi. Memperkuat Diplomasi Publik & Nation Branding Museum bisa jadi destinasi wisata sejarah sekaligus alat diplomasi. Tamu negara, duta besar, dan masyarakat dunia bisa lihat langsung bagaimana Indonesia berjuang sampai mendapat pengakuan, memperjuangkan Irian Barat, sampai konsepsi negara kepulauan, dll.

Baca Juga : Dubes Phil Nathan Taula: Indonesia Adalah Mitra Penting di Kawasan Pasifik

Keempat, menumbuhkan kebanggaan & DNA diplomat sebagaimana disampaikan Dirjen IDP Heru Subolo: “Ahmad Subardjo adalah bagian dari DNA diplomasi Indonesia”. Museum jadi tempat menanamkan nilai: cinta tanah air, integritas, dan pengabdian. Agar diplomat hari ini dan nanti ingat dari mana mereka berasal. Singkatnya: Museum Diplomasi RI tujuannya = mengenang masa lalu, mendidik masa kini, dan menginspirasi masa depan diplomasi Indonesia. Hal demikian juga akan membuat dunia lebih paham mengenai perjuangan diplomasi Indonesia.

Hadir dalam acara peluncuran buku ini putri kelima Ahmad Subardjo, Dewi Setiyobudiarti, serta Meutia Farida Hatta Swasono selaku Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia. (*)

  • Penulis : Said T. Subakti
  • Editor : Fatkhurrohim

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *